Gangguan gizi dan diare jadi komorbid kasus COVID-19 anak di Indonesia

Gangguan gizi dan diare jadi komorbid kasus COVID-19 anak di Indonesia

Ilustrasi - Seorang anak digendong ibunya. ANTARA/Pixabay.

Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum PB IDI, Daeng M Faqih mengatakan, gangguan gizi dan diare menjadi penyakit penyerta atau komorbid yang menyebabkan pasien COVID-19 pada anak meninggal dunia.

"Di Indonesia, komorbid pada anak ada kekhasan dibanding negara lain, makanya anak di Indonesia banyak kasus meninggal misalnya kasus pneumonia, demam berdarah, gangguan gizi dan diare," kata dia dalam konferensi daring bertema "Peduli Gizi Anak Selama Pandemi", Kamis.

Daeng menyebutkan, angka kematian anak akibat COVID-19 di Indonesia tertinggi di antara negara-negara kawasan Asia Tenggara, China dan Amerika Serikat dengan angka 1,7 persen.

Baca juga: Pentingnya variasi menu pada makanan anak

Baca juga: Sumber gizi penting agar anak bisa fokus sekolah dari rumah


Agar anak tak sampai terkena diare sekaligus kebutuhan zat gizinya terjaga, dia menyarankan para orang tua memastikan asupan makanan mengandung zat gizi seimbang seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, ditambah zinc, asam folat, dan mikronutrisi lainnya.

"Supaya nutrisi terserap dengan baik, keseimbangan mikroorganisme dalam usus, probiotik penting ada dalam makanan. Dengan probiotik baik maka keseimbangan mikroorganisme menjadi baik, serapan nutrisi akan juga menjadi baik," tutur Daeng.

Dalam kesempatan yang sama, dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas sekaligus Head of Medical KABLE Nutritionals Muliaman Mansyur mengatakan, selain memberi makanan sehat dan seimbang, orang tua juga perlu memberikan nutrisi tambahan yang tepat karena dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh anak.

Nutrisi tambahan yang diberikan ini bisa berupa susu, sayur-sayuran, dan buah-buahan untuk untuk mendukung saluran pencernaan yang lebih sehat, agar bakteri baik yang ada di dalamnya bisa membentuk daya tahan tubuh yang lebih optimal.

Menurut dia, serat pangan inulin bisa menjadi salah satu senjata utama dalam menjaga kesehatan tubuh anak sekaligus tumbuh kembangnya.

"Serat pangan inulin adalah salah satu jenis prebiotik yang tinggi serat dan rendah kalori serta dapat menjadi pilihan nutrisi yang bermanfaat bagi saluran pencernaan anak, apalagi saluran pencernaan sering disebut sebagai otak kedua manusia," kata Muliaman.

Daeng menambahkan, pola makan seimbang yang terdiri dari nutrisi makro (karbohidrat, protein, lemak) dan nutrisi mikro (vitamin dan mineral) juga perlu dikombinasikan dengan pola hidup bersih sehat (PHBS) seperti rajin cuci tangan, menghindari keramaian, memakai masker, tidur cukup, tetap beraktivitas fisik, serta stres rendah, paling efektif membantu tubuh melawan infeksi virus dan penyakit.

"Hal ini sama pentingnya untuk orang dewasa maupun anak-anak, apalagi dalam situasi saat ini. Oleh karenanya para orang tua dan anggota keluarga perlu memperhatikan dengan benar-benar pemenuhan nutrisi dan juga aktivitas anak sehari-hari," ujar dia.

Baca juga: Menteri PPPA minta edukasi pencegahan stunting ditingkatkan

Baca juga: Lindungi anak saat pandemi dengan gizi baik

Baca juga: Hadapi anak yang pilih-pilih makanan, begini kiat Alyssa Soebandono

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Pentingnya deteksi dini stunting pada anak

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar