Kota terbesar Ekuador coba beli langsung vaksin COVID-19

Kota terbesar Ekuador coba beli langsung vaksin COVID-19

Botol dengan stiker bertuliskan, "COVID-19 / vaksin Coronavirus / Injeksi" dan jarum suntik medis terlihat di depan logo AstraZeneca yang ditampilkan dalam ilustrasi (31/10/2020). ANTARA/REUTERS/Dado Ruvic/aa.

Quito (ANTARA) - Pihak berwenang di kota terbesar di Ekuador, Guayaquil mengatakan pada Rabu bahwa mereka akan menegosiasikan pembelian langsung tiga vaksin virus corona untuk mempercepat proses imunisasi mengingat lambatnya kemajuan kampanye vaksinasi pemerintah nasional sejak Januari.

Wali Kota Guayaquil Cynthia Viteri mengatakan tujuan pembelian langsung itu untuk memvaksin satu juta lebih dari 2,6 juta orang di kota itu, yang tahun lalu menghadapi salah satu wabah terburuk di wilayah tersebut. Tetapi pembelian tersebut membutuhkan otorisasi resmi dari pemerintahan Presiden Lenin Moreno, yang belum berkomentar.

Wali Kota di seluruh negara itu,, termasuk ibu kota Quito, juga telah meminta Moreno untuk mengizinkan i pembelian vaksin langsung.

"Kami akan membeli AstraZeneca Inggris terlebih dahulu, vaksin Rusia (Sputnik V) kedua dan vaksin China ketiga (Sinovac)," kata Viteri kepada wartawan di acara publik.

“Negosiasi vaksin akan dilakukan secara langsung antara pemerintah daerah dengan perusahaan pemasok di luar negeri, tanpa perantara,” tambahnya. Guayaquil memiliki anggaran sebesar $ 15 juta (Rp 210 miliar) untuk pembelian tersebut, katanya.

Pemerintah meluncurkan rencana percontohan, dengan maksud memberikan dosis vaksin Pfizer kepada petugas medis dan warga lanjut usia di panti jompo. Proses tersebut dikritik karena mereka yang berada di luar kelompok penerima telah menerima vaksin.

Sejauh ini Ekuador telah menerima sekitar 40.000 dosis vaksin Pfizer. Kementerian Kesehatan mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka mengharapkan kedatangan 31.500 lebih banyak dosis Pfizer pada Rabu.

Vaksinasi massal dijadwalkan dimulai pada Maret.

Pemerintah nasional Ekuador mengatakan bahwa mereka merundingkan 20 juta dosis vaksin dengan Pfizer, AstraZeneca, inisiatif COVAX dari Organisasi Kesehatan Dunia dan Sinovac dalam upaya untuk menyuntik 60% populasi di atas usia 18 tahun secara gratis.

Bangsa Andes itu telah melaporkan sekitar 290.000 infeksi dan lebih dari 11.100 kematian akibat virus corona.

Sumber: Reuters
 

Penerjemah: Mulyo Sunyoto
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Kilas NusAntara Edisi COVID-19

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar