Artikel

Upaya Kementerian PUPR membangun infrastruktur penjaga ketahanan air

Oleh Aji Cakti

Upaya Kementerian PUPR membangun infrastruktur penjaga ketahanan air

Ilustrasi - Bendungan Napun Gete di Provinsi NTT yang telah dituntaskan pembangunannya oleh Kementerian PUPR. ANTARA/HO-Kementerian PUPR/aa. (Handout Kementerian PUPR)

Jakarta (ANTARA) - Kondisi pandemi Covid-19 yang hampir berlangsung selama setahun di Indonesia tentunya menjadikan ketahanan air sebagai isu paling vital sehingga membutuhkan infrastruktur sumber daya air (SDA) untuk menjaganya.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono mengatakan bahwa air merupakan isu yang penting. Sumber air terus menipis karena pertumbuhan populasi dan urbanisasi, permintaan standar hidup yang terus meningkat, persaingan penggunaan air, konversi lahan dan pencemaran lingkungan. Beberapa permasalahan ini diperparah oleh pandemi COVID-19 yang belum selesai.

Ketersediaan air Indonesia di atas kertas tampak baik, tetapi bila dilihat lebih detail secara kewilayahan tidak merata. Contohnya Pulau Jawa, ketersediaan airnya tampak cukup bila melihat luasan pulaunya. Namun Pulau Jawa menanggung beban lebih dari setengah penduduk Indonesia.

Tidaklah heran pemerintah kemudian mengambil tindakan sesegera mungkin untuk menjaga ketahanan air di masa pandemi dengan membangun, meresmikan dan mengatur infrastruktur sumber daya air.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, khususnya untuk rumah tangga, perlu dibangun infrastruktur penyediaan air baku, seperti intake atau Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), jaringan distribusi, tampungan air seperti bendungan dan embung.

Bendungan sebagai pendukung ketahanan pangan

Salah satu upaya pemerintah dalam rangka menjaga ketahanan air adalah dengan membangun bendungan di berbagai wilayah Indonesia. Tujuan pembangunan bendungan juga untuk menjaga ketahanan pangan Indonesia yang sangat bergantung pada ketersediaan air.

Pemerintah melalui Kementerian PUPR telah merampungkan 18 bendungan baru selama periode 2015-2020. Adapun 15 bendungan yang selesai pada kurun waktu 2015-2019 telah menambah volume tampung sebesar 1.106,04 juta meter kubik untuk dimanfaatkan sebagai irigasi pertanian seluas 109.790 hektar.

Di samping itu juga penyediaan air baku 6,28 meter kubik per detik, reduksi banjir sebesar 1.859,89 meter kubik per detik, energi sebesar 113,42 MW dan potensi pariwisata yang akan menumbuhkan ekonomi lokal.

Bendungan terbaru yang telah diresmikan untuk beroperasi adalah Bendungan Napun Gete di Nusa Tenggara Timur. Bendungan ini memiliki luas 99 hektar dengan kapasitas tampung air 11,2 juta meter kubik dan bendungan itu juga bisa mengairi 300 hektar lahan.

Bendungan ini merupakan salah satu dari tujuh bendungan yang menjadi kunci ketersediaan air untuk mendukung program lumbung pangan atau food estate di Sumba Tengah, NTT. Hingga saat ini sudah tiga bendungan yang terbangun.

Untuk mendukung program lumbung pangan tersebut, Kementerian PUPR juga membangun sumur bor berkapasitas 6 liter/detik dan embung dengan kapasitas tampung 850.000 meter kubik. Sumur bor dibangun sebanyak 7 unit dengan kedalaman pengeboran 57-70 meter berkapasitas 50,59 liter/detik sehingga dapat memenuhi kebutuhan irigasi lahan pertanian seluas 50,59 hektare. Sedangkan untuk embung akan menambah areal layanan seluas 200 hektar.

Kementerian PUPR memiliki program untuk membangun 61 bendungan yang ditargetkan selesai pada 2024 dalam rangka meningkatkan kapasitas irigasi teknis dari 9 persen menjadi 20 persen.

Peranan vital SPAM bagi Jabodetabek

Di samping bendungan, Kementerian PUPR juga mengupayakan penyediaan sekaligus penyaluran air bersih bagi kota-kota terutama bagi wilayah-wilayah di kawasan Jabodetabek.

Upaya tersebut terlihat dari program pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum atau SPAM. Ada tiga SPAM yang direncanakan untuk menyalurkan dan menyediakan air bersih bagi kawasan Jabodetabek yakni SPAM Regional Jatiluhur I, SPAM Karian-Serpong dan SPAM Djuanda.

SPAM Regional Jatiluhur I telah ditandatangani perjanjian kerjasamanya. SPAM ini akan memulai konstruksinya pada kuartal III 2021 dan diharapkan dapat beroperasi pada kuartal pertama 2024.

SPAM Regional Jatiluhur I akan mengambil sumber air baku dari Waduk Jatiluhur sekitar 5.000 liter per detik. SPAM ini memiliki kapabilitas 4.750 liter per untuk menyuplai air bersih bagi kawasan Jakarta dan sekitarnya. SPAM tersebut akan menyalurkan air bersih kepada empat wilayah dengan distribusi Provinsi DKI Jakarta 4.000 liter per detik, Kota Bekasi 300 liter per detik, Kabupaten Bekasi 100 liter per detik, dan Kabupaten Karawang 350 liter per detik.

Sementara SPAM Karian-Serpong saat ini statusnya telah memasuki penetapan pemenang proyek. Proyek SPAM Karian-Serpong direncanakan dapat melayani 2,2 juta jiwa penduduk di wilayah Jakarta, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono berharap waktu jeda antara rampungnya konstruksi Bendungan Karian di Lebak, Banten, pada 2021 dengan pemanfaatannya melalui proyek SPAM Karian-Serpong tidak terlalu panjang.

Selain SPAM Regional Jatiluhur I dan SPAM Karian-Serpong, Proyek SPAM yang tak kalah vitalnya dinantikan pembangunannya adalah SPAM Djuanda.

SPAM Regional Ir. H. Djuanda yang rencana konstruksinya akan dimulai pada tahun 2021 – 2023 nantinya akan melayani pemenuhan air baku di area DKI Jakarta sebanyak 3.500 liter per detik, Kabupaten Bekasi sebanyak 2.000 liter per detik. Kemudian akan melayani juga Kabupaten Bogor sebanyak 2.000 liter per detik, Kota Bekasi sebanyak 1.000 liter per detik, dan Kabupaten Karawang sebanyak 850 liter per detik dengan memanfaatkan alokasi air baku dari Waduk Jatiluhur sebesar 10.000 liter per detik.

Mengapa ketiga SPAM ini dinilai sangat vital bagi kawasan Jabodetabek, karena jika ketiga SPAM ini telah beroperasi maka penggunaan air tanah oleh masyarakat di kawasan Jabodetabek akan dikurangi secara bertahap.

Ketiga SPAM merupakan bagian dari enviromental remediation, yakni mencegah penurunan tanah di Jakarta akibat penggunaan air tanah secara masif. Di samping nantinya jika ketiga SPAM ini telah beroperasi normal maka penurunan tanah di Jakarta bisa dihentikan akibat pelarangan penggunaan air tanah, dan konstruksi tanggul laut raksasa atau National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) di utara Jakarta tidak diperlukan lagi.

Gencarkan padat karya bidang air

Selain membangun infrastruktur sumber daya air, Kementerian PUPR juga menggencarkan upaya perbaikan jaringan irigasi melalui padat karya tunai Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI).

Pada Tahun Anggaran 2021, cakupan program P3-TGAI meningkat menjadi 12.000 lokasi dari sebelumnya TA 2020 sebanyak 10.000 lokasi. Program Padat Karya Tunai (PKT) melalui Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) yang dilaksanakan oleh Kementerian PUPR terus bergulir di seluruh Indonesia. Pada tahun 2021, pelaksanaan P3-TGAI menjangkau 12.000 lokasi dengan total anggaran Rp2,70 triliun atau naik dari TA 2020 sebesar Rp2,25 triliun.

P3TGAI merupakan pekerjaan perbaikan/rehabilitasi/peningkatan jaringan irigasi secara partisipatif yang melibatkan masyarakat, untuk mendukung kedaulatan pangan. Petani pekerja diberikan upah harian atau mingguan, sehingga menambah penghasilan petani atau penduduk desa terutama di antara musim tanam dan panen.

Di samping Program P3-TGAI, Kementerian PUPR juga melakukan pembangunan infrastruktur air sederhana melalui padat karya tunai yakni Akuifer Buatan Simpanan Air Hujan (ABSAH).

Infrastruktur ABSAH utamanya dibangun di daerah kering untuk menampung air hujan sebagai sumber air baku bagi masyarakat. Inovasi ini dinilai sangat membantu penyediaan air bersih dan air minum bagi masyarakat yang bersumber dari air hujan dengan memenuhi baku mutu untuk layanan standar kebutuhan air baku minimal.

Diharapkan teknologi ABSAH juga turut membantu masyarakat di daerah susah air khususnya di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi akibat Pandemi COVID-19. Sehingga masyarakat akan terbantu secara sosial maupun ekonomi karena tidak harus membeli air (memanfaatkan air hujan).

Air ABSAH sendiri menggunakan air hujan sebagai bahan baku utama untuk dikonsumsi menjadi air minum dan instalasi air gambut diproses digunakan untuk mandi dan mencuci.

Dengan demikian Kementerian PUPR menjalankan tiga upaya dalam rangka menjaga ketahanan dan keberlanjutan sumber daya air di Indonesia, terutama pada masa pandemi Covid-19.

Pertama, Kementerian PUPR terus melanjutkan pembangunan bendungan yang tidak hanya berfungsi sebagai penahan banjir, namun juga berguna untuk mendukung ketersediaan air yang sangat vital bagi ketahanan pangan melalui pembangunan lumbung pangan.

Kedua, Kementerian PUPR juga berupaya menghadirkan SPAM di kawasan-kawasan urban seperti Jabodetabek. Kehadiran SPAM ini tidak hanya untuk menyediakan air bersih, melainkan juga untuk mencegah penurunan tanah akibat penggunaan air tanah yang begitu masif.

Ketiga, program padat karya tunai yang terus digencarkan oleh Kementerian PUPR yang tidak hanya membantu daya beli masyarakat namun juga menjaga ketahanan air lewat perbaikan irigasi serta pembangunan infrastruktur air sederhana seperti ABSAH.

Oleh Aji Cakti
Editor: Adi Lazuardi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Kabupaten Malang bangun RS Darurat COVID-19

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar