Pengungsi bencana di NTT diberi dana tunggu hunian Rp500.000 per KK

Pengungsi bencana di NTT diberi dana tunggu hunian Rp500.000 per KK

Tangkapan latar Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo (tengah) dalam konferensi pers daring yang dipantau dari Jakarta, Selasa malam (6/4/2021). (ANTARA/ Zubi Mahrofi)

dengan cara memberikan fasilitas dana tunggu hunian sebesar Rp500.000
Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengatakan para pengungsi bencana banjir bandang di Nusa Tenggara Timur (NTT) akan diberikan dana tunggu hunian Rp500.000 per KK setiap bulan.

Dana itu, nantinya dapat digunakan untuk menyewa rumah milik keluarganya atau kerabat terdekat pengungsi agar tingkat hunian di pengungsian minimal.

"Karena sedang pandemi kita berupaya semaksimal mungkin untuk mengurangi risiko penularan COVID-19, dengan cara memberikan fasilitas dana tunggu hunian sebesar Rp500.000, tempat pengungsian ini kita upayakan sedikit mungkin," ujar Doni dalam konferensi pers daring yang dipantau dari Jakarta, Selasa malam.

Baca juga: Korban meninggal akibat banjir di NTT dan NTB capai 119 orang

Ia mengatakan, pihaknya menunggu usulan dari pemerintah daerah. BNPB juga melakukan pendataan dan verifikasi terhadap rumah warga yang mengalami kerusakan parah atau sudah tidak dapat ditempati.

"Daftar nama ini harus akurat yang akan diserahkan kepada BNPB, dan akan disalurkan dananya. Ini semata-mata untuk memutus mata rantai penularan dalam situasi bencana seperti sekarang kerumunan harus betul-betul kita hindari," katanya.

Baca juga: Korban meninggal akibat bencana alam di Adonara capai 50 orang

Apalagi, lanjut dia, kasus COVID-19 di NTT mengalami peningkatan cukup tinggi dengan tingkat angka kematian mencapai 2,74 persen, sama dengan angka kematian nasional.

"Memang dalam tiga bulan terakhir ini NTT mengalami peningkatan kasus aktif COVID-19 berada di atas kasus aktif nasional, kasus kesembuhannya pun berada di bawah angka kesembuhan nasional. Secara umum memang terlihat NTT mengalami penaikan yang signifikan setelah liburan Natal 2020 dan Tahun Baru 2021," katanya.

Baca juga: Tiga helikopter salurkan logistik ke desa terisolir di NTT

Padahal, lanjut dia, sejak kasus pertama di Jakarta pada bulan Maret 2020 hingga November 2020, NTT nyaris provinsi dengan kasus yang sangat rendah.

"Namun setelah adanya kegiatan liburan panjang Natal dan Tahun Baru 2021 membuat semua kabupaten/kota di NTT terdampak COVID-19," ucapnya.

Baca juga: Kepala BNPB Doni Monardo tinjau penanganan darurat korban banjir NTT

Pewarta: Zubi Mahrofi
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Ditinjau Kapolri & Panglima TNI, Madiun vaksinasi 1.500 orang

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar