Rektor UII: Guru besar jangan terbawa arus narasi publik

Rektor UII: Guru besar jangan terbawa arus narasi publik

Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Fathul Wahid memberikan sambutan saat penyerahan surat keputusan (SK) guru besar kepada Noor Cholis Idham di Kampus UII, Yogyakarta, Selasa. (ANTARA/HO/Humas UII)

Yogyakarta (ANTARA) - Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Fathul Wahid mengatakan para guru besar di perguruan tinggi sudah saatnya meneguhkan diri menjadi pemikir mandiri dengan referensi yang kaya dan tidak lagi terbawa arus narasi publik.

"Apalagi di era pasca-kebenaran ketika opini sarat kepentingan lebih dikedepankan dibandingkan fakta," kata Fathul saat acara penyerahan surat keputusan (SK) guru besar kepada Noor Cholis Idham di Kampus UII, Yogyakarta, Selasa.

Menurut dia, narasi alternatif untuk meluruskan yang bengkok dan melengkapi perspektif, sangat ditunggu lahir dari para guru besar.

"Jika ini yang dilakukan, maka, para guru besar tidak lagi membangun argumen hanya untuk kepentingan diri sendiri atau kepentingan sesaat," kata dia.

Baca juga: Jenazah Artidjo dimakamkan di Kompleks Pemakaman UII Yogyakarta

Baca juga: ACT DIY-UII berangkatkan truk kemanusiaan ke derah bencana


Seorang guru besar, kata dia, tidak boleh bersikap elitis. Sebaliknya, mereka harus mampu membumikan ilmu yang dimiliki.

"Meski dari sisi cacah, guru besar adalah kalangan terbatas, namun tidak boleh bersikap elitis," kata dia.

Menurut Fathul, selain mampu membumikan ilmu yang dimiliki, guru besar harus mau terlibat dalam banyak aktivitas akademik serta pemecahan masalah nyata di lapangan.

"Guru besar tidak lantas merasa berhak mengasingkan diri dan hidup di menara gading, tetapi justru sebaliknya, harus tetap membumi," kata dia.

Guru besar, kata dia, adalah pengawal pengembangan ilmu pengetahuan yang relevan dengan zaman sebagai syarat penting majunya sebuah peradaban manusia.

Mengembangkan ilmu pengetahuan, menurut dia, adalah juga perintah agama. Ilmu pengetahuan mendapatkan posisi yang mulia dalam ajaran Islam.

"Bukankah wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW. adalah perintah "membaca" secara berulang? ," kata dia.

Ia berharap seorang guru besar tidak lupa dengan tugas utamanya dalam pengembangan ilmu, namun ilmunya pun harus diajarkan dan disebarkan kepada publik. Jabatan apapun yang diembannya jangan sampai menjadi alasan untuk berhenti mengembangkan diri, meneliti, dan menulis.

"Saya juga mengharapkan para guru besar memperluas bacaan untuk memperkaya perspektif terkait dengan konteks," kata dia.*

Baca juga: Dosen UII minta revisi UU MK dibatalkan

Baca juga: Yayasan Badan Wakaf UII bangun RS JIH di Purwokerto

Pewarta: Luqman Hakim
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Guru Besar Unpad: Observasi kasar, 30% masyarakat menolak vaksinasi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar