Wall Street bervariasi, Nasdaq ditutup 72,91 poin lebih tinggi

Wall Street bervariasi, Nasdaq ditutup 72,91 poin lebih tinggi

Wall Street (Reuters)

New York (ANTARA) - Saham-saham Wall Street bervariasi pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), dengan indeks Nasdaq menguat sekalipun sentimen tetap rapuh setelah kinerja indeks terburuk dalam empat bulan sehari sebelumnya, karena kekhawatiran kenaikan inflasi membuat imbal hasil obligasi AS mendekati level tertinggi satu tahun.

Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 469,64 poin atau 1,50 persen menjadi ditutup di 30.932,37 poin. Indeks S&P 500 berkurang 18,19 poin atau 0,48 persen, menjadi menetap di 3.811,15 poin. Indeks Komposit Nasdaq terangkat 72,91 poin atau 0,56 persen lebih tinggi, menjadi berakhir di 13.192,34 poin.

Delapan dari 11 sektor utama S&P 500 ditutup di zona merah, dengan sektor energi jatuh 2,3 persen, memimpin penurunan. Sektor teknologi naik 0,6 persen, melampaui sisanya. Kelompok teknologi anjlok 3,5 persen di sesi sebelumnya.

S&P 500 berakhir sedikit melemah, sementara indeks Dow ditutup lebih rendah setelah sebelumnya turun ke level terendah tiga minggu. Dow masih membukukan keuntungan hampir 4,0 persen untuk Februari, karena investor membeli saham-saham perusahaan siklikal yang akan mendapatkan keuntungan dari pembukaan kembali ekonomi.

Nasdaq, yang mengalami minggu terburuk sejak Oktober, mengakhiri bulan kurang lebih 1,0 persen lebih tinggi, sementara S&P 500 membukukan kenaikan bulanan sekitar 2,6 persen.

Saham Apple Inc, Amazon.com Inc, Microsoft Corp dan Alphabet Inc naik antara 0,2 persen hingga 1,4 persen pada Jumat (26/2/2021) tetapi mengalami minggu terburuk dalam beberapa bulan belakangan ini karena kenaikan tajam dalam imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun turun menjadi 1,404 persen setelah melonjak menjadi 1,614 persen pada Kamis (25/2/2021), mengguncang pasar saham. Pengukur ketakutan Wall Street melayang di level tertinggi satu bulan.

Saham-saham teknologi sangat sensitif terhadap kenaikan imbal hasil karena nilainya sangat bergantung pada laba yang akan datang, yang didiskon lebih dalam saat suku bunga naik.

“Tidak diragukan lagi bahwa jalur suku bunga saat ini lebih tinggi,” kata Andrew Mies, kepala investasi di 6 Meridian.

"Ada beberapa penarik untuk saham yang tidak boleh kita lupakan," kata Mies, mengutip paket bantuan ekonomi senilai 1,9 triliun dolar AS dari Presiden Joe Biden di hadapan Kongres.

Lonjakan awal di saham GameStop Corp gagal dan membuat saham pengecer video game itu anjlok 6,4 persen pada Jumat (26/2/2021), menyiramkan air pada reli baru minggu ini yang telah membuat analis bingung.

Di sisi ekonomi, data terbaru menunjukkan belanja konsumen AS meningkat paling tinggi dalam tujuh bulan pada Januari tetapi tekanan harga tetap tenang.

Salesforce.com Inc merosot 6,3 persen karena perusahaan perangkat lunak daring itu memperkirakan laba setahun penuh di bawah ekspektasi pasar.
 

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Adi Lazuardi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Bank Indonesia waspadai kenaikan imbal hasil obligasi AS

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar