BMKG ungkap empat penyebab Jakarta alami hujan ekstrem

BMKG ungkap empat penyebab Jakarta alami hujan ekstrem

Tangkapan layar - Prakiraan angin lapisan 3000 feet yang dimiliki BMKG pada pukul 07.00 WIB, Sabtu (20/2/2021). ANTARA/Virna P Setyorini.

dipengaruhi terbentuknya daerah tekanan rendah di Australia Utara
Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati dalam keterangan pers daring di Jakarta, Sabtu, mengungkap empat penyebab wilayah Jakarta mengalami hujan ekstrem pada periode 19 sampai dengan 20 Februari 2021 hingga menimbulkan banjir.

“Curah hujan ekstrem terjadi dipengaruhi kondisi tanggal 18-19 Februari ada seruakan udara dari Asia yang signifikan menyebabkan peningakatan curah hujan di Indonesia bagian barat,” kata Dwikorita mengungkap penyebab pertama hujan ekstrem terjadi di beberapa wilayah Jakarta.

Kedua, ada pembelokan dan pertemuan angin dari arah utara yang kebetulan membelok tepat di Jabodetabek. Saat membelok, angin melambat sehingga ada pembentukan intensitas awan hujan yang kemudian terkondensasi menjadi hujan tinggi.

Baca juga: Banjir di Benhil capai 70 cm hingga semeter
Baca juga: Jalan Jatinegara Barat tersendat akibat banjir


Bertemunya angin dari utara dengan angin dari arah Samudera Hindia sehingga terhalang untuk menerobos ke selatan, membuat angin membelok ke timur dan terjadi perlambatan tepat di atas Jabodetabek.

Perlambatan itu yang, menurut Dwikorita, menjadikan intensitas awan hujan akhirnya terkondensasi membentuk hujan.

Faktor ketiga yang menyebabkan hujan ekstrem di beberapa wilayah Jakarta dan hujan lebat hingga sangat lebat di wilayah Jabodetabek yakni adanya tingkat labilitas dan kebasahan udara sebagian besar wilayah barat Jawa yang tinggi, sehingga mengakibatkan pembentukan awan hujan di Jabodetabek.

Baca juga: Sejumlah ruko di Teluk Gong tutup karena banjir
Baca juga: Kantor Kelurahan Bangka dikepung banjir setinggi 1,5 meter


Terakhir, ia mengatakan terpantau adanya pusat tekanan rendah di Australia bagian utara yang membentuk pola konvergensi sebagian besar di Pulau Jawa. Pusat tekanan rendah itu diperkirakan masih akan berlangsung hingga April mendatang.

“Jadi fenomena di Pulau Jawa, ada pertemuan angin itu dipengaruhi terbentuknya daerah tekanan rendah di Australia Utara yang membentuk pola konvergensi di Jawa dan berkontribusi menimbulkan awan hujan di sebagian Jawa dan Jabodetabek,” ujar Dwikorita

Sekarang sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Jabodetabek, masih ada di puncak musim hujan. Jadi hujan sedang hingga lebat diperkirakan masih akan terjadi hingga akhir Februari hingga awal Maret 2021.

BMKG mencatat wilayah Halim Perdanakusuma, Sunter Hulu, Lebak Bulus dan Pasar Minggu mengalami hujan ekstrem pada rentang pukul 07.00 WIB 19 Februari hingga pukul 07.00 WIB 20 Februari dengan intensitas curah hujan tertinggi terjadi di Pasar Minggu mencapai 226 milimeter (mm) per hari. Sejumlah wilayah Jabodetabek mengalami banjir pascahujan ekstrem yang terjadi.

Baca juga: Waspadai banjir, BMKG prediksi hujan lebat bisa terjadi di Jabodetabek
Baca juga: Terminal Kampung Rambutan disergap banjir


Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021

BMKG ingatkan cuaca ekstrem di pantai barat hingga selatan Aceh

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar