Riset CLSA: GoFood banyak digunakan karena punya pelanggan loyal

Riset CLSA: GoFood banyak digunakan karena punya pelanggan loyal

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Teten Masduki (tengah) mendapat penjelasan dari Co-CEO Gojek Andre Soelistyo (kanan) saat mengunjungi Dapur Bersama GoFood di Bintaro, Jakarta, Kamis (9/7/2020). (ANTARA FOTO/MUHAMMAD IQBAL)

Jakarta (ANTARA) - Platform on-demand di segmen food delivery, GoFood memimpin layanan pesan-antar makanan secara online karena memiliki loyalitas pelanggan, demikian menurut laporan hasil riset CLSA.

Di sisi lain, menurut laporan mereka, layanan GrabFood sebagai pesaing, juga diminati konsumen karena opsi diskon yang ditawarkan.

Baca juga: Gojek prediksi layanan antar makanan semakin melesat

Keunggulan GoFood atas GrabFood tercatat dalam riset tematik CLSA yang diumumkan 24 Februari 2021, dengan hasil sebesar 35 persen responden memilih Go-Food dan 20 persen responden memilih Grab-Food.

Analis CLSA, Jonathan Mardjuki, dalam catatan risetnya menyatakan bahwa tema pesan-antar makanan online dipilih sebab sektor tersebut merupakan salah satu bisnis yang paling menguntungkan di tengah pandemi.

"Pandemi telah mengubah dinamika bisnis di seluruh industri dan pengiriman makanan online mendapat manfaat dari perubahan tersebut. Survei kami menunjukkan bahwa 70 persen dari 450 responden lebih sering memesan makanan secara online daripada sebelumnya,” kata Jonathan dalam laporan riset tersebut melalui siaran pers, Sabtu.

"Hanya ada dua pemain besar dalam bisnis pesan-antar makanan online di Indonesia: Go-Food yang dimiliki oleh start-up Gojek asal Indonesia dan Grab-Food yang dimiliki oleh perusahaan rintisan asal Singapura yaitu Grab,” terangnya.

Baca juga: Peneliti: Layanan pesan makan daring perlu regulasi keamanan pangan

Survei dilakukan terhadap 450 responden, mayoritas berasal dari Jakarta dan Bodetabek. Survei dibagi dalam berbagai segmen. Berdasarkan pendapatan bulanan, proporsinya (19-23 persen) relatif sama untuk golongan gaji Rp4-6 juta, Rp7-10 juta, Rp11-20 juta dan di atas Rp20 juta.

Sedangkan 10 persen responden berpenghasilan di bawah Rp3 juta atau tidak memiliki penghasilan bulanan sama sekali seperti pelajar atau mahasiswa.

Hasil survei juga didasarkan pada tingkat pendapatan, preferensi merek mereka, seberapa teratur memesan makanan secara online, dan beberapa faktor lainnya.

Hasilnya, lebih banyak orang memilih GoFood yaitu sebesar 35 persen dan 20 persen untuk Grab. Sedangkan sebesar 43 persen responden menggunakan kedua aplikasi.

"GoFood menurut kami memiliki pelanggan yang lebih setia, dimana tiga keuntungan teratas dari penggunaan aplikasi adalah 'familiar dengan aplikasi', 'ketergantungan pada GoPay e-wallet' dan 'ramah pengguna,” ungkapnya.

Sementara GrabFood pada kondisi sebaliknya. Sebab, menurut hasil riset, sebesar 60 persen responden percaya diskon besar adalah keuntungan utama.

"Kami menemukan pelanggan Gojek lebih loyal, sedangkan Grab mengandalkan komersialitas. Kami juga menilai Grab lebih agresif dalam mengamankan penyewa (pelanggan). Secara keseluruhan, menurut kami persaingan yang sehat antara kedua raksasa akan berdampak positif bagi pasar Indonesia," kata dia.

CLSA memperkirakan pangsa pasar Gojek akan naik mencapai 58 persen sementara Grab 42 persen. Berdasarkan survei, CLSA juga berpendapat bahwa pelanggan kini telah mengalihkan fokus pada aspek-aspek seperti kenyamanan aplikasi ketimbang pengiriman yang lebih cepat atau tingkat pembatalan yang lebih rendah oleh pengemudi, seperti di masa-masa awal.

"Ini telah menjadi standar umum untuk platform online,” tegas Jonathan.


Baca juga: Memulai bisnis F&B saat pandemi, ini tips dari Chef Arnold

Baca juga: Rekomendasi memasak hidangan ala chef berbahan bahan siap masak

Baca juga: Menkop Teten Masduki dorong pelaku UMKM manfaatkan platform digital

Pewarta: Alviansyah Pasaribu
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Menjawab keresahan pengemudi ojek daring

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar