Parlemen Belanda: Perlakuan China terhadap Uighur adalah genosida

Parlemen Belanda: Perlakuan China terhadap Uighur adalah genosida

Pelajar dari etnis Uighur mempelajari Alquran dan Hadis di Institut Islam Xinjiang di kampus utama di Kota Urumqi, Daerah Otonomi Xinjiang, Kamis (03/01/2019). Lembaga tersebut difasilitasi pemerintah China untuk mencetak para imam yang bebas dari pengaruh radikalisme dan ektremisme. ANTARA FOTO/M. Irfan Ilmie.

Amsterdam (ANTARA) - Parlemen Belanda pada Kamis mengeluarkan mosi tidak mengikat yang mengatakan perlakuan terhadap minoritas Muslim Uighur di China sama dengan genosida, langkah pertama yang dilakukan oleh sebuah negara Eropa.

Aktivis dan pakar hak asasi manusia mengatakan setidaknya satu juta Muslim ditahan di kamp-kamp di wilayah barat terpencil Xinjiang.

Para aktivis dan beberapa politisi Barat menuduh China menggunakan penyiksaan, kerja paksa, dan sterilisasi.

Sebelumnya, Kanada awal pekan ini mengeluarkan resolusi yang menyebut perlakuan China terhadap Uighur sebagai genosida.

Namun, China menyangkal adanya pelanggaran hak asasi manusia di Xinjiang dan mengatakan kamp-kampnya menyediakan pelatihan kejuruan dan dibutuhkan untuk melawan ekstremisme.

"Sebuah genosida terhadap minoritas Uighur sedang terjadi di China," kata mosi dari Parlemen Belanda, yang tidak secara langsung mengatakan bahwa pemerintah China bertanggung jawab.

Kedutaan Besar China di Den Haag mengatakan pada Kamis bahwa setiap tuduhan tentang genosida di Xinjiang adalah "kebohongan langsung" dan parlemen Belanda "dengan sengaja mencoreng China dan mencampuri urusan dalam negeri China."

Mosi parlemen Belanda itu mengatakan bahwa tindakan pemerintah China seperti "tindakan yang dimaksudkan untuk mencegah kelahiran" dan "kamp hukuman" berada di bawah Resolusi PBB 260, yang umumnya dikenal sebagai konvensi genosida.

Partai konservatif VVD Perdana Menteri Mark Rutte menentang resolusi tersebut.

Baca juga: Tolak investigasi, Xinjiang undang asing

Baca juga: Xinjiang kerahkan helikopter militer terbaru di tengah isu minor


Perhatian Besar
Menteri Luar Negeri Stef Blok mengatakan pemerintah Belanda tidak mau menggunakan istilah genosida, karena situasinya belum diumumkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa atau pengadilan internasional.

"Situasi warga Uighur sangat memprihatinkan," kata Blok kepada wartawan setelah mosi itu disahkan, seraya menambahkan bahwa Belanda berharap untuk bekerja sama dengan negara lain mengenai masalah tersebut.

Penulis mosi tersebut, anggota parlemen Sjoerd Sjoerdsma dari Partai D-66, telah secara terpisah mengusulkan untuk melobi Komite Olimpiade Internasional untuk memindahkan Olimpiade Musim Dingin 2022 dari Beijing.

"Mengakui kekejaman yang terjadi terhadap orang Uighur di China apa adanya, yaitu genosida, mencegah dunia untuk melihat ke arah lain dan memaksa kami untuk bertindak," katanya kepada Reuters.

Dalam pernyataan di situs webnya, Kedutaan Besar China di Den Haag mengatakan populasi Uighur di Xinjiang telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, menikmati standar hidup yang lebih tinggi, dan harapan hidup yang lebih lama.

"Bagaimana Anda bisa menyebut ini genosida? Masalah yang berhubungan dengan Xinjiang tidak pernah tentang hak asasi manusia, etnis atau agama, tetapi tentang memerangi terorisme kekerasan," kata pernyataan Kedubes China.

Duta Besar China untuk PBB di Jenewa pada Rabu (24/2) menuduh kekuatan Barat menggunakan masalah Uighur untuk mencampuri urusan dalam negeri negaranya.

Sumber : Reuters

Baca juga: Otoritas Xinjiang gelar temu media dan lulusan kamp vokasi Uighur

Baca juga: Inggris akan minta China beri PBB akses masuk ke Xinjiang

Penerjemah: Azis Kurmala
Editor: Yuni Arisandy Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Xinjiang di China catat peningkatan populasi etnis Uighur

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar