CORE: Pembentukan Bullion Bank langkah strategis kelola emas Indonesia

CORE: Pembentukan Bullion Bank langkah strategis kelola emas Indonesia

Ilustrasi: Karyawan menunjukkan emas batangan di Butik Emas Antam, Kebon Sirih, Jakarta, Senin (18/1/2021). Harga emas PT Aneka Tambang (Persero) Tbk pada Senin (18/1) berada pada posisi Rp 944.000 per gram atau turun Rp4.000 dari perdagangan akhir pekan lalu. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/foc.

Kalau melihat dari posisi cadangan emas di Indonesia yang merupakan salah satu yang terbesar dunia, tentu ini merupakan salah satu kebijakan strategis dalam pengelolaan emas di dalam negeri
Jakarta (ANTARA) - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai rencana pemerintah untuk membentuk Bullion Bank merupakan kebijakan dan langkah strategis untuk memaksimalkan pengelolaan emas dalam negeri.

“Kalau melihat dari posisi cadangan emas di Indonesia yang merupakan salah satu yang terbesar dunia, tentu ini merupakan salah satu kebijakan strategis dalam pengelolaan emas di dalam negeri,” katanya kepada Antara di Jakarta, Jumat.

Yusuf percaya pembentukan Bullion Bank akan mampu memberikan banyak manfaat seperti yang telah diprediksikan pemerintah yakni mendorong penghematan devisa negara karena hasil emasnya bisa disimpan di dalam negeri.

Kemudian diversifikasi produk yang bisa dijual oleh pihak bank serta nantinya masyarakat juga bisa mendapatkan imbal hasil dari emas yang disimpannya.

“Apalagi nantinya bank mempunyai peran dalam mengontrol harga emas,” ujarnya.

Baca juga: Airlangga: Pemerintah kaji pembentukan Bullion Bank untuk kelola emas

Tak hanya itu, menurutnya, emas yang merupakan logam mulia bersifat likuid jika ingin digunakan sebagai instrumen investasi akan menambah minat dan pilihan masyarakat dalam berinvestasi di sektor ini.

“Adanya Bank Bullion saya kira bisa menambah minat dan pilihan masyarakat dalam berinvestasi di sektor ini,” katanya.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah menambahkan selama ini Indonesia memang tidak cukup dalam mengelola dan mengembangkan industri perhiasan emas.

Padahal Indonesia memiliki pertambangan Grasberg di Papua yang merupakan tambang emas terbesar di dunia setelah South Deep Gold Mine di Afrika Selatan dengan cadangan emasnya mencapai 30,2 juta ounce.

Selain itu Indonesia juga merupakan negara produsen emas terbesar ketujuh di dunia dengan produksi 2020 mencapai 130 ton per tahun atau 4,59 juta ounce.

Baca juga: Antam catat pertumbuhan produksi dan penjualan positif pada 2020

Di sisi lain PT Aneka Tambang atau Antam sebagai produsen asal Indonesia hanya tergolong sebagai junior gold miner company dengan produksi pada 2020 sebesar 1,7  ton.

Sementara konsumsi emas Indonesia cenderung masih rendah dengan rincian untuk retail investment 172.800 ounce dan perhiasan 137.600 ounce.

“Sebagaimana hasil mineral kita yang lain, kita selama ini memang tidak cukup mengelola emas. Kita tidak cukup mengembangkan industri perhiasan emas kita misalnya,” tegasnya.

Oleh sebab itu, Piter menuturkan Indonesia juga membutuhkan industri hilir yang mengelola emas agar industri perhiasan emas nasional mampu lebih optimal.

“Kita ekspor raw materials, granula. Kita impor perhiasan emas. Kita tidak punya industri pengelolaan emas. Jadi kita membutuhkan industri hilir yang mengelola emas,” jelas Piter.

Baca juga: Produksi emas RI anjlok, hingga Mei 2020 baru 9,98 ton

Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Bonus Menarik Bagi Peraih Medali Emas

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar