BPPT sebut lima teknologi reduksi risiko bencana geologi Indonesia

BPPT sebut lima teknologi reduksi risiko bencana geologi Indonesia

Kepala BPPT RI Dr Hammam Riza saat mengisi kuliah umum untuk USK, Sabtu (27/2/2021) (ANTARA/HO)

melaksanakan kontijensi planning untuk penanggulangan bencana
Jakarta (ANTARA) - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyebutkan lima teknologi yang telah dikembangkan untuk mereduksi risiko bencana geologi di Indonesia seperti gempa, tsunami, dan tanah longsor.

"Di dalam konteks bencana geologi, disamping bencana hidrometeorologi, maka BPPT telah berusaha mengupayakan teknologi terkait gempa dan tsunami, tanah longsor, tanah ambles, sebagai bagian dari upaya kita melaksanakan Peraturan Presiden nomor 93 tahun 2019," ujar Kepala BPPT Hammam Riza di Jakarta, Kamis.

Hammam menjelaskan teknologi pengembangan lembaganya yakni INATEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System), termasuk di dalamnya PEKA Tsunami atau prediksi kebencanaan berbasis kecerdasan artifisial tsunami. Tak hanya menguatkan pengembangan dari sisi perangkat kerasnya, namun juga manajemen kebencanaan berbasis artifisial.

Kemudian teknologi lainnya adalah LEWS (Landslide Early Warning System) atau sistem peringatan dini tanah longsor dengan mengembangkan sistem yang mendukung penyebaran informasi.

Baca juga: Memprediksi tsunami-karhutla berbasis kecerdasan artifisial

Baca juga: BPPT luncurkan alat peringatan dini tsunami

Dalam menghadapi tanah longsor, BPPT juga mengembangkan Biotekstile atau pengikat partikel tanah yang terbuat dari serabut kelapa. Solusi tersebut diyakini Hammam dapat mengatasi erosi dan tanah longsor, dan tengah bekerja sama dengan industri untuk hilirisasi mencegah bencana tersebut.

Selanjutnya, RTG atau rumah tahan gempa dengan mengembangkan teknologi material komposit polimer, sebagai solusi pembangunan, salah satunya di wilayah Lombok Utara.

Untuk monitoring kondisi kebencanaan dan alam terkini, serta sebagai referensi data dan informasi , BPPT meluncurkan INDI (Indonesia Network for Disaster Information) pada akhir tahun 2020.

INDI telah berjalan untuk asesmen kebencanaan seperti di Sulawesi Barat, melaksanakan kajian terkait penurunan tanah di beberapa kawasan seperti Jakarta, Semarang dan Bandung.

"Ini meningkatkan kecepatan kita untuk melaksanakan penanggulangan bencana dengan sistem peringatan dini yang lebih baik, lebih cepat, dan lebih akurat, bersama seluruh pemangku kepentingan BPPT, melaksanakan kontijensi planning untuk penanggulangan bencana," kata Hammam.

Baca juga: BPPT: Peringatan dini bencana untuk TV digital siap dikomersilkan

Baca juga: BPPT luncurkan rumah tahan gempa dan api untuk daerah rawan bencana

Pewarta: Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

BPPT haruslah menjadi pusat kecerdasan teknologi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar