Kemristek bantu cari mitra untuk hilirisasi vaksin Merah Putih

Kemristek bantu cari mitra untuk hilirisasi vaksin Merah Putih

Peneliti beraktivitas di ruang riset vaksin Merah Putih di kantor Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Rabu (12/8/2020). Vaksin COVID-19 buatan Indonesia yang diberi nama vaksin Merah Putih tersebut ditargetkan selesai pada pertengahan tahun 2021. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/foc.

kita butuhkan adalah mereka mau masuk sedikit ke hulu
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Riset dan Teknologi (Kemristek)/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akan membantu mencari mitra industri untuk memproduksi dan melakukan hilirisasi vaksin Merah Putih.

"Kami mencoba mengajak swasta. Swasta yang bisa diajak dua kelompok satu perusahaan farmasi besar dan perusahaan yang biasa produksi vaksin untuk hewan," kata Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang PS Brodjonegoro dalam Rapat Kerja dengan Komisi IX DPR RI, Jakarta, Rabu.

Menristek Bambang menuturkan dari enam platform pengembangan vaksin Merah Putih, ada empat platform pengembangan yang harus dicarikan mitranya seperti bibit vaksin yang dikembangkan Universitas Indonesia dengan platform DNA, dan Institut Teknologi Bandung dengan olatform Adenovirus.

"Ketika ada swasta yang mau, kita inginnya swasta itu tidak hanya di fill and finish tidak hanya pembotolan saja istilahnya karena itu cuma ujungnya saja, yang kita butuhkan adalah mereka mau masuk sedikit ke hulu yaitu proses ioptimasi purifikasi dan sebagainya," ujarnya.

Baca juga: Menteri: Indonesia tingkatkan kemampuan pengembangan vaksin COVID-19

Baca juga: Menristek: Pengembangan vaksin perhatikan aspek aman dan terjangkau


Kemristek mendorong dan melakukan diskusi intensif dengan swasta untuk terlibat dalam memproduksi vaksin Merah Putih seperti perusahaan farmasi dan perusahaan yang sudah biasa membuat vaksin untuk hewan.

Dalam mendorong percepatan pengembangan vaksin Merah Putih, Menristek mengatakan dari BPOM sudah dapat informasi bahwa uji klinis yang biasanya enam bulan per fase atau total 18 bulan untuk fase 1, 2 dan3, bisa diperpendek menjadi delapan bulan untuk total tiga fase uji klinis karena bisa dilakukan paralel, misalnya saat tahap 2 belum selesai, tahap ketiga sudah bisa dimulai.

Menristek menyampaikan Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19 dan Konsorsium Vaksin Merah Putih akan dipimpin Prof. Wiku Adisasmito, menggantikan Prof. Ali Ghufron Mukti.

Dalam rapat itu, Menristek juga mendukung pengembangan Vaksin Nusantara.

Baca juga: Kemristek-Kemkes kerja sama pengembangan Vaksin Merah Putih

Baca juga: Setahun pandemi, pengembangan vaksin Merah Putih hampir tuntas


 

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Menristek: RT LAMP agar jadi alat tes COVID-19 daerah pelosok

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar