Riset PEI: Populasi lebah turun 57 persen

Riset PEI: Populasi lebah turun 57 persen

Pembudi daya (kiri) menunjukkan sarang lebah miliknya kepada pembeli madu di Tanjungjabung Timur, Jambi, Rabu (9/9/2020). (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan.

diharapkan dapat memperkuat upaya untuk mempertahankan keberlangsungan hidup dan keberlanjutan produktivitas lebah di Indonesia,
Palembang (ANTARA) - Riset Perhimpunan Entomologi Indonesia mengungkapkan fakta terbaru bahwa telah terjadi penurunan populasi lebah sebanyak 57 persen setelah dilakukan survei terhadap 272 peternak yang tersebar di sejumlah daerah.

Hasil Penelitian ini disampaikan dalam Lokakarya Bee and Polinator Awareness Day, dengan tema “Lebah, Ketahanan Pangan, dan Kesehatan: Peluang dan Tantangan”, yang digelar secara virtual, Selasa.

Seminar internasional yang masuk dalam rangkaian perayaan Hari Lebah Sedunia 2021 ini, menyimpulkan bahwa apa yang terjadi di dunia ternyata juga terjadi di Indonesia sehingga dibutuhkan langkah-langkah antisipasi dari berbagai pihak mengingat pentingnya kedudukan lebah dalam ekosistem.

Lebah berperan penting dalam ketahanan pangan dan kesehatan manusia, yakni sebagai penyerbuk tanaman yang berdampak langsung pada produksi pangan.

Baru-baru ini di Eropa dan Amerika dikejutkan oleh adanya fenomena penurunan populasi lebah secara besar-besaran, baik lebah yang diternakkan maupun lebah alami di alam.


Baca juga: Bangun UMKM, Askrindo dukung usaha peternakan lebah hutan di Batang


Fenomena ini yang melatari PEI dilakukannya riset serupa di Indonesia pada 2020 yang melibatkan 272 responden (peternak) di Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Sumbawa, dan Maluku.

Sebagian besar responden menyatakan bahwa dugaan penurunan ini karena dampak dari perubahan iklim, ketersediaan pakan dan pestisida.

Kepala Pusat Kajian Sains Berkelanjutan dan Transdisiplin (CTSS) Damayanti Buchori mengatakan saat ini fenomena penurunan populasi lebah secara global merupakan fakta.

Di Indonesia memang belum ada penelitian mendalam mengenai fenomena ini, apakah terjadi atau tidak sehingga CTSS merasa perlu untuk melakukan studi lanjutan agar Indonesia bisa melakukan tindakan penyelamatan.

Guru Besar Departemen Proteksi Tanaman IPB ini mengatakan studi ini nantinya menjadi studi pertama yang dilakukan dalam usaha mencari data tersebut.

“Data awal ini (riset PEI) perlu ditindaklanjuti dengan riset yang lebih komprehensif mengenai kondisi lebah di Indonesia,” kata dia.


Baca juga: Dosen Unud latih peternak olah limbah propolis lebah jadi sabun wangi


Para riset awal PEI itu diketahui juga jumlah peternak lebah terus meningkat, dimana sebagian besar dari mereka baru memelihara lebah dalam kurun 3-5 tahun terakhir. Hampir setengah dari total peternak memperoleh koloni lebah pertama mereka dari alam liar.

Sekretaris Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian Antarjo Dikin mengatakan riset ini cukup menarik karena mengidentifikasi terdapat tiga faktor utama penyebab kematian lebah di nusantara, yaitu iklim (31 persen), sumber makanan (23 persen), dan pestisida (21 persen).

“Ternyata berbagai masalah lain juga dapat memengaruhi kuantitas dan kualitas hasil madu seperti cuaca, sumber pakan, jenis lebah, dan perlakuan saat panen dan pasca panen,” kata dia.


Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wiratno yang turut menjadi narasumber dalam lokakarya tersebut, mengatakan penelitian terbaru yang dilakukan PEI ini merupakan sumber daya yang berharga untuk menggali pengetahuan dan informasi mengenai lebah.

“Workshop hari ini merupakan salah satu usaha dan upaya yang sangat baik dalam proses kolaborasi, dalam rangka meningkatkan kesadaran akan keanekaragaman dan kondisi lebah di Indonesia,” kata dia.

Penelitian yang didukung oleh PT. Syngenta Indonesia ini diharapkan dapat melengkapi informasi dalam pelaksanaan program Pollinator Operation.

Program ini diluncurkan Syngenta Global bertujuan mengatasi permasalahan penurunan populasi polinator dan berupaya untuk mempromosikan praktik-praktik pertanian yang lebih berkelanjutan yang dapat meningkatkan hasil panen sekaligus dapat memulihkan keseimbangan ekosistem.

Ketua Umum Perhimpunan Entomologi Indonesia Dadang mengatakan lokakarya ini menjadi tonggak dimulainya forum Indonesian Pollinator Initiative (IPI) secara resmi, dan menjadi kesempatan besar untuk menyampaikan hasil survei PEI kepada para akademisi, pembuat kebijakan, praktisi, pejabat pemerintah, petani, dan masyarakat sipil”

“Dengan mempertemukan para peneliti, pakar dan penggiat lebah di Indonesia, diharapkan dapat memperkuat upaya untuk mempertahankan keberlangsungan hidup dan keberlanjutan produktivitas lebah di Indonesia,” kata dia.


Baca juga: Perhutani kembangkan pembangunan pembibitan lebah

Baca juga: Peneliti Universitas Riau amati perilaku lebah saat gerhana matahari

Baca juga: Permintaan madu tinggi, peternak budi daya lebah di Hutan Banaran

Pewarta: Dolly Rosana
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Melirik budi daya lebah galo-galo di kota bekas tambang batu bara

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar