Komisi VII DPR minta Pertamina percepat proyek gasifikasi batu bara

Komisi VII DPR minta Pertamina percepat proyek gasifikasi batu bara

Dokumentasi - Pekerja menurunkan tabung gas elpiji bersubsidi dari kendaraan saat pendistribusian ke salah satu pangkalan di Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (14/5/2020). ANTARA FOTO/Basri Marzuki/aww.

Elpiji subsidi dibutuhkan masyarakat, apalagi sekarang era COVID-19, sehingga manfaat yang bisa diperoleh dari elpiji tiga kilogram itu akan besar sekali bagi warga
Jakarta (ANTARA) - Komisi VII DPR meminta Pertamina untuk menyusun langkah strategis dan prioritas dalam mendorong produksi elpiji dalam negeri melalui proyek pengembangan gasifikasi batu bara, sehingga bisa mengurangi ketergantungan negara terhadap elpiji impor.
 
"Elpiji bisa digantikan dengan Dimetil eter (Dme) untuk mengurangi ketergantungan impor. Kami mendesak Pertamina untuk segera merealisasikan itu dengan catatan keekonomian gasifikasi batu bara bisa masuk," kata Wakil Ketua Komisi VII Eddy Soeparno dikutip melalui Warta Parlemen di Jakarta, Selasa.
 
Pertamina memproyeksikan impor elpiji untuk tahun ini sebanyak 7,2 juta metrik ton, angka tersebut meningkat 16 persen bila dibandingkan impor tahun 2020 yang hanya berjumlah 6,2 juta metrik ton.
 
Lebih lanjut, Eddy mengungkapkan bahwa usulan impor elpiji tahun ini untuk memenuhi kebutuhan nasional karena terjadi peningkatan permintaan dari masyarakat, terkhusus elpiji ukuran tiga kilogram.
 
"Elpiji subsidi dibutuhkan masyarakat, apalagi sekarang era COVID-19, sehingga manfaat yang bisa diperoleh dari elpiji tiga kilogram itu akan besar sekali bagi warga," kata Eddy Soeparno.


Baca juga: Pertamina kembangkan energi alternatif melalui gasifikasi batu bara
 
 
Sekedar informasi, gasifikasi batu bara merupakan proses konversi batu bara menjadi produk gas berupa Dimetil eter yang bisa digunakan untuk bahan bakar, maupun bahan baku industri kimia.
 
Dengan penerapan teknologi ini, maka Indonesia bisa mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar impor yang secara tidak langsung mengurangi beban subsidi terhadap keuangan negara, meningkatkan nilai tambah batu bara, dan membuka lapangan kerja baru.
 
Adapun terkait dampak polusi yang dihasilkan dari proyek gasifikasi tersebut, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memastikan emisi udara masih di bawah ambang batas yang ditetapkan bagi lingkungan.
 
Sedangkan terkait limbah cair dapat digunakan untuk bahan baku alternatif pembuatan amonia, sementara untuk limbah abu masih memerlukan proses penelitian lebih lanjut.


Baca juga: Pembangunan pabrik gasifikasi batubara di Tanjung Enim ditargetkan rampung 2022

aca juga: Pertamina-Bukit Asam kembangkan gasifikasi batubara dengan perusahaan AS
 
 
Diketahui, karakteristik Dimetil eter mirip dengan komponen elpiji berupa Propana dan Butana, sehingga bisa diterapkan untuk bahan bakar rumah tangga.
 
Sejumlah negara maju, seperti Jepang dan China telah memanfatkan Dimetil eter untuk solvent, aerosol propellant, refrigerant, bahan bakar kendaraan diesel hingga pembangkit listrik.
 
Apabila Pertamina bisa segera merealisasikan program gasifikasi batu bara menjadi produk Dimetil eter untuk disubstitusikan dengan elpiji, maka pemerintah dapat mengurangi kuota impor elpiji sebesar 20 persen.



Baca juga: Hilirisasi DME batubara diyakini tekan ketergantungan impor elpiji

Baca juga: Pemanfaatan DME bisa menghemat 20 persen konsumsi elpiji

Baca juga: Menperin usul DMO batubara dicabut demi substitusi impor elpiji


 

Pewarta: Sugiharto Purnama
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Susun RUU EBT, Komisi VII DPR gandeng UMM

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar