Surakarta jadi percontohan penanganan stunting

Surakarta jadi percontohan penanganan stunting

Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka (kanan) saat berdialog dengan Kepala BKKBN Pusat Hasto Wardoyo, di Kantor Balai Kota Surakarta, Senin (8/3/2021). ANTARA/HO.

Solo (ANTARA) - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat Hasto Wardoyo mengemukakan Pemerintah Kota Surakarta terpilih menjadi daerah percontohan untuk daerah lain, karena angka stunting di daerah itu termasuk terendah di Indonesia.

"Pemkot Surakarta telah memperoleh penghargaan berkat dedikasi dan komitmennya dalam pembangunan keluarga, kependudukan, dan keluarga berencana di daerah ini pada 2020," kata Hasto Wardoyo, saat kunjungan kerja di Solo, Jawa Tengah, Senin.

Menurut Hasto, Surakarta dipilih menjadi kota atau daerah percontohan karena angka stunting, termasuk terendah di Indonesia, berikut angka kematian ibu hamil juga rendah.

Jumlah balita stunting di Kota Surakarta, kata dia, sebanyak 1.059 anak, terdiri dari 104 balita sangat pendek dan 955 balita pendek. Dengan prosentase angka stunting sebesar 2,77 persen. Angka itu, jauh dibandingkan angka nasional sekitar 27,67 persen dan di Jawa Tengah sekitar 28,5 persen.

Wali Kota Suarakarta Gibran Rabuming Raka menjelaskan, pihaknya menyambut baik kunjungan Kepala BKKBN Pusat di Kota Solo dan mengharapkan dukungan dan pendampingan pusat untuk fokus pembinaan keluarga dan mengurangi angka stunting di daerah itu.

"Saya ingin punya rumah sakit dan puskesmas khusus untuk ibu dan anak. Kami ingin ada satu tempat untuk fokus pada ibu hamil dan anak. Jangan disatukan dengan orang sakit lainnya," kata Gibran.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Kota Surakarta Purwanti mengatakan, Kota Solo sudah memiliki program untuk mengantisipasi kasus stunting dan fertility rate dengan program "Konsultasi Pra-Nikah b waagi Calon Pinanganten" (Sultan Nikah Capingan).

"Kami mengandalkan Sultan Nikah Capingan untuk meredam sekaligus menurunkan angka stunting di Solo," katanya.

Dia menjelaskan pencegahan stunting di Kota Surakarta sudah dimulai dari intervensi sejak remaja, dengan program pemberian tablet tambah darah pada remaja putri. Untuk calon pengantin, adanya kerja sama dengan Kementerian Agama untuk konsultasi pranikah bagi semua calon pengantin, yang melibatkan petugas KB dan kesehatan, untuk screening penyakit infeksi menular seksual serta program kesehatan reperoduksinya. Kemudian diteruskan dengan intervensi pada ibu hamil.

Pemkot Surakarta sejak 2016 telah memberikan jaminan pemeriksaaan kesehatan secara gratis kepada seluruh ibu hamil, dan pelayanan laboratorium khusus kepada ibu hamil. Ini program yang sangat bagus, karena tidak semua daerah memberikan perhatian lebih kepada ibu hamil.

Pewarta: Bambang Dwi Marwoto
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar