Walhi Tuding Perampasan Tanah Penyebab Kerusakan Lingkungan

Walhi Tuding Perampasan Tanah Penyebab Kerusakan Lingkungan

Ilustrasi Perkebunan Sawit (ANTARA/Kasriadi)

Pontianak (ANTARA News) - Organisasi Wahana Lingkungan Hidup Kalimantan Barat, menuding perampasan tanah oleh pemilik perusahaan perkebunan berskala besar penyebab kerusakan lingkungan hidup di provinsi ini.

Koordinator Lapangan aksi Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Kalbar, Hendrikus Adam saat melakukan aksi dalam rangkaian memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, di Pontianak, Sabtu, mengatakan, perluasan perkebunan sawit di Kalbar oleh perusahaan salah satu penyebab kerusakan lingkungan hidup (LH).

Aksi peduli lingkungan hidup dilakukan sekitar puluhan anggota WALHI Kalbar di Tugu Digulis Universitas Tanjungpura, dengan menggelar teatrikal yang menggambarkan dampak perluasan sawit yang mengancam kelestarian lingkungan hidup.

Dalam aksinya WALHI mendesak pemerintah Kalbar dan pemilik perkebunan sawit untuk menghentikan perampasan tanah rakyat, menghentikan perluasan perkebunan sawit dan penebangan hutan secara liar dan menolak kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat dan lingkungan hidup.

Serta meminta pemilik perusahaan perkebunan untuk menghentikan pemaksaan, penekanan, dan adu domba terhadap petani atau masyarakat adat yang berusaha mempertahankan tanah dan kekayaan alamnya, kata Hendrikus.

Hendrikus mengatakan, Indonesia kini berada dalam kondisi darurat ekologis akibat hutan dan lingkungannya diekploitasi tanpa memperhitungkan dampaknya.

Akibat dari ekploitasi yang berlebihan terhadap hutan dan lingkungan telah berdampak buruk pada kondisi ekologis, sehingga kini tiada hari tanpa bencana.

Seiring perkembangan zaman, hutan, tanah, dan air saat ini menjadi sasaran penguasa untuk diekploitasi habis-habisan tanpa memikirkan generasi mendatang.

"Pemerintah saat ini berlomba-lomba mengeluarkan izin untuk perluasan perkebunan sawit dengan alasan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," katanya.

Menurut catatan WALHI Kalbar, dalam kurun 13 tahun terakhir telah terjadi 6.632 bencana terkait ekologi.

Sementara menurut data Sawit Watch hingga 2010 telah terjadi 630 konflik terkait perkebunan sawit, sebanyak 200 konflik perkebunan monokultur terjadi di Kalbar.

Provinsi Kalbar menargetkan perkebunan kelapa sawit mencapai luas 1,5 juta hektare. Saat ini areal yang sudah ditanami masih di kisaran 500 ribu hektare.(A057/R010)

Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2010

Walhi minta Pemprov DKI pulihkan Teluk Jakarta

Komentar