Artikel

Pandemi COVID-19 bikin orang susah tidur

Pandemi COVID-19 bikin orang susah tidur

Ilustrasi tidur (ANTARA/HO)

Jakarta (ANTARA) - Dr Andreas Prasadja, RPSGT dari Snoring and Sleep Disorder Clinic di RS Mitra Kemayoran Jakarta mengungkap bahwa sejumlah pasiennya mengalami masalah tidur sejak pandemi COVID-19 dimulai di Indonesia.

"Telah terjadi perubahan komposisi masalah tidur pada pasien saya. Sebelum pandemi, 50 persen pasien yang datang ke saya mengalami insomnia, sementara 50 persen lagi sleep apnea. Sekarang, 70 persen pasien saya adalah pasien insomnia dan 30 persen sleep apnea," kata dr Andreas dalam siaran pers, Kamis.

Kurang tidur dapat mengakibatkan produksi hormon stres meningkat, sehingga melemahkan sistem imun tubuh.

"Selain itu, bisa juga menyebabkan pembengkakan pada tubuh. Karenanya, mendapatkan tidur berkualitas menjadi lebih penting lagi di tengah pandemi ini," kata dia.

Baca juga: Tidur berkualitas tingkatkan kesehatan mental dan fisik

Baca juga: Tiga cara agar anak mudah tidur di malam hari


Menurut hasil studi tidur global Philips 2021 yang dirilis dalam rangka World Sleep Day 2021 mengungkapkan bahwa masyarakat di kawasan Asia-Pasifik dan di seluruh dunia, mengalami setidaknya satu atau lebih tantangan tidur sejak awal mula COVID-19, dengan hampir dua pertiga (62 persen) responden menyatakan pandemi telah berdampak secara langsung terhadap kemampuan mereka untuk tidur nyenyak.

Seperti ketakutan dan kekhawatiran dalam situasi krisis umumnya, pandemi ini telah memperburuk masalah tidur masyarakat dunia. Hampir setahun setelah COVID-19 merebak, masyarakat di Asia Pasifik melaporkan bahwa mereka tidur lebih banyak, dengan rata-rata 7,2 jam per malam (dibandingkan 7,1 jam pada studi di 2020), tetapi 1 dari 4 (41 persen) merasa tidak puas dengan tidur mereka.

"Bagi setengah dari responden survei di Asia Pasifik, pola tidur mereka telah berubah Ketika pandemi melanda – hampir seperempat (22 persen) menyatakan bahwa waktu tidur malam mereka berkurang setiap malam, dengan hanya 35 persen mengaku merasa cukup istirahat ketika bangun pagi, dan 44 persen mengalami kantuk di siang hari," kata Pim Preesman, Presiden Direktur Philips Indonesia.

Mendapatkan tidur yang nyenyak hingga pagi merupakan tantangan bagi banyak orang. Responden studi mengalami kesulitan seperti terbangun di tengah malam (42 persen), kesulitan tertidur (33 persen), dan sulit untuk tetap tertidur (26 persen).

Kekhawatiran dan stres menjadi alasan utama mengapa orang dewasa di Asia Pasifik kurang tidur (21 persen), disusul oleh penggunaan gawai seperti ponsel dan tablet (17 persen) serta lingkungan tidur (16 persen).

Masyarakat di Asia-Pasifik yang kerap terjaga akibat kekhawatiran/stres, mengatakan bahwa hal yang paling mereka khawatirkan adalah masalah finansial (54 persen), tanggung jawab pekerjaan (52 persen), kesehatan diri dan keluarga (38 persen), dan kondisi keluarga secara umum (34 persen). Hampir setengah (43 persen) juga khawatir dengan pandemi COVID-19 yang masih berlanjut.

Penggunaan ponsel dan akibatnya

Bagi yang terbiasa menggunakan ponsel di tempat tidur, separuh menyatakan bahwa itu adalah hal terakhir yang dilakukan sebelum tertidur dan pertama setelah terbangun.

Sebagian besar menggunakan untuk hiburan (49 persen), mengisi daya ponsel semalaman persis di samping tempat tidur (37 persen), dan lebih dari seperlima (22 persen) bahkan menjawab pesan dan panggilan telepon yang membuat mereka terbangun.

Sebagian besar responden yang menggunakan ponsel sebelum tertidur (78 persen) mengaku bahwa hal itu menyebabkan mereka tertidur lebih larut dari waktu yang seharusnya, akibat scrolling media sosial (75 persen), menonton video (67 persen), mengecek email (39 persen), berbalas pesan (37 persen), atau membaca berita terkait pandemi COVID-19 (45 persen).

Untuk mendapatkan tidur malam yang lebih baik, orang-orang bereksperimen dengan berbagai metode, termasuk mendengarkan musik yang menenangkan, membaca, menonton televisi, membuat jadwal untuk tidur dan bangun, mengurang konsumsi kafein, dan menggunakan aplikasi atau alat untuk memonitor tidur mereka.

Sisi positifnya, masyarakat di Asia Pasifik juga telah memanfaatkan telehealth dan mencari Informasi kesehatan online untuk mengatasi masalah tidur. Kesadaran umum akan pentingnya tidur dan kebutuhan untuk mengatasi akar masalah tidur juga membuat masyarakat lebih terbuka untuk pergi ke dokter spesialis tidur (45 persen), dokter umum (41 persen), mencari Informasi secara online (41 persen), dan menggunakan telehealth atau berkonsultasi dengan spesialis secara online (40 persen).

"Alat yang dibutuhkan untuk memberikan layanan telehealth secara efisien dan andal sudah ada, dan minat dari konsumen juga terlihat, terutama di masa COVID-19," kata Dr Teofilo Lee-Chiong, MD, Chief Medical Liaison, Sleep & Respiratory Care di Philips.

"Jika digunakan dengan tepat, telehealth kesehatan tidur memiliki potensi untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan, meningkatkan hasil akhir perawatan, memberdayakan pasien untuk membuat keputusan terinformasi, dan menyediakan layanan kesehatan yang merata bagi semua orang."

Obstructive sleep apnea (OSA)

Ketika masyarakat di Asia Pasifik mulai mencari berbagai cara untuk mengatasi masalah tidur, rasa takut masih menjadi penghalang bagi penderita untuk mendapatkan diagnosa gangguan tidur, seperti obstructive sleep apnea (OSA). Satu dari tiga (31 persen) responden takut untuk menjalani tes tidur karena tidak mau mengetahui jika mereka menderita OSA, sementara 28 persen percaya bahwa tidak perlu mendapatkan perawatan untuk OSA.

Sebagai kondisi yang jarang didiskusikan, dan sering tidak terdiagnosa, OSA ditandai dengan gangguan pernapasan atau henti napas beberapa kali sepanjang tidur sehingga mencegah oksigen mencapai paru-paru. Gejala OSA termasuk tersedak atau napas tersengal saat tidur, dengkuran yang keras dan terus-menerus, kelelahan berlebihan dan konsentrasi yang buruk di siang hari.

"OSA telah teridentifikasi sebagai faktor risiko independen untuk penyakit COVID-19 parah yang bisa mengakibatkan pasien harus dirawat di rumah sakit. OSA juga secara independen dapat meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas terkait COVID-19," tutur dr Andreas dalam paparannya di acara memperingati World Sleep Day 2021 bersama Philips Indonesia. “Sayangnya, masih banyak orang yang tidak menyadari hal ini dan menyepelekan gejala OSA, terutama mendengkur."

Baca juga: Kerap konsumsi kafein & mudah tersinggung tanda tidur tak berkualitas

Baca juga: 10 langkah peroleh tidur sehat dan berkualitas

Baca juga: Ajari anak patuhi jadwal makan dan tidur sejak bayi

Pewarta: Ida Nurcahyani
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar