Ketua DPD: Pendidikan guru berasrama masih jadi pilihan terbaik

Ketua DPD: Pendidikan guru berasrama masih jadi pilihan terbaik

Focus Group Discussion Perkumpulan Perguruan Tinggi Kependidikan Negeri (PPTKN), dengan tema; 'Pendidikan Guru Berasrama'. (ANTARA/HO-dok pri)

Jakarta (ANTARA) - Ketua DPD AA LaNyalla Mahmud Mattalitti berharap sistem pendidikan guru berasrama di Indonesia, terutama yang digagas dan diperjuangkan oleh Perkumpulan Perguruan Tinggi Kependidikan Negeri, dapat berjalan dengan baik sesuai harapan dan masih menjadi pilihan terbaik.

"Kami di DPD, khususnya melalui Komite III yang membidangi Pendidikan, tentu akan selalu terbuka untuk berdiskusi dan berdialog," ujar LaNyalla dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin.

Pria yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum PSSI itu menambahkan model pendidikan berasrama juga bentuk paling ideal untuk mendidik guru masa depan yang profesional.

"Sebab, pendidikan berasrama memungkinkan untuk membentuk karakter guru secara intensif. Sebab, kode etik keprofesionalan guru dianggap perlu diajarkan lewat pendidikan berasrama," kata dia.

Baca juga: Kemdikbud imbau peserta seleksi ASN PPPK waspadai praktik calo

Baca juga: Kemendikbud: Pemberian umpan balik belum menjadi budaya


Penilaian itu disampaikan LaNyalla saat memberikan arahan dalam Focus Group Discussion Perkumpulan Perguruan Tinggi Kependidikan Negeri (PPTKN), dengan tema; 'Pendidikan Guru Berasrama'.

Selain Ketua DPD, kegiatan ini juga diikuti Ketua PPTKN Profesor Ganefri, Sekretaris PPTKN, Profesor Fathur Rohman, serta sejumlah rektor perguruan tinggi kependidikan negeri. Hadir juga dalam FGD tersebut Dirjen Vokasi Kemendikbud Wikan Sakarinto.

Dia mengingatkan jika sekolah berasrama adalah sekolah dengan durasi proses pendidikan yang lama, maka diperlukan tenaga pengajar yang lebih banyak.

"Kasus yang dikaji menunjukkan bahwa kisaran rasio guru dengan peserta didik adalah satu banding lima. Selain tenaga pendidik, juga diperlukan pembina asrama dan berdasarkan kasus yang dikaji, kisaran rasio pembina asrama dengan peserta didik adalah 1 banding 10," urainya.

Tetapi, LaNyalla mengingatkan asrama khusus calon guru tak boleh diwujudkan asal-asalan. Menurutnya, harus ada regulasi yang mengatur peserta asrama. Dari bangun tidur, hingga tidur kembali.

"Kurikulum non-akademik di asrama juga wajib dijadikan pertimbangan kelulusan untuk menanamkan karakter pendidik yang cakap kepribadian dan sosial. Sebab, ukuran keberhasilan pendidikan guru berasrama harus dinilai secara komprehensif. Bukan hanya kecakapan keilmuan. Tetapi, guru berasrama harus mampu menjadi tauladan. Dengan karakter dan budi pekerti yang mampu menjadi acuan anak didik," tuturnya. .

Oleh karena itu, lanjut Senator asal Jawa Timur itu, nantinya para guru tersebut akan menjadi penentu dalam menjawab krisis multidimensi yang kini melanda generasi muda di Indonesia.

Baca juga: Akademisi: Kolaborasi guru-orang tua penting dalam penguatan karakter

“Diakui atau tidak, ada nilai-nilai luhur dan tradisi bangsa yang perlahan mulai memudar, seperti nilai kejujuran, kesantunan, kebersamaan, dan religius. Digantikan oleh budaya baru yang mengarah pada kehidupan yang hedonistik, materialistik, dan individualistik. Hal itu makin diperkuat dengan rentannya generasi muda terhadap pengaruh globalisasi," paparnya.

Maka, output guru berasrama harus punya keahlian dalam subyek matter, pintar merancang perangkat pembelajaran, menguasai seni mengajar, dan pandai menimbang atau melakukan evaluasi atas anak didik. "Yang terpenting juga memiliki karakter dan bisa menjadi tauladan," katanya.

Pewarta: Indriani
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021

PPKM dan larangan mudik jadi peluang usaha ekonomi kreatif

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar