Siemens, IBM dan Red Hat luncurkan inisiatif hybrid cloud

Siemens, IBM dan Red Hat luncurkan inisiatif hybrid cloud

Ilustrasi kerja sama Siemens, IBM, dan Red Hat. (ANTARA/HO)

Jakarta (ANTARA) - Tiga perusahaan teknologi Siemens, IBM dan Red Hat mengumumkan sebuah proyek kolaborasi berkaitan penggunaan desain hybrid cloud untuk menghadirkan solusi yang terbuka, fleksibel, dan lebih aman, bagi kalangan manufaktur dan operator kilang.

Desain ini akan mendorong terciptanya value yang real time dari data operasional. Dalam satu bulan, sebuah unit manufaktur bisa menciptakan lebih dari 2.200 terabyte data menurut sebuah laporan dari IBM – dan kebanyakan data itu belum dianalisa.

“Hari-hari ini manufaktur membutuhkan agilitas dan fleksibilitas untuk mencapai ekspektasi tentang kualitas produk yang lebih baik dengan siklus produksi yang lebih pendek,” kata Raymond Kok, Senior Vice President of Cloud Application Solutions di Siemens Digital Industries Software, melalui keterangannya, Minggu.

Melalui inisiatif bersama, Siemens Digital Industries Software akan menerapkan pendekatan open hybrid cloud dari IBM, dibangun di atas Red Hat OpenShift, untuk meningkatkan fleksibilitas dalam pemasangan MindSphere, semacam solusi industrial IoT as a service dari Siemens.

Baca juga: IBM berkomitmen capai net zero gas rumah kaca pada 2030

Baca juga: Kolaborasi teknologi jadi kunci untuk jalani bisnis di 2021


Kolaborasi ini akan memungkinkan pelanggan menjalankan MindSphere secara on-premise, menambah kecepatan dan agilitas dalam operasional pabrik dan kilang, serta memberikan product support, update, dan konektivitas perusahaan yang seamless melalui cloud.

"MindSphere telah memberikan insight yang didorong oleh data (data-driven), kepada para pelanggan, untuk memperkuat operasional mereka melalui Industrial IoT," imbuh Kok.

MindSphere digunakan oleh perusahaan untuk mengumpulkan dan menganalisa data sensor secara real-time, yakni data-data yang dikumpulkan dari produk, proses pengilangan, sistem, dan mesin-mesin, supaya penggunanya dapat mengoptimalkan produk, aset produksi, dan proses manufaktur, di seluruh value chain, untuk membangun secara real-time apa yang disebut sebagai digital twin.

Industry General Manager, Energy, Resources, and Manufacturing di IBM, Manish Chawla mengatakan, kolaborasinya dengan Siemens menggunakan hybrid cloud dan dirancang untuk memberikan kepada manufaktur ha-hal terbaik seperti otonomi, kecepatan, dan kendali atas data shopfloor yang diproses di edge, dan koneksi yang lancar ke perusahaan.

Senior Vice President, Industries and Global Accounts, Red Hat, Darrell Jordan-Smith, menambahkan, kolaborasi ini akan membantu merampingkan operasional di manufaktur melalui penggunaan platform Kubernetes yang terkemuka dan suatu pendekatan open hybrid.

"Dengan Red Hat OpenShift sebagai platform yang menopang MindSphere, kami mengurangi kerumitan dengan cara memberikan suatu metode yang terpadu kepada manufaktur untuk memasang dan menjalankan MindSphere di dalam sistem mereka atau di cloud," kata Jordan-Smith.

"Hal ini membuat pemimpin di perusahaan manufaktur bisa lebih berfokus pada inovasi dan mendorong hasil bisnis yang lebih maksimal lagi," pungkasnya.

Baca juga: Siemens tak PHK karyawan meski terdampak corona

Baca juga: Siemens Healthineers punya teknologi MRI baru

Baca juga: Red Hat gandeng Ingram Micro perluas layanan cloud di Indonesia

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Menkominfo : Google Cloud Platform wujud sinergi teknologi dan dunia usaha

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar