Peneliti dorong gencarkan sosialisasi vaksin COVID-19

Peneliti dorong gencarkan sosialisasi vaksin COVID-19

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat rakor virtual persiapan vaksinasi tahap kedua bersama Menteri Kesehatan RI dan beberapa gubernur dari Gedung Pakuan Bandung Senin (22/2/2021).  ANTARA/Dok Humas Pemprov Jabar.

Jakarta (ANTARA) - Peneliti bidang sosial The Indonesian Institute, Nisaaul Muthiah mendorong pemerintah agar menggencarkan sosialisasi vaksin COVID-19, sehingga meningkatkan partisipasi masyarakat mengikuti imunisasi.

"Masih banyaknya jumlah warga yang tidak bersedia divaksin, salah satunya karena kurangnya sosialisasi dari pemerintah mengenai tingkat keamanan vaksin tersebut," kata Nisa kepada wartawan di Jakarta, Selasa.

Baca juga: Kemenag apresiasi vaksinasi COVID-19 tokoh lintas agama

Ia mengatakan banyak warga yang kurang mengetahui informasi mengenai vaksin. Selain itu, tidak sedikit warga yang menerima informasi vaksin yang tidak pasti kebenarannya sehingga ragu dengan vaksin.

Untuk itu, Nisa mendorong sosialisasi vaksin secara lebih masif dengan berbagai saluran informasi, seperti televisi dan media sosial. Hal tersebut dilakukan agar warga mendapat informasi yang jelas mengenai vaksin langsung dari pemerintah.

Kepercayaan masyarakat terhadap manfaat vaksinasi, kata dia, juga agar semakin masif dalam melibatkan tokoh lokal atau figur yang dekat dengan masyarakat.

"Hal tersebut dapat menjadi langkah yang efektif karena masyarakat akan cenderung lebih percaya pada tokoh atau orang-orang terdekat mereka," katanya.

Selain faktor sosialisasi, katanya, keengganan masyarakat divaksin juga dipengaruhi latar belakang sosial, budaya, politik dan lain-lain yang harus diatasi para pemangku kepentingan.

Pekan ini proses vaksinasi masyarakat terhadap COVID-19 memasuki tahap kedua. Vaksinasi tahap kedua ditujukan kepada kelompok masyarakat yang rentan terpapar COVID-19, karena profesinya seperti pedagang, tenaga pendidik, pelaku wisata, petugas pelayanan publik, tokoh agama dan lain-lain.

Selain menyasar kelompok-kelompok tersebut, proses vaksinasi tahap kedua ini juga ditujukan untuk lansia di atas 60 tahun.

Baca juga: Masjid Istiqlal jadi lokasi vaksinasi massal bagi tokoh lintas agama

Baca juga: Perlu cermat atur regulasi vaksinasi mandiri

Baca juga: Kemarin, kerusakan infrastruktur akibat banjir hingga vaksinasi lansia


Hasil survei Indikator Politik Indonesia (IPI) menunjukkan hanya 55 persen masyarakat yang mau divaksin COVID-19, 41 persen tidak bersedia divaksin dan sisanya mengaku tidak tahu dan tidak menjawab kesediaan divaksin.

Pewarta: Anom Prihantoro
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Vaksin Sinovac 94 persen efektif cegah COVID-19 bergejala

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar