Co-firing biomassa jadi strategi PLN kurangi emisi karbon PLTU

Co-firing biomassa jadi strategi PLN kurangi emisi karbon PLTU

Ponton besar bermuatan ribuan ton batu bara meningalkan pelabuhan khusus batu bara, Tarahan, Kota Bandarlampung, Jumat (30/7). Batu bara produksi PT Bukit Asam (PTBA) itu sebagian untuk memenuhi kebutuhan bahan baku Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya di Merak, Provinsi Banten, dan sebagian lagi diekspor. (FOTO ANTARA/MTohamaksun/ss/pd/10)

Kami menambahkan bahan bakar biomassa ke dalam tungku pembakaran PLTU, sehingga konsumsi batu bara bisa berkurang dan menurunkan emisi gas rumah kaca dengan tetap menjaga produk dari listrik tersebut
Jakarta (ANTARA) - PT Perusahaan Listrik Negara berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara melalui penerapan metode co-firing biomassa.

"Kami menambahkan bahan bakar biomassa ke dalam tungku pembakaran PLTU, sehingga konsumsi batu bara bisa berkurang dan menurunkan emisi gas rumah kaca dengan tetap menjaga produk dari listrik tersebut," kata Direktur Manajemen Sumber Daya Manusia PLN Syofvi Flienty Roekman di Jakarta, Kamis.

Terdapat enam pembangkit listrik batu bara milik PLN yang telah berhasil menjalankan metode co-firing biomassa, yaitu PLTU Paiton dan PLTU Pacitan di Jawa Timur, PLTU Jeranjang di Nusa Tenggara Barat, PLTU Suralaya di Banten, serta PLTU Sanggau dan PLTU Ketapang di Kalimantan Barat.

PLN menargetkan akan melakukan co-firing biomassa pada 52 PLTU batu bara berkapasitas total 18.152 MegaWatt (MW) hingga 2025, dengan kebutuhan biomassa yang berasal dari hutan tanaman energi dan sampah mencapai 9-12 juta ton per tahun.

Metode co-firing biomassa PLTU batu bara diharapkan dapat mendukung peningkatan bauran energi baru dan terbarukan (EBT) nasional sebesar 23 persen pada 2025, sekaligus mendukung komitmen negara terhadap perjanjian Paris Agreement.

Selain metode co-firing, PLN juga mengembangkan konsep clean coal technology untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar, terkhusus pada PLTU skala besar berkapasitas hingga 1.000 MW.

Sejak 2 Maret, PLN telah mengimplementasikan perdagangan emisi karbon antara pembangkit listrik fosil dengan pembangkit listrik energi hijau. PLTU Paiton di Jawa Timur telah membeli sertifikat penurunan emisi sebesar 1.000 ton karbondioksida dari PLTA Sipansihaporas di Sumatera Utara.

"PLN berharap bisa berkontribusi terhadap pencapaian target penurunan emisi gas rumah kaca pemerintah dalam perjanjian Paris Agreement," kata Syofvi.

Pemerintah saat ini sedang melakukan uji coba perdagangan emisi karbon sektor energi dengan melibatkan 80 PLTU batu bara di seluruh Indonesia. Uji coba perdagangan karbon dilakukan sejak Maret hingga Agustus 2021.

Total emisi gas rumah kaca dari 80 pembangkit listrik batu bara tersebut mencapai 159 juta ton karbondioksida. Skema perdagangan karbon menggunakan cap, trade, dan offset sehingga diperlukan pembatasan terhadap nilai emisi karbon yang dihasilkan dari setiap pembangkit listrik.

Pemerintah memiliki komitmen untuk menurunkan emisi sebesar 314 juta hingga 398 juga ton karbondioksida pada 2030 mendatang, melalui program pengembangan energi hijau yang ramah lingkungan.

Baca juga: PLN kejar target uji coba "co-firing" PLTU biomassa

Baca juga: PLN gandeng PTPN III-Perhutani cari pasokan biomassa untuk PLTU

Baca juga: Pemerintah kembangkan "co-firing" biomassa sebagai pengganti batubara

 

Pewarta: Sugiharto Purnama
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Idrus Marham akui kenal Samin Tan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar