Artikel

Setahun pandemi, misi paramedis capai kekebalan pandemi

Oleh Devi Nindy Sari Ramadhan

Setahun pandemi, misi paramedis capai kekebalan pandemi

Relawan memakai pakaian hazmat dan mengusung poster untuk memperingati Setahun Pandemi COVID-19 di Indonesia saat aksi di Jalan Gatot Subroto, Solo, Jawa Tengah, Selasa (2/3/2021). Dalam aksinya, mereka menghimbau masyakarakat untuk tetap waspada virus COVID-19 dan menjalankan protokol kesehatan ketika beraktivitas keseharian. NTARA FOTO/Maulana Surya/foc. (ANTARA FOTO/Maulana Surya)

Banyak juga masyarakat yang kasih semangat, motivasi
Jakarta (ANTARA) - Januari menyeruput secangkir kopi disela-sela waktu istirahatnya. Sambil menanti panggilan tugas berikutnya, pria yang disapa Ari itu bercerita tentang kejadian baru-baru ini yang masih membekas diingatannya.

Saat banjir melanda Jakarta pertengahan Februari lalu, Ari yang bertugas sebagai tenaga medis di Ambulans Gawat Darurat (AGD) Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan rekannya mendapat tugas mengevakuasi pasien COVID-19.

Seperti biasa, mereka langsung bersiap, mengenakan pakaian hazmat dan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap mengendarai ambulans menembus lalu lintas yang padat ke kediaman pasien.

Sempat terbersit dibenaknya, kawasan Cipinang Muara, Jatinegara, Jakarta Timur, lokasi kediaman pasien yang dituju merupakan daerah langganan banjir. Sesuai dugaan, setiba di lokasi, mereka sudah ditunggu petugas pemadam kebakaran dan perahu karet yang siap mengarungi air kecoklatan setinggi dua meter yang mengepung kawasan tersebut.

Tak ada kata menolak, dalam kondisi apapun, dia mesti mendatangi pasien COVID-19 yang butuh dievakuasi, meski di tengah banjir sekalipun, ke fasilitas kesehatan (faskes) terdekat.

Tantangan tak hanya melawan arus kuat luapan Kali Sunter, kondisi pasien berusia 50-an yang mengalami stroke ringan ditambah lantai dua rumahnya yang rasanya tidak kuat menahan beban berat mereka,maka evakuasi harus dilakukan dengan sangat hati-hari.

Sambil terkekeh, Ari bercerita ia tak menyangka, meski sudah menggunakan baju hazmat rapat-rapat dan sarung tangan berlapis, air banjir masih menembus masuk ke bajunya.

“Saya enggak menyangka, meski sudah pakai baju hazmat rapat-rapat, air bisa masuk, kebasahan deh,” ujar dia sambil terkekeh.

Dia menyadari, baju hazmat dan APD lengkap yang dipakai sehari-hari, belum tentu mampu melindungi dari apa yang dia tidak kehendaki,air saja bisa masuk apalagi virus yang tak terlihat.

Ia bersyukur tenaga medis mendapatkan prioritas untuk divaksinasi, karena disadari saat ini mereka menghadapi lawan yang tidak tampak wujudnya tapi mengancam jiwa.

Ari merasa beruntung hingga kini dirinya masih diberi kesehatan dalam menghadapi virus seribu wajah tersebut. Padahal cukup banyak tenaga medis yang berada di garda depan terpapar penyakit yang disebabkan virus yang menyerang pernapasan itu.

Saat ini, Ari masih menanti jadwal vaksinasi karena sebelumnya sempat tertunda. Seharusnya ia divaksin pada akhir Februari, namun saat itu tensinya cukup tinggi, maka terpaksa ditunda.

“Semoga bisa segera disuntikkan vaksinnya yah,” kata dia.

Baca juga: Relawan PMI Kota Bekasi evakuasi pasien COVID-19 dari kepungan banjir

Baca juga: Menteri Desa minta relawan COVID-19 berkolaborasi dengan Satgas


Suka Duka

Setahun sudah pandemi terjadi, selama itu pula banyak hal-hal yang berubah dari kebiasaan dan kondisi normal. Dimana-mana terlihat wajah yang ditutupi masker, orang-orang yang menjaga jarak satu sama lain dan suasana sepi malam hari.

Itu pula yang dirasakan Ari, banyak suka duka selama bekerja di tengah pandemi. Hazmat dan masker N95 dilapisi masker bedah selama kurang lebih empat jam, tentu membuatnya tak nyaman.

Dehidrasi dan kekurangan oksigen dalam waktu kerja yang cukup lama sering dirasakan.Gerah sudah pasti, tapi demi keamanan dari paparan virus, ketidaknyamanannya itu harus diabaikan.

Tak jarang,respon masyarakat yang ketakutan saat ia harus mengevakuasi pasien dengan hazmat dan APD lengkap,sudah jadi makanan sehari-hari.

Namun Ari mengaku sedih masih banyak masyarakat yang abai dan tidak mengikuti anjuran pemerintah untuk menjalankan protokol kesehatan.

Padahal menurut dia, di masa pandemi menggunakan masker sudah selayaknya kewajiban karena dapat mencegah penyebaran virus. Tapi 3M itu saja masih banyak yang mengabaikan.

Tidak selamanya kisah sedih, ada juga kisah mengharukan yang dialami selama pandemi. Salah satunya dukungan masyarakat dan komunitas-komunitas motor yang memberikan pengawalan dan membelah kemacetan agar ambulans bisa melintas.

Dukungan masyarakat sangat berarti baginya dan menjadi pemicu semangat menjalani hari-hari sebagai petugas garda depan dalam menghadapi pandemi.

“Banyak juga masyarakat yang kasih semangat, motivasi, saat evakuasi pasien yang kita bawa ke faskes, mereka kasih semangat dari kejauhan buat kita, nakes, dan pasiennya,” ujar dia.

Ia berharap pandemi ini segera berakhir, semua bisa beraktivitas normal kembali. Ia menaruh harapan besar vaksin dapat menjadi kunci penanganan COVID-19, selain protokol kesehatan yang harus tetap dijalankan.

Baca juga: Pengungsi gempa Sulbar dan relawan diimbau terapkan 3M cegah COVID-19

Baca juga: Jubir satgas COVID-19 jelaskan soal tingginya tingkat kematian nakes


Upaya Perlindungan

Sejak awal Februari, pemerintah telah melaksanakan vaksinasi bagi tenaga kesehatan sebagai upaya menciptakan perlindungan yang nyata untuk orang-orang di baris depan “perang” melawan COVID-19.

Juru Bicara Pemerintah dr Reisa Brotoasmoro menyatakan pelaksanaan vaksinasi COVID-19 diprioritaskan bagi 1,3 juta tenaga kesehatan dan 17,4 juta petugas pelayan publik.

Reisa berpesan kepada teman sejawat, tenaga kesehatan, melindungi diri dengan mendapatkan vaksinasi adalah kesadaran profesional dan kewajiban moral.

Hingga awal Maret, Pemerintah menargetkan sebanyak 1.468.764 tenaga kesehatan akan mendapat vaksinasi COVID-19 untuk membentuk kekebalan.

Adapun pemberian vaksin COVID-19 pada tenaga medis tersebut merujuk pernyataan World Health Organization (WHO), perlindungan kepada tenaga kesehatan adalah wajib dan harus dilakukan oleh seluruh negara di dunia.

Sangatlah penting bagi seluruh tenaga kesehatan mendapatkan vaksin pertama kali. Apalagi tercatat pada 10 bulan ditetapkan masa pandemi, lebih dari 500 tenaga kesehatan Indonesia telah gugur dalam tugasnya menangani pandemi.

Upaya percepatan perlindungan semakin diperluas dengan memberikan vaksinasi kepada para dokter yang telah lanjut usia diatas 60 tahun mulai 8 Februari lalu.

Hal itu tentu menjadi kabar baik bagi para tenaga kesehatan Indonesia untuk meningkatkan kapasitas penanganan pasien COVID-19. Kementerian Kesehatan mencatat sekitar 11.600 tenaga kesehatan di Indonesia termasuk kelompok lansia.

Terbitnya izin vaksinasi terhadap kelompok lansia diharapkan menekan laju kasus kematian akibat paparan COVID-19.

Pekerjaan berat pemerintah tak hanya sekedar menitikberatkan pada pembentukan “herd immunity” atau kekebalan pada masyarakat saja, tapi juga memberikan keyakinan kepada tenaga medis di lapangan maupun rumah sakit bahwa ada harapan pandemi virus yang mereka hadapi hingga lelah, bisa terkendali.

Baca juga: 1.427 relawan BNPB bantu "tracing" COVID-19 di Jakarta

Baca juga: Tim Riset jelaskan penyebab 25 relawan vaksin bisa terpapar COVID-19

 

Oleh Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

IDI ungkap hambatan penuntasan pandemi COVID-19

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar