Perpustakaan nasional konservasi ratusan manuskrip Aceh

Perpustakaan nasional konservasi ratusan manuskrip Aceh

Tim Pustakawan Ahli Perpustakaan Nasional saat membersih manuskrip Aceh milik kolektor Tarmizi A Hamid, di Banda Aceh, Kamis (25/3/2021). ANTARA/HO-Dok.pribadi

manuskrip Aceh ini sebagai pelita yang tidak pernah padam
Banda Aceh (ANTARA) - Tim Pusat Preservasi Naskah Kuno dan Alih Media Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI melakukan konservasi 150 manuskrip Aceh milik kolektor Tarmizi Abdul Hamid untuk pemanfaatan terhadap keilmuan nusantara.

"Tahun ini kami diamanahkan untuk melakukan konservasi di rumah manuskrip Aceh," kata salah seorang Tim Pustakawan Ahli dan Preservasi Naskah Kuno Perpusnas RI Leni Sudiarti, di Banda Aceh, Kamis.

Leni mengatakan, Perpusnas memiliki kewajiban untuk melestarikan manuskrip yang ada di nusantara khususnya manuskrip asli. Apalagi, banyak manuskrip di nusantara memiliki keasliannya, terutama Aceh.

Kata Leni, naskah atau manuskrip nusantara ini akan diperbaiki terlebih dahulu seperti fisiknya, membersihkan lembaran naskah dengan penyemprotan bahan anti jamur dan noda hingga pengeringan. Kemudian, juga menyambungkan naskah yang mengalami kerusakan parah.

"Lalu, dilanjutkan ke proses penjilidan serta dimasukkan ke cover box sesuai ukuran naskah itu sendiri. Di mana cover box telah diberi sampul dengan menggunakan berbagai bahan khusus yang semua ini didatangkan dari luar negeri," ujarnya.

Baca juga: Keluarga adalah penjaga terdepan budaya dan manuskrip kuno Nusantara

Leni menyebutkan, berdasarkan kerusakan yang ditemukan pada naskah kuno milik kolektor Tarmizi A Hamid banyak yang robek atau berlubang-lubang, hal itu karena memang sudah usang ditelan usia hingga ratusan tahun serta juga disebabkan oleh jamur.

"Dari kerusakan yang kita lihat, kita putuskan untuk dilakukan perbaikan fisik, ada yang ditambal, dijilid kembali sampai dibuatkan kotak penyimpanan," kata Leni.

Sementara itu, kolektor Tarmizi Abdul Hamid menjelaskan, pelestarian manuskrip seperti ini sangat penting dilakukan agar buah karya guratan pena ulama lintas zaman ini tetap utuh sepanjang masa.

"Walau leluhur Aceh sudah dipanggil oleh Allah 400 tahun yang silam, namun karya monumental dan masterpiece mereka tetap melambung tinggi seantero nusantara bahkan dunia," kata Tarmizi.

Baca juga: Peneliti: 200 manuskrip Aceh dijual ke luar negeri

Tarmizi menyampaikan, nama dan karya intelektual islam Aceh itu sampai hari ini selalu menjadi referensi keilmuan yang telah digoreskan pada kertas-kertas yang dipesan khusus dari tanah Eropa pada era puncak gilang-gemilang Aceh Darussalam pada eranya.

"Begitulah alasan saya sendiri memberi motto manuskrip Aceh ini sebagai pelita yang tidak pernah padam," ujar pria yang akrab disapa Cek Midi itu.

Cek Midi menuturkan, pengumpulan manuskrip Aceh sudah dilakoninya sejak tahun 1995 namun pada tahun 2004 beberapa manuskrip hilang karena bencana alam yakni tsunami.

Namun, bencana tersebut tak menyurutkan niatnya untuk mengumpulkan dan merawat kembali naskah kuno Aceh hingga berlangsung saat ini. Manuskrip yang dimilikinya ada yang ditempatkan di pameran dunia melayu Islam termasuk Brunei Darussalam.

"Saya banyak menemukan manuskrip atau naskah kuno itu berasal dari Aceh dan banyak ditulis dari ulama-ulama kita terdahulu," katanya.

Kebanyakan manuskrip yang didapatkan Cek Midi itu berasal dari Aceh Besar sebagai tuan rumah dari Kerajaan Aceh Darussalam. Orang terdahulu banyak menyimpan manuskrip di rumah dalam keadaan yang tidak terjaga dan terbengkalai.

"Maka kita kumpulkan dan bersihkan kembali manuskrip ini agar menjadi ilmu pengetahuan bagi cucu kita nantinya," demikian Cek Midi.

Baca juga: Digitalisasi Manuskrip Aceh dan Jawa di Jerman
Baca juga: UIN Palembang siapkan pusat kajian manuskrip keagamaan Nusantara

Pewarta: Rahmat Fajri
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Menggigit Bhoi, si mungil manis dari Tanah Rencong

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar