BMKG sebut kebakaran di kilang minyak Balongan tak dipengaruhi petir

BMKG sebut kebakaran di kilang minyak Balongan tak dipengaruhi petir

Petir terlihat di kawasan pesisir Indramayu, Jawa Barat, Senin (14/12/2020). Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan gelombang disertai hujan dan petir masih akan terjadi di laut Jawa. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/wsj.

Berdasarkan alat monitoring 'lightining detector' yang berlokasi di BMKG Jakarta dan BMKG Bandung dari pukul 00.00 hingga pukul 02.00 WIB tidak terdeteksi adanya aktivitas sambaran petir di wilayah kilang minyak Balongan, Indramayu
Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengemukakan peristiwa kebakaran yang melanda Kilang Minyak Balongan di Indramayu, Jawa Barat, Senin dini hari, tidak dipengaruhi sambaran petir.

"Berdasarkan alat monitoring 'lightining detector' yang berlokasi di BMKG Jakarta dan BMKG Bandung dari pukul 00.00 hingga pukul 02.00 WIB, bahwa tidak terdeteksi adanya aktivitas sambaran petir di wilayah kilang minyak Balongan, Indramayu," kata Kepala Pusat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu, Rahmat Triyono, melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Senin malam.

Ia mengatakan kebakaran di kilang minyak Balongan milik Pertamina di Indramayu sekitar pukul 00.45 WIB, telah ditindaklanjuti BMKG dengan melakukan analisa terhadap kejadian sambaran petir di sekitar lokasi kejadian.

Baca juga: 10 gardu PLN terdampak kebakaran di Kilang Balongan Indramayu

Baca juga: 21 orang terluka akibat kebakaran di kilang minyak Balongan



BMKG melaksanakan monitoring aktivitas sambaran petir di seluruh wilayah Indonesia dengan menggunakan alat pendeteksi petir di 56 lokasi.

"Monitoring dilakukan menggunakan alat 'lightning detector' dengan resolusi alat monitoring BMKG efektif pada radius 300 kilometer," katanya.

Alat monitoring ini terpasang di 11 stasiun BMKG dan di Pulau Jawa untuk memantau aktivitas petir dari Banten hingga Jawa Timur.

Berdasarkan hasil monitoring alat kelistrikan udara, kata Rahmat, bahwa pada saat kejadian kebakaran sekitar pukul 00.00- 02.00 WIB, menunjukkan kerapatan petir berkumpul pada bagian barat kilang minyak Balongan sejauh kurang lebih 77 kilometer, yaitu di sekitar Subang dengan klasifikasi tingkat kerapatan petir sedang hingga tinggi.

Petir adalah kilatan listrik di udara yang disertai bunyi gemuruh karena bertemunya awan yang bermuatan listrik positif dan negatif.

"Petir mempunyai tiga tipe, yaitu dari awan ke awan, di dalam awan dan dari awan ke bumi. Petir yang paling berbahaya bagi kehidupan di bumi adalah dari awan ke bumi," demikian Rahmat Triyono.

Baca juga: Pengamat: Kebakaran Kilang Balongan, Pertamina harus siap impor BBM

Baca juga: Dirut Pertamina: Masyarakat tidak perlu "panic buying," stok BBM aman

Baca juga: Pertamina kehilangan 400 ribu barel akibat kebakaran Kilang Balongan

Baca juga: Lima desa terdampak kebakaran kilang minyak Balongan Indramayu

Pewarta: Andi Firdaus
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Penundaan santunan kebakaran Balongan termasuk maladministrasi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar