Menristek: Sinergi triple helix wujudkan ekonomi berbasis inovasi

Menristek: Sinergi triple helix wujudkan ekonomi berbasis inovasi

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Nasional (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro. (ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak)

Jakarta (ANTARA) - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Nasional (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro mengatakan perlu sinergi triple helix yang kuat untuk mewujudkan ekonomi berbasis inovasi di Indonesia.

"Untuk menuju innovation driven economy (ekonomi berbasis inovasi)termasuk di bidang kesehatan diperlukan sinergi yang kuat antara tiga pihak (akademisi, dunia swasta/industri, pemerintah). Ini yang juga masih kurang berjalan dengan baik di Indonesia selama ini," kata Menristek Bambang dalam seminar virtual (webinar) Ketahanan dan Kemandirian Kesehatan Indonesia, Jakarta, Kamis.

Menristek Bambang menuturkan sinergi antara peneliti dengan dunia industri sebenarnya adalah kunci dari keberhasilan mendorong kegiatan riset yang kemudian berujung pada inovasi yang bisa membantu menyelesaikan permasalahan di masyarakat.

Baca juga: Kemristek dorong peran swasta lebih banyak dalam riset-pengembangan

Dalam sinergi itu, pemerintah tentunya harus selalu berupaya agar pihak akademisi dan industri benar-benar bisa saling berkomunikasi, berinteraksi dan akhirnya bisa melahirkan inovasi yang dibutuhkan masyarakat.

"Memang inilah jantung dari lahirnya riset dan inovasi di Indonesia, kemauan kita untuk menjalankan proses triple helix dengan baik," tutur Menristek.

Menristek Bambang mengatakan triple helix tentunya tidak bisa hanya berhenti sekadar konsep tapi pihaknya mencoba untuk membumikan konsep triple helix.

Salah satu caranya adalah dengan membuat Prioritas Riset Nasional di mana berbagai target produk yang ingin dilahirkan termasuk di bidang kesehatan harus dilakukan dengan melibatkan tiga pihak yakni akademisi, dunia swasta, pemerintah.

"Yang namanya Prioritas Riset Nasional bukan hanya tugasnya periset atau peneliti atau dosen tapi juga menjadi tanggung jawabnya industri dan tentunya menjadi tanggung jawab pemerintah," ujarnya.

Baca juga: Menteri: Tes COVID-19 dengan RT LAMP Saliva setengah harga dari RT PCR
Baca juga: Menristek: RT LAMP Saliva tingkatkan kapasitas pengujian COVID-19
Baca juga: Menristek: RT Lamp Saliva gunakan air liur permudah tes COVID-19

Pewarta: Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Menristek: RT LAMP agar jadi alat tes COVID-19 daerah pelosok

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar