Menkes sebut pemerintah siap beli 426 juta vaksin COVID-19

Menkes sebut pemerintah siap beli 426 juta vaksin COVID-19

Dokumentasi - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengikuti rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (8/2/2021). Rapat kerja tersebut membahas usulan penambahan anggaran Kementerian Kesehatan dengan total sebesar Rp134,46 triliun untuk penanganan COVID-19. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc.

Yang membeli vaksin Gotong Royong nanti Biofarma sebagai BUMN, kemudian Biofarma bisa menjual ke korporasi dan oleh korporasi harus diberikan gratis kepada karyawan atau keluarganya
Jakarta (ANTARA) - Pemerintah sedang mempersiapkan pembelian sebanyak 426 juta vaksin COVID-19 untuk diberikan secara gratis kepada masyarakat, kata Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin.

"Untuk vaksinnya, kita persiapkan untuk membeli sebanyak 426 juta vaksin, sebanyak 275 juta di antaranya sudah konfirmasi positif untuk harga dan jadwal pengirimannya," katanya saat Rapat Kerja bersama Komisi IX DPR yang dipantau dari siaran langsung, di Jakarta, Senin.

Menkes mengatakan ada sebanyak 151 juta dosis vaksin yang belum terkonfirmasi jadwal pengiriman serta harga dikarenakan pemerintah masih masih menunggu vaksin gratis yang berasal dari The Global Alliance for Vaccines and Immunisation (GAVI) lewat skema multirateral.

Saat ini Indonesia sudah memperoleh 11,7 juta vaksin GAVI, bahkan informasi terakhir yang diterima Menkes jumlah itu bisa naik sampai 54 juta hingga 108 juta vaksin.

"Kalau bisa mendapatkan semaksimal mungkin secara gratis, maka tidak usah beli vaksin bilateral. Ini masih bergerak terus. Kita ketahui bersama bahwa vaksin ini rebutan di seluruh dunia," katanya.

Sementara itu, untuk vaksin Gotong Royong telah diterbitkan penggunaannya melalui Permenkes pada 5 Maret 2021 melalui penugasan yang diberikan kepada PT Biofarma dan dilanjutkan melalui kerja sama Biofarma dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin).

"Yang membeli vaksin Gotong Royong nanti Biofarma sebagai BUMN, kemudian Biofarma bisa menjual ke korporasi dan oleh korporasi harus diberikan gratis kepada karyawan atau keluarganya. Sengaja vaksin ini dibeli Biofarma untuk memastikan vaksin ini asli karena Biofarma sudah bergerak di bidang ini," katanya.

Untuk memastikan agar program vaksin Gotong Royong tidak menganggu jalannya program vaksinasi pemerintah, kata Budi, maka ditentukan jenis vaksin yang berbeda dari empat jenis vaksin punya pemerintah, yakni Sinovac, AstraZeneca, Novavax dan Pfizer.

Sejauh ini jenis vaksin yang sudah dikonfirmasi akan digunakan dalam program vaksinasi Gotong Royong berasal dari Sinopharm dan Moderna.

Kemenkes hingga saat ini masih menunggu harga dan jumlah dari kedua jenis vaksin tersebut berdasarkan hasil kesepakatan Biofarma dan Kadin. Kalau jumlah dan harga sudah disepakati, Kemenkes akan mengeluarkan aturannya.

"Agar tidak rebutan dengan program pemerintah ditentukan lokasi fasilitas pelayanan kesehatan yang berbeda. Gotong Royong ini lebih menggunakan fasilitas swasta. Kemudian sistem database menggunakan database yang sama supaya kita bisa monitor yang bersangkitan divaksin siapa dan awasi Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI) supaya bisa dijaga bersama-sama," demikian Budi Gunadi Sadikin.

* Berita ini telah di update, diperbaiki pada bagian judul dan teras berita.

Baca juga: Kemenkes terbitkan Permenkes atur pelaksanaan Vaksin Gotong Royong

Baca juga: Menaker sambut baik Vaksinasi Gotong Royong untuk dunia usaha

Baca juga: 806 faskes dipersiapkan untuk Vaksinasi Gotong Royong

Baca juga: Kadin: 8.300 perusahaan daftar program Vaksin Gotong Royong

Baca juga: Swasta siap bayar hingga Rp1 juta per orang untuk Vaksin Gotong Royong

 

Pewarta: Andi Firdaus
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Vaksinasi Gotong Royong tahap II sasar 500 ribu pegawai swasta

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar