Artikel

Belajar dari Acen, pebisnis rumput gandum kucing Ibu Kota

Oleh Livia Kristianti

Belajar dari Acen, pebisnis rumput gandum kucing Ibu Kota

Acen (33) menyiram rumput gandum siap konsumsi untuk kucing yang menjadi produk utamanya dalam berbisnis. ANTARA/Livia Kristianti.

Mulai saja dulu, aneka halangan dan tantangan pasti ada
Jakarta (ANTARA) - Acen (33) tak menyangka kecintaannya pada kucing membawanya saat ini menjadi petani rumput gandum di Ibu Kota.

Rumput gandum atau biasa dikenal "wheatgrass" ini dikonsumsi kucing dan ternyata mampu mengantarkannya bertahan hidup di tengah pandemi COVID-19.

Idenya berawal dari titik jenuhnya bekerja kantoran di pertengahan tahun 2020 dan pengalaman memelihara hewan kesayangan kucing.

"Semua bermula dari kucing pertamaku, Tino yang sempat muntah-muntah," katanya suatu senja di Ibu Kota.

Saat berselancar di dunia maya, ternyata dia menemukan, rumput gandum yang rupanya bagus untuk pencernaan kucing.

Berangkat dari pengalaman itu lah, ia sadar ada potensi yang bisa dikembangkan menjadi petani rumput gandum modern di tengah perkotaan atau pertanian perkotaan (urban farming).

Baca juga: Urban Farming, jawaban keterbatasan pangan perkotaan di saat pandemi

"Karena kebanyakan yang dijual secara daring itu cuma bibitnya bukan rumputnya,” ujar Acen menceritakan titik awal perjalanan karirnya menjadi petani rumput gandum.

Butuh waktu berbulan- bulan bagi Acen meriset cara memaksimalkan potensi biji rumput gandum untuk kucing, ia mencoba berbagai media tanam mulai dari tanah hingga kapas, lalu ia pun mencoba berbagai ragam metode penyiraman agar mendapatkan hasil yang terbaik.

Ia membeli satu kilogram biji gandum untuk memulai bisnisnya dengan modal Rp50.000. Sebanyak 500 gram biji rumput gandum pun dihabiskannya dalam waktu lebih dari 30 hari itu untuk mendapatkan metode terbaik menghasilkan tanaman segar dengan nama ilmiah Tritucum aestivum itu.

Seorang Petugas Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) melakukan perawatan di kawasan pertanian perkotaan, Rawa Badak Selatan, Jakarta Utara, Jumat (21/8/2020). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj.
Kelima kucing yang dipeliharanya bernama Tino, Soju, Kimi, Mochi, dan Cookie pun ikut membantu menjadi konsumen pertama mencicipi rumput gandum dalam risetnya.

Setelah berhasil menemukan formula yang tepat untuk menghasilkan tanaman rumput gandum dengan kualitas terbaik, sisa biji gandum lainnya pun disiapkannya untuk dijajakan lewat toko daring.

“Bermula dari riset- riset dan 'trial-error' (coba dan gagal), akhirnya gue memutuskan bikin paket DIY (Do It Yourself) menanam rumput gandum dan juga rumput gandum yang sudah siap konsumsi untuk memulai bisnis kecil-kecilan itu yang bermodal Rp 50.000,” cerita Acen.

Pria yang juga cukup berpengaruh dalam bidang perjalanan wisata (traveling) di media sosial Instagram @acentris itu memaksimalkan jaringan pertemanannya untuk mengenalkan bisnis rumput gandum bagi kucing yang dijual di lapak daring bernama "Kekucingan".

Berbekal dari pengalaman kerjanya ngantor selama hampir satu dasawarsa, Acen pun menjadikan ‘Kekucingan’ sebagai nama tokonya tapi juga sebagai penanda untuk barang-barang yang dikembangkannya lewat riset.

Baca juga: Menikmati kesejukan di Agroeduwisata Ragunan

Di bawah nama Kekucingan, bisnis rumput gandum miliknya jadi laris manis dan hingga akhir Februari 2021 produknya masuk dalam ketegori penjualan terpopuler di salah satu platform toko daring.

Ia tak pernah menyangka dari modal puluhan ribunya itu, dalam waktu lima bulan kini pemasukannya sebagai pengusaha sudah melebihi gajinya saat terakhir kali menjadi pegawai kantoran berpangkat manajer.

Terus berinovasi

Kucing memakan rumput gandun kucing yang baik untuk kesehatan pencernaan. (ANTARA/HO- Dokumentasi Toko Kekucingan)
Meski sudah melebihi pemasukannya saat menjadi pegawai dengan pola kerja dari pukul sembilan pagi hingga lima sore, Acen tak lantas berhenti untuk melebarkan sayap dalam bisnis perawatan kucing.

Inovasi menjadi salah satu hal yang ditekuni pria berusia 33 tahun itu agar dapat mendorong kesuksesan bisnisnya sebagai petani rumput gandum untuk kucing.

Ia yang awalnya hanya menjual paket DIY rumput dengan pot hitam, lantas menambahkan beberapa variasi warna pot lainnya seperti kuning dan putih agar dapat mendongkrak penjualan.

Ia pun terus menambah produk- produk baru khas Kekucingan untuk mendorong kesuksesan bisnisnya sebagai petani rumput gandum untuk kucing itu.

Beberapa produk yang dikembangkannya tak berkutat untuk menyokong kesehatan kucing, tetapi mulai juga untuk produk suplemen untuk menambahkan nafsu makan, minyak ikan dan minyak kelapa murni untuk kesehatan bulu kucing, hingga yang terbaru sampo dan parfum untuk menjaga kebersihan bulu kucing.

Baca juga: Survei: Urban farming berprospek cerah dongkrak pendapatan masyarakat

Satu hal yang mungkin bisa ditiru oleh para perintis usaha bermodal kecil dari Acen adalah sikapnya yang tidak ragu untuk berbagi produk baru kepada teman-temannya agar bisa mendapatkan ulasan.

“Ini rahasia umum yang semua pengusaha bermodal kecil lakukan. Sebisa mungkin bagikan produk ke teman-teman terdekat secara gratis guna mendapatkan umpan balik berupa ulasan atau masukan dan juga kritikan. Dari situ juga kita bisa dikenal dan mengembangkan usaha kita,” ujar Acen.

Kiat perintis 
Sebelum benar-benar memutuskan petani rumput gandum, sebenarnya Acen sudah mencoba berbagai macam cara memulai bisnis.

Meski demikian beberapa percobaan sebelumnya gagal dan tidak dapat dikembangkan seperti usahanya yang dirintis sendiri dari nol.

Ia pernah berkongsi dengan temannya untuk menjual kuliner ayam penyet namun tak berhasil, ia pun pernah mencoba menjual jasa untuk menyiapkan perjalanan ke Annapurna, salah satu gunung tertinggi di dunia di pegunungan Himalaya, namun rupanya hanya bisa dilakukan di musim-musim tertentu.

Terakhir ia sebenarnya pernah mencoba bergabung dengan temannya sebagai pemilik toko pemeliharaan hewan, namun kegagalan kembali menghampirinya.

Meski demikian, ia tak patah semangat dan tetap berusaha sehingga kini setiap bulan 1500 produk dijualnya membantu para pemilik anak bulu menjaga kesehatan kucingnya.

Berbekal dari pengalaman jatuh bangunnya, Acen pun menyisipkan dua kiat bagi para perintis usaha bermodal kecil lainnya untuk mulai berbisnis.

Kiat pertama yang dibagikannya adalah berani mengambil langkah untuk memulai usaha.

"Mulai saja dulu, aneka halangan dan tantangan pasti ada, itu nanti bisa diselesaikan sambil jalan," katanya.

Seorang Petugas Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) melakukan perawatan di kawasan pertanian perkotaan, Rawa Badak Selatan, Jakarta Utara, Jumat (21/8/2020). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj.

Baca juga: Sayuran super mini solusi pertanian perkotaan

Untuk kiat kedua bagi pengusaha yang baru mau merintis usahanya, Acen menyarankan agar memilih produk atau pun jasa yang akan dijajakan berasal dari sekitar kita.

Ia mencontohkan dirinya sendiri, dengan mengetahui kebutuhan pemilik kucing buktinya ia bisa memaksimalkan produk yang sebelumnya memang sudah ada di pasaran namun dapat diolah menjadi lebih baik lagi dan memenuhi kebutuhan pasarnya.

“Kalau memang bingung mau mulai dari mana, ya mulai aja dari yang paling dekat dan kita kuasai. Kenapa? Karena selain menghadirkan solusi untuk diri sendiri ya bisa bermanfaat juga buat orang lain dengan masalah yang sama,” tutup Acen.

Ia berharap dengan sedikit kiat yang dibagikannya semakin banyak orang yang sebelumnya ragu untuk membangun cita-cita menjadi pengusaha dapat terinspirasi dan mengambil langkah serupa dengan dirinya.

Menjadi pengusaha itu minimal menjadi bos bagi diri sendiri dan secara tidak langsung ikut menggerakkan roda perekonomian di Ibu Kota.

Oleh Livia Kristianti
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Konsep pertanian perkotaan di Jakarta tumbuhkan masa depan hijau

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar