Riset Skotlandia: Vaksin COVID kurangi risiko penyakit parah

Riset Skotlandia: Vaksin COVID kurangi risiko penyakit parah

Menteri Pertama Skotlandia Nicola Sturgeon mengunjungi Rumah Sakit Umum Western di tengah penyebaran penyakit virus corona (COVID-19) di Edinburgh, Skotlandia, Britain, Senin (7/12/2020). ANTARA FOTO/REUTERS/Russell Cheyne/Pool/hp/cfo (REUTERS/RUSSELL CHEYNE)

Data awal ini sangat menjanjikan
London (ANTARA) - Kampanye vaksinasi Skotlandia secara nyata mengurangi risiko rawat inap COVID-19, menunjukkan bahwa baik vaksin Pfizer-BioNTech maupun Oxford-AstraZeneca sangat ampuh dalam mencegah infeksi parah, berdasarkan temuan riset awal pada Senin (22/2).

Hasil riset yang mencakup seluruh 4,5 juta populasi Skotlandia menunjukkan bahwa pekan keempat setelah dosis pertama, vaksin Pfizer dan AstraZeneca mengurangi risiko rawat inap 85-94 persen.

"Hasil ini sangat menggembirakan sekaligus memberi kami alasan yang luar biasa untuk merasa optimistis di masa depan," kata profesor di Universtas Edirburg, Aziz Sheikh, yang juga memimpin riset tersebut.

Baca juga: Pulang berlatih dari Dubai, satu pemain Celtic terjangkit COVID-19
Baca juga: Pertandingan Ceko-Skotlandia berlanjut meski ada kekhawatiran COVID-19


Sheikh memperingatkan bahwa hasil itu masih awal dan belum ditinjau oleh rekan sejawat dari peneliti independen. Namun, ia mengatakan kepada media: "Saya sangat senang. Kini kami mempunyai bukti nasional ... bahwa vaksinasi memberikan perlindungan terhadap rawat inap COVID-19."

Ia berharap negara lain, yakni konsumen vaksin yang sama dan yang memiliki strategi peluncuran serupa - seperti Inggris dan Wales - akan merasakan dampak positif yang sama dalam mengurangi jumlah pasien rawat inap.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson pada Senin akan mengumumkan bagaimana ia akan melonggarkan penguncian saat kasus COVID-19 menurun, yang dibantu oleh salah satu peluncuran vaksin tercepat di dunia.

Pakar independen menyambut temuan Skotlandia.

"Tujuan utama dari semua kampanye vaksinasi adalah untuk mencegah seseorang menderita penyakit parah dan untuk menyelamatkan nyawa," kata Arne Akbar, presiden British Society for Immunology (BSI). "Data awal ini sangat menjanjikan."

Data awal tersebut dikumpulkan sejak 8 Desember hingga 15 Februari, ketika 1,14 juta dosis vaksin diberikan dan 21 persen dari populasi Skotlandia menerima dosis pertama.

Di antara mereka yang berusia 80 tahun ke atas - salah satu kelompok paling berisiko - vaksinasi dikaitkan dengan 81 persen penurunan risiko rawat inap pada minggu keempat, ketika hasil kedua vaksin dipadukan.

Sumber: Reuters

Baca juga: Langgar protokol COVID-19, dua pemain Rangers disanksi tujuh laga
Baca juga: WNI di Skotlandia galang dana untuk penanganan COVID-19 di Indonesia

Penerjemah: Asri Mayang Sari
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Satgas COVID-19: Belum ada sindikat vaksin palsu di Indonesia

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar