Saham Asia diperkirakan menguat saat aset-aset berisiko bersinar

Saham Asia diperkirakan menguat saat aset-aset berisiko bersinar

Foto dokumen: Seorang pejalan kaki yang memakai masker pelindung tercermin di layar yang menampilkan nilai tukar yen Jepang terhadap dolar AS dan harga saham di broker, di tengah wabah penyakit virus corona (COVID-19), di Tokyo, Jepang 6 November 2020. ANTARA/REUTERS /Issei Kato

Keuangan berkinerja baik, dengan 95 persen saham di S&P 500 menguat
New York (ANTARA) - Saham-saham Asia diperkirakan akan reli pada perdagangan Selasa, karena penghentian aksi jual di pasar obligasi baru-baru ini menenangkan saraf investor dan mengangkat aset-aset berisiko, meskipun harga minyak berada dalam posisi defensif di tengah kekhawatiran melambatnya konsumsi energi China.

Saham Australia menguat 0,8 persen pada awal perdagangan, sementara indeks berjangka E-mini S&P naik 0,15 persen dan indeks Nikkei Jepang dibuka 0,93 persen lebih tinggi.

Saham-saham AS telah melonjak semalam, dengan S&P 500 membukukan hari terbaiknya dalam hampir sembilan bulan, setelah penurunan imbal hasil obligasi dan optimisme tentang lebih banyak stimulus fiskal AS dan distribusi yang lebih luas dari vaksin COVID-19 membangkitkan minat investor terhadap aset-aset berisiko.

Untuk saat ini, semua mata akan tertuju pada bank sentral Australia, yang mengadakan pertemuan kebijakan bulanan pada Selasa. Analis memperkirakan Reserve Bank of Australia (RBA) akan menahan suku bunga pada level terendah bersejarah 0,1 persen ketika mengumumkan keputusan kebijakannya pada 0330 GMT.

“Ada banyak hal yang disukai tentang reli di pasar ekuitas Eropa dan AS,” kata Chris Weston, kepala penelitian di Pepperstone Group Ltd di Australia.

"Keuangan berkinerja baik, dengan 95 persen saham di S&P 500 menguat pada hari itu," katanya, menambahkan bahwa "jelas investor melihat dunia dalam cahaya baru".

Saham-saham AS bergolak minggu lalu ketika aksi jual obligasi negara mendorong imbal hasil obligasi AS 10-tahun ke level tertinggi satu tahun di 1,614 persen. Imbal hasil obligasi 10-tahun turun tipis di awal perdagangan pada 1,4255 persen.

Permintaan aset-aset berisiko tidak menekan dolar, biasanya dianggap sebagai mata uang safe-haven, karena investor bertaruh pada pertumbuhan dan inflasi yang cepat di Amerika Serikat. Indeks dolar AS naik 0,3 persen pada awal perdagangan terhadap sekeranjang mata uang menjadi 91,029.

Dolar Australia sedikit berubah pada 0,77685 dolar AS menjelang pertemuan RBA.

Dolar yang lebih kuat membebani emas, dan logam mulia itu dalam posisi defensif pada 1.722,89 dolar AS per ounce Selasa pagi.

Kegairahan aset-aset berisiko tidak membantu pasar energi. Harga minyak turun lebih dari 1,0 persen semalam setelah data menunjukkan pertumbuhan aktivitas pabrik China merosot ke level terendah sembilan bulan pada Februari, sebagian karena gangguan selama liburan Tahun Baru Imlek. Ada juga kekhawatiran di kalangan investor energi bahwa OPEC dapat meningkatkan pasokan global setelah pertemuan minggu ini.

Minyak mentah Brent turun 1,7 persen menjadi 63,31 dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 0,6 persen menjadi 60,30 dolar AS.

Baca juga: Wall Street melonjak terangkat teknologi, Nasdaq melesat 3,01 persen
Baca juga: Saham Inggris berakhir positif, indeks FTSE 100 terkerek 1,62 persen
Baca juga: Saham Prancis "menghijau", indeks CAC 40 terangkat 1,57 persen
Baca juga: Saham Jerman "rebound", indeks DAX 30 ditutup bangkit 1,64 persen

 

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Biqwanto Situmorang
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Bank Indonesia waspadai kenaikan imbal hasil obligasi AS

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar