Kemenkes: Temuan E484K di Jakarta jadi kasus pertama Indonesia

Kemenkes: Temuan E484K di Jakarta jadi kasus pertama Indonesia

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi saat memberikan informasi seputar perkembangan penanggulangan pandemi di Indonesia secara daring, Selasa (30/3/2021). (ANTARA/Andi Firdaus).

Jakarta (ANTARA) - Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengonfirmasi varian Corona Eek atau E484K yang terdeteksi muncul di wilayah DKI Jakarta merupakan temuan kasus pertama di Indonesia.

"Iya, di wilayah DKI Jakarta," katanya saat dikonfirmasi ANTARA melalui pesan singkat terkait temuan kasus pertama E484K di Indonesia, Senin.

Siti Nadia mengatakan pemeriksaan spesimen E484K dilakukan oleh otoritas terkait di Indonesia sejak Februari 2021.

"Tetapi dilaporkannya (temuan kasus) pada dua atau tiga hari yang lalu di GISAID oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman," katanya saat ditanya, kapan E484K di temukan di Jakarta.

Baca juga: Riset: Sel T dari infeksi COVID-19 merespons varian baru corona

Baca juga: Italia laporkan 529 kematian COVID saat kasus varian corona naik


Eijkman adalah lembaga penelitian pemerintah yang bergerak di bidang biologi molekuler dan bioteknologi kedokteran. Lembaga ini bernaung di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi.

Sementara GISAID merupakan organisasi nirlaba yang bergerak di bidang bank data yang saat ini menjadi acuan untuk data genom virus corona SARS- CoV-2.

Namun, Siti Nadia belum memberikan keterangan lebih rinci terkait informasi seputar varian virus Corona E484K yang dimaksud.

Sebagai upaya mengantisipasi penyebaran virus tersebut, Siti Nadia beserta jajaran terkait sedang melakukan pelacakan kasus untuk mendeteksi potensi penularan penyakit berdasarkan kontak erat.

"Kita sedang melaksanakan pelacakan kasus kontak," katanya.

Sebelumnya, Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito kepada wartawan di Istana Negara mengatakan upaya skrining dilakukan terhadap kedatangan Warga Negara Asing (WNA) dan Warga Negara Indonesia (WNI) guna mengantisipasi penularan virus E484K.

"Tentunya, pemerintah mempertahankan proses skrining WNA dan WNI yang datang dari luar negeri masuk ke Indonesia," kata Wiku.

Wiku mengatakan varian virus Corona yang dinamakan E484K merupakan hasil mutasi dari varian B117. Mutasi E484K terjadi pada protein spike. Mutasi serupa ditemukan pada varian Afrika Selatan dan Brasil.*

Baca juga: Negara bagian Queensland peringatkan lebih banyak kasus COVID-19

Baca juga: India laporkan varian baru virus corona

Pewarta: Andi Firdaus
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Kemenkes sinergikan tiga pilar untuk vaksinasi di malam hari

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar