Mendag optimistis ekspor Indonesia tahun 2021 tumbuh 4 persen

Mendag optimistis ekspor Indonesia tahun 2021 tumbuh 4 persen

Dokumentasi. Tangkapan layar - Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi saat konferensi pers virtual menjelang Rapat Kerja Kemendag di Jakarta, Kamis (4/3/2021). ANTARA/Tangkapan layar Youtube Sekretariat Presiden/pri. (ANTARA/Tangkapan layar Youtube Sekretariat Presiden)

Meskipun kenaikan ekspor harus mencapai 4 persen, namun Kemendag merancang strategi agar ekspor tumbuh 6,3 persen
Jakarta (ANTARA) - Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi optimistis bahwa kinerja ekspor Indonesia akan tumbuh 4 persen tahun ini guna menopang pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5-5,5 persen, sesuai target yang dipatok pemerintah.

“Saya berkeyakinan itu bakal terjadi karena ada yang disebut namanya supercycle daripada komoditi,” ungkap Mendag saat menggelar konferensi pers secara virtual di Jakarta, Jumat.

Mendag menyampaikan, melihat perhitungan lembaga rating dunia, seperti IMF (Dana Moneter Internasional) dan OECD (Organisation for Economic Co-Operation and Development) keduanya melakukan koreksi terhadap perekonomian dunia dengan menyebutkan angkanya akan naik.

“Kalau kita lihat daripada lembaga rating dunia terutama IMF, OECD memberikan update daripada perekonomian dunia, yang naik. Jadi, artinya dikoreksi tetapi bukan koreksi turun, tapi koreksinya naik,” ungkap Mendag.

Sedangkan, RI membidik perekonomian tumbuh 5-5,5 persen tahun ini, di mana untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi tersebut, maka nilai ekspor harus tumbuh 4 persen, pertumbuhan impor tidak boleh lebih dari 2 persen, konsumsi rumah tangga harus naik 5 persen, dan investasi perlu tumbuh 13,7 persen.

Terkait hal tersebut, dari sisi perdagangan, Mendag menyampaikan dua hal yang bersinggungan langsung yakni ekspor dan impor.

Meskipun kenaikan ekspor harus mencapai 4 persen, namun Kemendag merancang strategi agar ekspor tumbuh 6,3 persen.

Optimisme Mendag tersebut didukung oleh tren adanya supercycle komoditi, yakni komoditas yang harganya naik kencang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, di antaranya harga minyak mentah, harga LNG, beras, iron ore, dan copper.

“Beberapa harga komoditas utama dunia mencatatkan rekor kenaikan sangat signifikan di 2020, yang memicu spekulasi adanya supercycle komoditi di tahun 2020-2021 yang diakibatkan oleh stimulus ekonomi di negara maju, nilai tukar dolar yang kian melemah, dan permintaan yang naik drastis di RRT dan negara industri di Asia,” ujar Mendag.

Baca juga: Menteri PPN nilai investasi dan ekspor kunci pemulihan ekonomi 2022
Baca juga: Bappenas prediksikan ekonomi 2021 tumbuh 4,8 persen
Baca juga: Presiden : Investasi dan lapangan kerja kunci pertumbuhan ekonomi 2021

 

Pewarta: Sella Panduarsa Gareta
Editor: Biqwanto Situmorang
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Daging rajungan Desa Waru Duwur dikirim ke Amerika Serikat

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar