Kemendag dorong pelaku usaha maksimalkan pasar Inggris pasca-Brexit

Kemendag dorong pelaku usaha maksimalkan pasar Inggris pasca-Brexit

Perajin menata keramik tanah liat di CH Pottery Studio dan Gallery, Bandung, Jawa Barat, Rabu (14/3). Keramik ini dijual ke beberapa negara seperti Inggris, Amerika, Kanada, Australia, Jepang, Spanyol, Italia dan Belanda . ANTARA JABAR/M Agung Rajasa/agr/18.

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perdagangan mendorong para pelaku usaha di Indonesia untuk memaksimalkan pasar Inggris pasca-Brexit, atau keluarnya Britania Raya dari Uni Eropa, dengan peningkatan ekspor untuk tiga produk perkebunan RI yakni kopi, teh, dan kakao.

“Kopi, teh, termasuk kakao, adalah hal-hal yang diinginkan oleh buyer, terutama di pasar Inggris. Saya kira ini menjadi sebuah keharusan agar produk kita mendapatkan akses yang cukup baik sehingga penjualannya juga akan meningkat,” kata Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kasan saat menghadiri seminar web bertajuk ‘Strategi Peningkatan Perdagangan Produk Kopi, Teh, dan Kakao ke Pasar Inggris’, Kamis.

Kasan menyampaikan, pandemi COVID-19 berdampak signifikan terhadap perekonomian hampir di seluruh negara, tanpa terkecuali Inggris, namun, dengan pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Inggris, maka Indonesia perlu menangkap peluang pemulihan ekonomi di Inggris.

“Dengan pelonggaran-pelonggaran PSBB yang terjadi dan pemulihan ekonomi, menjadi sebuah peluang bagi pelaku usaha untuk memaksimalkan pasar Inggris,” ujarnya.


Baca juga: Indonesia kembangkan ekspor industri kreatif ke Inggris
 

Menurut dia, selain hal-hal yang bersifat tarif, beberapa persoalan terkait tantangan non tarif juga perlu diperhatikan, di antaranya yakni masalah lingkungan, hingga yang tidak kalah penting adalah cerita atau filosofi dari produk yang dipasarkan.

Kasan menambahkan, sebagai negara yang masuk dalam empat besar penghasil kopi dunia, pelaku usaha di Indonesia juga didorong untuk meningkatkan ekspor komoditi kopinya ke Inggris Raya.

“Kita masih banyak kesempatan, karena dari data yang ada, kita masih kalah dengan Vietnam sebagai pemasok kopi ke Inggris,” katanya.

Sementara itu, Direktur Pengembangan Produk Ekspor Kemendag Olvy Andrianita menyampaikan bahwa neraca perdagangan Indonesia dan Inggris mengalami surplus untuk RI sebesar 340,6 juta dolar AS dengan nilai ekspor 1,3 miliar dolar AS dan impor 942,5 juta dolar AS.

Baca juga: Produk organik Indonesia berpotensi isi pasar Inggris

RI merupakan pemasok kopi terbesar ke-11 ke Inggris dengan nilai ekspor 25,86 juta dolar AS pada 2020 yang memiliki pangsa pasar 2,45 persen. Adapun negara pesaingnya yakni Perancis dengan pangsa pasar 14,9 persen, Jerman (12,8 persen), Brazil (11,7 persen), Vietnam (10,9 persen), dan Italia (6 persen).

Sedangkan untuk produk teh, RI merupakan pemasok terbesar ke-20 ke Inggris dengan nilai ekspor 1,88 juta dolar AS atau memiliki pangsa pasar 0,53 persen dengan negara pesaing utama Kenya yang memenuhi pangsa pasar 42,4 persen dan India (14 persen).

Kemudian, untuk produk kakao, Indonesia merupakan pemasok terbesar keenam dengan nilai ekspor 10,7 juta dolar AS atau memenuhi 1,56 persen pasar kakao Inggris. Adapun pesaing utama untuk produk kakao yakni Pantai Gading yang memenuhi pangsa pasar 38,5 persen dan Belanda (24,4 persen).


Baca juga: Perjanjian FLEGT Indonesia-Inggris antisipasi dampak Brexit

Baca juga: Inggris buka program dukungan pengusaha perempuan Indonesia

Pewarta: Sella Panduarsa Gareta
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Kalsel ekspor perdana porang ke Jepang

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar