Total dana kuartal I tumbuh, BEI optimistis dengan prospek IPO

Total dana kuartal I tumbuh, BEI optimistis dengan prospek IPO

Pengunjung mengamati pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (28/10/2019). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/ama.

Dari 22 perusahaan dalam pipeline tersebut belum ada yang perusahaan BUMN maupun unicorn
Jakarta (ANTARA) - Bursa Efek Indonesia (BEI) optimistis dengan prospek penawaran umum perdana atau IPO pada sisa sembilan bulan tahun ini seiring dengan total dana IPO yang tumbuh pada kuartal I 2021.

Direktur Penilaian Perusahaan I Gede Nyoman Yetna di Jakarta, Rabu mengatakan bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, jumlah total dana IPO meningkat 11 persen yaitu dari Rp2,7 triliun menjadi Rp3 triliun.

Dari sisi jumlah pipeline pun meningkat sebesar 120 persen dibanding pada periode yang sama pada tahun lalu.

"Hal tersebut menggambarkan besarnya kepercayaan dan optimisme para pengusaha di Indonesia akan pemulihan perekonomian dan juga terhadap pasar modal Indonesia pada 2021. Dengan melihat kondisi di atas, setelah kuartal satu ini, kami optimis terkait dengan prospek IPO tahun 2021," ujar Nyoman.

Sampai dengan 30 Maret 2021, terdapat 11 perusahaan tercatat baru saham di BEI dan masih terdapat 22 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI dengan setidaknya terdapat dua perusahaan yang diharapkan akan tercatat pada waktu dekat ini.

Adapun rincian pipeline berdasarkan sektor adalah dua perusahaan dari sektor energi, tiga perusahaan dari sektor barang baku, dua perusahaan dari sektor perindustrian, dua perusahaan dari sektor barang konsumen primer, enam perusahaan dari sektor barang konsumen nonprimer, tiga perusahaan dari sektor properti dan real estat, tiga perusahaan dari sektor teknologi, dan satu perusahaan dari sektor infrastruktur.

Berdasarkan ukuran skala aset, sebagaimana diatur di POJK 53 Tahun 2019, maka pipeline pencatatan saham dapat dikategorikan yaitu tujuh perusahaan aset skala kecil (aset di bawah Rp50 miliar), 10 perusahaan aset skala menengah (aset antara Rp50 miliar sampai Rp250 miliar), dan lima perusahaan aset skala besar (aset di atas Rp250 miliar)

"Dapat kami sampaikan, dari 22 perusahaan dalam pipeline tersebut belum ada yang perusahaan BUMN maupun unicorn," kata Nyoman.

Hal itu, lanjut Nyoman, tentunya didukung oleh kebijakan pemerintah terkait dengan penanganan pandemi saat ini dan kebijakan dari regulator pasar modal yang tentunya akan membuat kondisi pasar modal Indonesia kondusif, sehingga perusahaan yang melakukan IPO dan melakukan pencatatan saham meningkat.

Baca juga: IPO dinilai sebagai langkah positif kembangkan perusahaan usai pandemi
Baca juga: Terkait rencana IPO, BEI intensif lakukan komunikasi dengan unicorn RI
Baca juga: BEI: Performa perusahaan BUMN naik sejak masuk ke bursa

Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

OJK dorong pelaku usaha Sumbar kenali dan manfaatkan pasar modal

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar