Pinsar: konsumsi ayam-telur Indonesia rendah dibanding negara tetangga

Pinsar: konsumsi ayam-telur Indonesia rendah dibanding negara tetangga

Ilustrasi - Tumpukan telur yang baru diambil dari kandang. (ANTARA/Sumarwoto)

sedikitnya konsumsi daging maupun telur ayam di masyarakat Indonesia bukan dikarenakan daya beli yang lemah, melainkan pemahaman penduduk yang belum teredukasi dengan baik
Jakarta (ANTARA) - Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) menyebutkan konsumsi daging dan telur ayam masyarakat Indonesia masih lebih rendah dibandingkan konsumsi per kapita negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand.

Ketua Bidang Kesehatan Masyarakat Veteriner Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia Drh. Rakhmat Nuriyanto dalam acara diskusi daring yang dipantau di Jakarta, Selasa, mengatakan konsumsi daging ayam penduduk Indonesia baru sekitar 10-12 kilogram per kapita per tahun atau tidak lebih dari 1 kilogram per bulan.

"Contohnya untuk ayam pedaging baru 10-12 kg per kapita. Sementara di Thailand sudah 20 kg ke atas, Malaysia 30-40 kg, kita masih sepertiganya dari negara tetangga," kata dia.

Rakhmat berpendapat sedikitnya konsumsi daging maupun telur ayam di masyarakat Indonesia bukan dikarenakan daya beli yang lemah, melainkan pemahaman penduduk yang belum teredukasi dengan baik.

Dia menyitir data Badan Pusat Statistik pada Maret 2020 yang menyebutkan pengeluaran per kapita dalam sebulan untuk membeli rokok sekitar Rp73 ribu yang nilainya lebih besar dari pengeluaran per kapita sebulan untuk membeli komoditas pangan seperti daging, ikan, kacang-kacangan, maupun telur dan susu.

"Pengeluaran untuk rokok Rp73 ribu itu untuk ayahnya saja, sementara kalau dibelikan telur itu Rp23 ribu bisa untuk satu keluarga. Padahal nilai gizinya luar biasa," kata Rakhmat.

Selain itu Rakhmat juga membandingkan harga satu butir telur ayam yang mencapai Rp1.300 relatif murah dan tidak lebih mahal dari harga sebuah kerupuk yang dijual di warung-warung, namun gizi telur jauh lebih tinggi daripada kerupuk. "Harga kerupuk sekitar Rp1.000 sampai Rp1.500, sedangkan telur yang penuh gizi kurang lebih satu butir Rp1.300," kata Rakhmat.

Selain itu, lanjut dia, rendahnya konsumsi masyarakat Indonesia terhadap telur dan daging ayam dikarenakan ada beberapa mitos yang beredar di masyarakat seperti ayam broiler yang disuntik hormon atau telur ayam yang bisa menyebabkan alergi dan meningkatkan kadar kolesterol dalam darah.

Praktisi kesehatan anak dr. Tirza Arif Santosa, SpA mengungkapkan bahwa telur memiliki kandungan gizi yang sangat banyak dan lebih tinggi dibandingkan sumber protein hewani lainnya namun memiliki harga yang relatif lebih murah.

Tirza menyebut kandungan gizi telur seperti protein yang tinggi asam lemak seperti omega 3, lemak tak jenuh, vitamin A, D, E, dan K, DHA dan gizi lainnya yang sangat baik untuk pertumbuhan otak dan tubuh pada anak.

Baca juga: Kementan ajak masyarakat konsumsi daging ayam untuk tingkatkan gizi
Baca juga: Konsumsi telur memperkecil risiko diabetes tipe 2

Baca juga: Menjamin konsumsi telur aman hingga ke meja makan
 

Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Biqwanto Situmorang
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Peternak keluhkan rendahnya harga jual telur di tengah kenaikan harga pakan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar