Aplikasi ArkaLearn bantu calon pekerja migran kuasai bahasa Jepang

Aplikasi ArkaLearn bantu calon pekerja migran kuasai bahasa Jepang

Sebuah aplikasi pembelajaran daring interaktif yang dapat diunduh dari gawai bernama ArkaLearn bisa membantu calon pekerja migran asal Indonesia yang akan bekerja di Jepang untuk lebih menguasai bahasa Jepang. ANTARA/Ajat Sudrajat/am.

Bandung (ANTARA) - Sebuah aplikasi pembelajaran daring interaktif yang dapat diunduh dari gawai bernama ArkaLearn dan bisa membantu calon pekerja migran Indonesia (PMI) yang akan bekerja di Jepang untuk lebih menguasai bahasa negeri itu.

"Jadi, di masa pandemi COVID-19 ini proses belajar mengajar tidak boleh tatap muka. Sementara keterampilan berbahasa menjadi persyaratan yang harus dimiliki setiap PMI," kata CEO ArkaLearn, Henny Wahyuni di sela penandatanganan MoU antara PT Sudinar Artha dan Dolphin Co Ltd Japan di Kota Bandung, Rabu.

Penandatanganan MOU antara PT Sudinar Artha dan Dolphin Co Ltd Japan yang disaksikan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Barat Taufik Garsadi tersebut, berkaitan dengan kebutuhan pekerja migran Indonesia berketerampilan spesifik di Jepang, antara lain untuk posisi caregiver, pekerja pabrik manufaktur, pabrik pengolahan makanan dan konstruksi.

Baca juga: Himsataki siapkan penempatan 30.000 pekerja migran ke Jepang pada 2021

Baca juga: Apjati dorong pemerintah capai taget 70.000 PMI ke Jepang


Henny mengatakan dalam tahap awal ArkaLearn menyediakan materi belajar mandiri Bahasa Jepang Level N5 yang meliputi video pembelajaran, video percakapan dengan simulasi bermain peran, flash card, dan kuis.

Pembelajarannya, kata dia, dilengkapi dengan berbagai fitur interaktif yang mendukung proses belajar secara mandiri dan materi pembelajaran ini dapat diakses di laman arkalearn.com.

Menurutnya, dengan ArkaLearn, calon pekerja migran Indonesia dapat belajar di mana saja, kapan saja dan dengan harga yang sangat terjangkau.

"Ini semua adalah bentuk kepedulian kami terhadap masalah pendidikan pada calon pekerja migran Indonesia. Kami menargetkan dalam enam minggu atau sekitar satu setengah bulan calon pekerja migran bisa mengusai bahasa Jepang dengan ArkaLearn ini," kata Henny.

Selain materi pembelajaran daring, di aplikasi ini calon pekerja migran juga bisa mendapatkan tips dan trik bagaimana hidup di Jepang, seperti cara memesan tiket kereta dan mempelajari budaya Jepang.

Sebelum ada aplikasi ini, untuk belajar bahasa Jepang level N5 atau tingkat dasar calon pekerja migran Indonesia harus datang ke LKP dan bisa menghabiskan waktu hingga empat bulan.

"Sekarang dengan modal aplikasi bisa belajar di mana saja dan kapan saja. Ikuti kuiz dan uji cobanya. Jika lulus, memiliki kesempatan untuk mengikuti proses seleksi selanjutnya, karena ArkaLearn telah bekerja sama dengan lembaga pelatihan kerja dan perusahaan penempatan pekerja migran Indonesia yang kredibel dan terpercaya," ujarnya.

Sementara itu, Direktur PT Sudinar Artha Andy Archaniawan mengatakan penurunan populasi di Jepang telah meningkatkan kebutuhan akan tenaga kerja di negeri matahari terbit tersebut, dan bonus demography di Indonesia membuat Indonesia menjadi salah satu sumber tenaga kerja yang dapat menopang kebutuhan tersebut.

Baca juga: Kemampuan berbahasa jadi syarat penting bekerja di Jepang

Dalam kurun lima tahun ke depan diperkirakan tidak kurang dibutuhkan 345.000 tenaga kerja dari Indonesia.

"Kebutuhan tenaga kerja dari Indonesia di Jepang sekitar 345 ribu dan 60 ribu diantaranya adalah perawat, 53 ribu konstruksi dan 36 ribu di bidang agrikultur," kata dia.

Oleh karena itu, pihaknya menyambut baik kehadiran aplikasi pembelajaran daring interaktif ArkaLearn karena bisa membantu para pekerja migran Indonesia yang akan bekerja di Jepang.

Di tempat yang sama Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Barat Taufik Garsadi menuturkan pihaknya mengapresiasi MoU ini, karena ditunggu oleh masyarakat serta kesempatan untuk bekerja di Jepang semakin terbuka.

"Saat ini di Jabar ada sekitar 24 juta angkatan kerja. Setiap tahunnya selalu bertambah sekitar 400.000 hingga 700.000 orang," ujar Taufik.

Taufik mengatakan mayoritas pekerja migran bekerja di sektor domestik. "Ke depan, kami ingin mereka banyak bekerja di sektor manufaktur atau perusahaan," ujarnya.

Pihaknya berharap kolaborasi dengan sejumlah pihak terkait bisa meningkatkan kualitas pekerja migran di Jabar.

Pewarta: Ajat Sudrajat
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021

131 pekerja non prosedural dipulangkan dari Malaysia

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar