Pemanfaatan FABA bisa menghemat anggaran infrastruktur Rp4,3 triliun

Pemanfaatan FABA bisa menghemat anggaran infrastruktur Rp4,3 triliun

PLN siap optimalkan pemanfaatan Fly Ash dan Bottom Ash. ANTARA/Humas PLN.

Jakarta (ANTARA) - Direktur Jenderal ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Rida Mulyana mengatakan pemanfaatan limbah Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) untuk campuran beton bisa menghemat anggaran infrastruktur sebesar Rp4,3 trilun.

"Penggunaan beton dengan campuran FABA secara ekonomi dapat menurunkan biaya dibandingkan membuat beton konvensional, sehingga memberikan efisiensi anggaran pembangunan infrastruktur sebesar Rp4,3 triliun sampai tahun 2028," kata Rida Mulyana dalam diskusi daring yang dipantau di Jakarta, Kamis.

Selain menghemat anggaran infrastruktur, lanjut dia, pemanfaatan FABA juga berpotensi menyerap tenaga kerja pada usaha mikro dan kecil yang dapat berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi.

Tak hanya dalam pembangunan infrastruktur, FABA juga dapat dimanfaatkan menjadi material pendukung untuk stabilisasi lahan, reklamasi bekas tambang, hingga sektor pertanian.

Baca juga: Ragam diversifikasi pemanfaatan FABA bidang industri konstruksi

"Dengan ditetapkannya FABA sebagai limbah non-B3, maka FABA diharapkan bisa dimanfaatkan secara maksimal," kata Rida Mulyana.

Tahun lalu, konsumsi batu bara dalam negeri atau Domestic Market Obligation tercatat sebesar 121,89 juta ton dengan penggunaan terbesar untuk menyuplai Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang menghasilkan FABA sekitar 12 juta ton.

Merujuk hasil penelitian yang dilakukan Badan Geologi Kementerian ESDM sejak tahun 2018 hingga 2020 di Sumatera Selatan dan Kalimantan Timur, FABA mengandung logam tanah jarang atau Rare Earth Element (REE) sebesar 2.000 ppm atau lebih tinggi 10 kali lipat bila dibandingkan kandungan pada batu bara.

Logam tanah jarang sebagai material maju, di antaranya Skandium bisa dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan televisi dan lampu hemat energi. Adapun Lantanum bisa digunakan sebagai bahan pembuatan kaca optik khusus, salah satunya kaca penyerap sinar inframerah.

Baca juga: Perlu regulasi yang mendukung pemanfaatan FABA

Pemerintah Indonesia saat ini sedang melakukan penyusunan regulasi terkait pengelolaan dan penggunaan FABA untuk kepentingan industri turunan.

"Kami sedang melakukan finalisasi standar operasional prosedur penggunaan dan pengelolaan FABA supaya nanti bisa dikelola dengan baik," pungkas Rida Mulyana.

Standar operasional prosedur pengelolaan FABA itu nantinya akan menjadi acuan bagi seluruh kegiatan PLTU dalam mengelola limbah tersebut. Dengan demikian, FABA bisa dikelola secara baik sehingga lebih aman bagi lingkungan dan memberikan manfaat bagi masyarakat serta negara.

Pewarta: Sugiharto Purnama
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Melirik budi daya lebah galo-galo di kota bekas tambang batu bara

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar