Telaah

Diskursus membangun peradaban melalui cinta

Oleh dr. Dito Anurogo, M.Sc.

Diskursus membangun peradaban melalui cinta

Seorang petugas kesehatan berjalan di depan ruang bersalin Taman Cinta, Puskesmas Duren Sawit, Jakarta Timur, Kamis (7/1/2021). Puskesmas Duren Sawit menyiapkan ruang bersalin khusus tersebut sebagai upaya dalam memberikan pelayanan kepada ibu hamil yang terkonfirmasi positif COVID-19 dan sampai saat ini telah menangani lima orang pasien. ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/wsj.

Studi tentang cinta merupakan kajian yang multidisipliner, meliputi bidang psikologi, neurosains, neurobiologi, endokrinologi, biologi molekuler, humaniora, filsafat, sastra, bahasa, agama, tasawuf, dan disiplin ilmu penunjang lainnya
Jakarta (ANTARA) - Peradaban dan kejayaan suatu bangsa dibangun berdasarkan literasi, sejarah, geopolitik, ekonomi, budaya, bahasa, agama, spiritualitas, humaniora, kesehatan, teknologi, sains. Induk dari pengetahuan adalah filsafat. Intisari dari filsafat adalah Cinta akan kebijaksanaan dan kebaikan. Jadi tidaklah berlebihan bila peradaban bangsa dibangun berpondasikan cinta.

Cinta adalah "emosi" dan perasaan yang dapat dijelaskan melalui pemahaman aktivitas otak dan sistem persarafan yang terkait dengan cinta. Dikaji dari perspektif atau pendekatan manapun, pertanyaan tentang cinta pastilah menemukan jawabannya. Jawaban itu nantinya akan memunculkan pertanyaan lagi. Hal itu tidaklah aneh mengingat kompleksitas cinta.

Studi tentang cinta merupakan kajian yang multidisipliner, meliputi bidang psikologi, neurosains, neurobiologi, endokrinologi, biologi molekuler, humaniora, filsafat, sastra, bahasa, agama, tasawuf, dan disiplin ilmu penunjang lainnya. Oleh karena multiperspektif, maka pembahasan cinta di artikel ini berfokus hanya pada aspek psikoneurobiologi. Tentunya, disiplin ilmu lain berfungsi sebagai komplementer.

Segitiga cinta

Psikolog Robert Stenberg mengemukakan teori segitiga cinta. Teori ini menjelaskan aspek interpersonal dari cinta. Segitiga memiliki tiga sudut, melambangkan tiga aspek cinta, yakni perasaan suka (intimacy), infatuasi alias kegilaan (passion), serta cinta hampa (keputusan atau komitmen).

Perpaduan antara passion dan intimacy melahirkan cinta romantis. Kombinasi antara passion dan komitmen mencetuskan cinta bodoh (fatuous love). Akulturasi antara intimacy dan komitmen menimbulkan cinta harmonis (companionate love). Penyatuan aspek intimacy, passion, dan komitmen memunculkan cinta sempurna (consummate love).

Seperti "emosi" lainnya, cinta dikendalikan oleh faktor-faktor endokrin. Beberapa faktor teridentifikasi berperan penting dalam cinta romantis, seperti testosteron, serotonin, kortisol, vasopresin, beragam hormon lainnya, faktor pertumbuhan saraf, serta dopamin. Sistem "reward" dopamin berinteraksi dengan beragam hormon lainnya, seperti oksitosin dan vasopresin.

Cinta romantis melibatkan jejaring berkenaan dengan dopaminergik, termasuk beberapa area di otak seperti globus pallidus, nukleus kaudatus, putamen, area tegmental ventral, serta area terkait emosi seperti hipokampus, insula medial, dan singulat anterior.

Ketiga area otak yang disebutkan terakhir berperan meregulasi perasaan dihargai-dicintai sekaligus bertanggung-jawab atas perkembangan cinta.

Stadium hubungan

Cinta bermula dari hubungan. Sebutlah semisal pertemuan, perkenalan, pertemanan, persahabatan, atau sekadar kebetulan. Hubungan ini juga memiliki stadium, seperti romance, akomodasi, tantangan/penolakan, kepercayaan utuh, eksplorasi seksual, stabilitas, komitmen, dan kokreasi. Stadium hubungan menuju "kebahagiaan sejati" itu juga dapat dirumuskan singkat menjadi 6C, yakni choice (pilihan), commitment (komitmen), celebration (perayaan), compassion (keampunan), cocreation (kokreasi), dan courage (keberanian).

Dalam terminologi Urdu  -- disertai padanan dalam istilah bahasa Inggris --, terdapat tujuh stadium cinta; hub (attraction), uns (infatuation), Ishq (love), aqeedat (reverence), ibaadat (worship), junoon (obsession), dan maut (death).

Dari terminologi ini, jelaslah bahwa ada seseorang yang rela mati atas nama Cinta. Sebab Cinta memang bersinonim dengan kematian.

Dalam terminologi Yunani kuno (Greek), ada 10 stadium Cinta. Pertama, porneia. Identik dengan lapar akan cinta. Kedua, pothos. Maksudnya, keberlekatan posesif atau cinta miskin. Ketiga, mania atau pathe. Maknanya, cinta bernafsu, penuh gairah, godaan, bujukan, rayuan. Keempat, eros. Artinya cinta seksual, energi kehidupan (in-love-ness).

Kelima, philia. Intinya, cinta persahabatan. Keenam, storge. Bermaksud penghormatan, kelembutan hati, kehalusan budi. Ketujuh, harmonia. Berarti cinta harmoni, kebaikan, keseimbangan, keselarasan. Kedelapan, charis. Bermakna cinta religius, penghambaan. Kesembilan, eunoia. Ini serupa dengan perayaan, ungkapan syukur, rasa terima kasih. Ke-10, agape. Ini adalah puncak Cinta, alias cinta yang membebaskan (unconditional love).

Stadium hubungan Cinta yang menarik dibahas adalah pernikahan. Meskipun tidak semua cinta berakhir dengan pernikahan. Di dalam pernikahan, sepasang sejoli akan merasakan dan mengalami stadium romance, realitas, kekuatan perjuangan, menemukan jatidiri, rekonsiliasi, respek mutual dan Cinta. Stadium pernikahan ini bermula dari dependen, menjadi interdependen, hingga independen.

Fase Cinta

Cinta memiliki beberapa fase. Pertama, gairah, birahi, nafsu, syahwat, renjana. Istilah kerennya lust-passion. Pada fase ini, beberapa organ tubuh berperan penting. Misalnya: otak primitif yakni sistem limbik mengendalikan ketertarikan seksual dan ikatan interpersonal. Hormon seks memroduksi testosteron dan estrogen memperkuat hasrat seksual.

Menariknya, kortisol yang dikenal sebagai hormon stres, ternyata meningkat saat seseorang jatuh cinta. Ini membuktikan bahwa jatuh cinta itu hakikatnya peristiwa yang menimbulkan ketegangan jiwa dan kegoncangan mental.

Kedua, daya tarik (attraction). Di fase ini, hormon yang berperan adalah adrenalin, dopamin, dan serotonin. Adrenalin memberi energi ekstra pada sejoli yang sedang kasmaran, sekaligus pemicu hilangnya selera makan dan insomnia (gangguan tidur) di malam hari.

Dopamin mengendalikan hasrat, kebahagiaan, dan penghargaan. Sehingga membuat para pe(n)cinta mengharapkan kehadiran sang Kekasih. Serotonin bertanggung-jawab atas kebahagiaan, kenyamanan, dan kesejahteraan. Perubahan kadar serotonin membuat seseorang kehilangan konsentrasi, melamun, serta berperilaku obsesif.

Ketiga, perlekatan, keintiman. Bahasa asingnya attachment. Di fase ini, oksitosin dan serotonin berperan penting. Oksitosin berfungsi sebagai "hormon cinta" sebagai daya pikat, daya ikat, dan daya lekat dengan sang kekasih. Sedangkan kadar serotonin di fase ini berangsur-angsur normal. Kondisi stres di fase pertama digantikan oleh kepercayaan, keamanan, dan empati.

Cinta perspektif sains

Studi neurosains dan biologi molekuler berhasil mempertautkan cinta dengan sistem limbik yang terdiri dari lobus temporal, hipotalamus, amigdala, dan hipokampus. Komponen fungsional sistem limbik ini merupakan komponen penting dari proses emosi, motivasi, dan memori.

Hipotalamus juga berperan dalam cinta romantis karena ia memiliki kecenderungan untuk terikat dengan mamalia melalui sekresi neuropeptida, oksitosin, dan vasopresin. Produksi hipotalamus (berupa dopamin, oksitosin, vasopresin) berperan penting saat seseorang jatuh Cinta. Amigdala mengatur ketakutan dan stres. Kelenjar pituitari di otak meregulasi berbagai hormon dan mensekresikan ke tubuh.

Berdasarkan pindai otak (brain scan), beberapa area di otak berperan penting dalam perasaan cinta. Daerah itu terkenal sebagai "otak Cinta". Misalnya: nukleus akumbens (kegilaan cinta), area tegmental ventral (cinta baru dan area penghargaan), nukleus raphe (pencinta jangka panjang, area pemberi kenyamanan), ventral pallidum (kegilaan cinta setelah 20 tahun, terkait dengan kasih sayang).

Riset lain berhasil membuktikan keterlibatan nerve growth factor (NGF) dalam cinta romantis. NGF adalah suatu neurotrofin yang penting dalam keberlangsungan hidup neuron dan perkembangan sistem persarafan, terutama di stadium awal cinta romantis pada orang yang mengalami euforia dan ketergantungan emosional.

Seseorang yang sedang tidak jatuh cinta atau memiliki hubungan persahabatan jangka panjang memiliki kadar NGF yang lebih rendah dibandingkan dengan seseorang yang baru saja memiliki kekasih. Kadar NGF di tubuh secara langsung berkorelasi dengan intensitas perasaan romantis.

Bahasa cinta

Konflik di dalam rumah tangga terkadang muncul akibat perbedaan bahasa cinta di antara suami istri. Begitu pula saat berpacaran. Mengalah terkadang bukan solusi terbaik, meskipun berpisah juga bukan resolusi terbaik. Pemahaman bahasa Cinta mutlak diperlukan bagi seseorang untuk memahami apa yang diinginkan pasangannya. Ada setidaknya lima bahasa cinta.

Pertama, "quality time". Intinya, memberikan waktu berkualitas. Pasangan dengan bahasa cinta ini memerlukan momentum khusus untuk hanya berdua dengan pasangannya, meskipun hanya 15 menit. Bisa hanya ngobrol berdua, bercanda atau tertawa bersama, berjalan kaki berdua, atau makan malam berdua dengan cahaya temaram lilin.

Kedua, kata afirmasi. Maksudnya, memberikan pujian. Pasangan dengan bahasa Cinta ini terkadang memberikan apresiasi berupa chat romantis, kartu ucapan. Balasan yang diharapkan amat sederhana: cukup didengarkan atau ucapan terima kasih.

Ketiga, aksi pelayanan. Maknanya, memberikan pelayanan. Pasangan dengan bahasa Cinta ini umumnya membuktikan Cinta bukan dengan ucapan melainkan tindakan nyata. Misalnya: membantu memasak, mencuci piring, mengepel lantai, membawakan barang. Banyak kesalahpahaman karena pasangan seperti ini tidak dapat memuji kekasihnya alias tidak romantis.

Keempat, hadiah. Caranya dengan memberikan hadiah. Pasangan dengan bahasa cinta ini umumnya akan sering memberikan kejutan di hari spesial. Bisa memberikan kado di hari ulang tahun, memberikan perhiasan sebagai tanda cinta, dan hadiah lain yang dirasakan spesial bagi kekasihnya.

Kelima, sentuhan fisik. Ini berarti memberikan sentuhan. Pasangan dengan bahasa Cinta ini seringkali memberikan kecupan, pelukan, ciuman, atau sentuhan sebagai ungkapan cintanya.

Cinta merupakan sebuah pondasi peradaban. Keajaiban dan keberuntungan dapat diciptakan dari pikiran jernih dan hati yang penuh cinta kasih. Dari sinilah dimulai perubahan suatu peradaban. Dari satu individu, mampu menggerakkan satu keluarga.

Keluarga ini menjadi teladan dan panutan yang menginspirasi masyarakat. Harmonisasi di kehidupan bermasyarakat menjadikan suatu bangsa menjadi jaya, unggul, maju, sejahtera.

Bila kondisi ini terjadi di semua bangsa di dunia, maka secara bertahap, peradaban akan menjadi cemerlang. Singkatnya, melalui cinta, mari kita bersama mencerahkan peradaban.

Baca juga: "Ajari Aku Islam" bawa pesan cinta dan persatuan

Baca juga: Pengamat apresiasi imbauan Presiden untuk cinta produk dalam negeri

Baca juga: "Hujan Di Balik Jendela", kisah cinta segitiga dan penyembuhan




*) dr Dito Anurogo, M.Sc adalah mahasiswa studi S3 di IPCTRM Taipei Medical University Taiwan, pendidik di FKIK Universitas Muhammadiyah Makassar, Dokter Rakyat di Kampus Desa Indonesia, penulis produktif berlisensi BNSP, dewan pembina/penasihat/pendiri/pengurus/anggota di sejumlah organisasi/komunitas berskala Internasional hingga regional).
 

Oleh dr. Dito Anurogo, M.Sc.
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Peninggalan budaya Jalur Sutra dipamerkan di China timur

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar