Eijkman: Pemberian plasma konvalesen harus sedini mungkin

Eijkman: Pemberian plasma konvalesen harus sedini mungkin

Deputi Bidang Penelitian dan Translasional Lembaga Eijkman David Handojo Muljono saat memberikan paparan mengenai plasma konvalesen dalam dialog "Perkembangan Penggunaan Plasma Konvalesen Dalam Pengobatan COVID-19" secara virtual, Senin. (ANTARA/Youtube/BNPB Indonesia)

Timing ini penting artinya, harus dini dalam arti waktu dan dini dalam arti penyakit.
Jakarta (ANTARA) - Deputi Bidang Penelitian dan Translasional Lembaga Eijkman David Handojo Muljono mengatakan pemberian plasma konvalesen kepada pasien penderita COVID-19 harus sedini mungkin dan tidak menunggu saat pasien sudah mengalami gejala berat atau kritis.

"Timing ini penting artinya, harus dini dalam arti waktu dan dini dalam arti penyakit. Penyakitnya jangan tunggu terlambat, tetapi sedang yang mengarah ke berat itu seharusnya diberikan sehingga khasiat yang diinginkan dari plasma itu berguna betul," ujar David dalam dialog Perkembangan Penggunaan Plasma Konvalesen Dalam Pengobatan COVID-19 secara virtual, Senin.

Menurutnya, khasiat yang dicari dari plasma konvalesen yakni antivirus dan regulator sistem imun dari penyintas. Ketika pasien yang belum mengalami gejala berat atau kritis maka antibodinya bisa beradaptasi untuk melawan virus di dalam tubuh, sehingga dapat meningkatkan keberhasilan sembuh.

Baca juga: Eijkman: Rekombinasi varian corona pengaruhi diagnostik COVID-19

David mengatakan seseorang yang sedang terpapar COVID-19, sistem imun tubuhnya dalam keadaan tak stabil. Maka apabila pemberian plasma konvalesennya tepat waktu, selain virusnya bisa dihilangkan dengan cepat dan imun bisa dinormalkan kembali.

"Jadi khasiatnya dua yaitu antivirus karena dia memiliki antibodi netralisasi dan kedua adalah menormalkan kembali sistem imun. Jadi mempercepat penyembuhan dan mencegah keparahan," kata dia.

Berbeda jika diberikan kepada pasien yang tengah mengalami gejala berat, imun dan antivirus di dalam plasma konvalesen tidak akan berjalan efektif. Pasalnya kerusakan organ sudah terjadi dan virus yang ada di dalam tubuh sudah sedikit.

Baca juga: Izin darurat vaksin Eijkman dan LIPI diperkirakan Januari 2022

"Jadi kalau diberikan kepada kasus yang sudah berat memang ini kerusakan organ sudah terjadi. Perjalanan penyakit, pertama kali virusnya banyak kalau tubuh tak bisa membersihkan maka keluar radang, dan radang itu yang merusak," katanya.

Di samping itu, yang patut diperhatikan saat akan mendonor plasma konvalesen yakni kadar antibodi. Eijkman masih mengembangkan metode mengukur kadar antibodi plasma konvalesen.

Kendari begtitu, donor plasma konvalesen terbaik berasal dari penyintas kategori sedang hingga berat dan diperuntukkan kepada pasien kategori ringan menuju sedang.

"Penting ini untuk penyedia plasma seperti PMI atau rumah sakit lain yang sudah divalidasi. Tahu kadarnya (antibodi) berapa, sehingga bisa dengan tepat kita menolong pasien COVID-19 itu," kata dia.

Baca juga: Eijkman nyatakan vaksinasi dilakukan setelah dapat izin darurat

Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2021

BPOM yakin vaksin Merah Putih dapat diproduksi massal akhir 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar