Pemerintah bangun panel surya terapung di danau dan waduk telantar

Pemerintah bangun panel surya terapung di danau dan waduk telantar

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PTLS) Terapung Waduk Cirata di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat (Jabar) akan mulai di bangun pada tahun 2021, PLTS ini merupakan yang terbesar di Asia dan PLTS terapung pertama di Indonesia. ANTARA/HO-Humas Pemprov Jabar/am.

Potensi ini cukup besar karena Indonesia punya banyak waduk dan danau yang selama ini tidak termanfaatkan dengan baik
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral membangun panel listrik tenaga surya terapung di waduk dan danau terlantar, sebagai upaya mengurangi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan pembangkit fosil.
 
"Kami manfaatkan waduk-waduk ataupun danau-danau yang saat ini idle untuk kemudian dipasang floating solar photovolatic (PV)," kata Direktur Bioteknologi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Andriah Feby Misna di Jakarta, Senin.
 
Pemerintah memilih mengembangkan ladang listrik terapung untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan dalam upaya mengurangi emisi gas rumah kaca mengingat potensi sinar matahari di Indonesia berlangsung sepanjang tahun.
 
Potensi listrik surya terapung di Indonesia mencapai 12 Giga Watt (GW) tersebar di 28 lokasi. Pulau Sumatera punya tiga lokasi dengan potensi 7,15 GW. Kemudian Jawa dan Bali sebesar 1,9 GW tersebar di 13 lokasi, Kalimantan 26,7 Mega Watt (MW) ada di satu lokasi, lalu Sulawesi 2,9 GW di enam lokasi.
 
Kemudian wilayah Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara memiliki potensi ladang listrik surya terapung sebesar 39,4 MW tersebar di lima lokasi.
 
"Potensi ini cukup besar karena Indonesia punya banyak waduk dan danau yang selama ini tidak termanfaatkan dengan baik," kata Andriah.
 
Selain ladang panel surya terapung, pemerintah juga mendorong perusahaan-perusahaan tambang untuk memanfaatkan lahan reklamasi sebagai lokasi PLTS skala besar. Target listrik surya dari pemanfaatan lahan bekas tambang mencapai 10,7 GW pada tahun 2025.
 
PT Bukit Asam (Persero) Tbk, emiten BUMN batu bara, berencana mengembangkan bisnis listrik surya berdaya 200 MW di bekas lahan tambang. Bahkan sejumlah perubahan tambang swasta juga melakukan hal yang sama dalam upaya pengembangan energi ramah lingkungan.
 
"Indonesia punya pekerjaan berat untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 314 hingga 398 ton karbondioksida pada tahun 2030. Salah satu upayanya adalah melalui pengembangan energi baru dan terbarukan," kata Andriah.

Baca juga: Investasi 129 juta dolar AS, PLTS Terapung Cirata mulai dibangun 2021
Baca juga: BKPM jamin kawal proyek PLTS Terapung Cirata 145 MW
Baca juga: Menteri ESDM resmikan PLTS terapung PT Timah di Beltim

Pewarta: Sugiharto Purnama
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar