MUI: Bencana muncul karena faktor perilaku manusia yang merusak alam

MUI: Bencana muncul karena faktor perilaku manusia yang merusak alam

Keluarga korban bencana tanah longsor berziarah dengan menyalakan lilin di areal pemakaman massal Desa Lama Nele, Flores Timur, NTT, Rabu (7/4/2021). (ANTARA/Andi Firdaus)

sekitar dua sampai empat tahun sekali
Jakarta (ANTARA) - Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan bahwa setiap bencana yang muncul karena ada faktor perilaku manusia yang tak mawas diri dan merusak alam.

Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Amirsyah Tambunan mengatakan perilaku manusia yang tak mawas diri bisa dilihat dari menurunnya etika dalam memperlakukan alam seperti penebangan hutan secara membabi buta.

"Hutan menjadi gundul dan tanaman berkurang secara signifikan. Akibatnya, suhu, iklim, dan kecepatan angin menjadi ekstrim yang disebabkan karena rusaknya ekosistem dalam skala kecil maupun skala yang luas," ujar Amirsyah saat konferensi pers di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, bencana yang terjadi harus menjadi peringatan bagi manusia agar senantiasa berserah diri dan memperbaiki diri serta memperlakukan alam sebagaimana mestinya. Apabila perusakan hutan atau alam tak bisa dihentikan, maka bencana-bencana lain akan tak akan terhindarkan.

"Wajarlah kiranya pada saat terjadi bencana, Islam mengajarkan agar manusia selalu melakukan introspeksi diri, melakukan muhasabah atas dosa dan kesalahan yang telah dilakukan," kata dia.

Ia juga meminta para korban bencana banjir bandang dan longsor di NTT untuk bersabar dan kembali bangkit, sebab ada makna di balik peristiwa.

Baca juga: BMKG: Posisi siklon tropis Seroja berada di Pulau Timor

Baca juga: Bersama mencegah munculnya korban jiwa saat bencana hidrometeorologi


"Bencana ini semua merupakan musibah, ujian atau cobaan. Bagi masyarakat NTT yang terkena bencana, diharapkan untuk bersabar, ridha dan berserah diri kepada Allah semata seraya berdoa memohon kekuatan dalam menghadapinya," kata dia.

Sementara itu, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyampaikan hipotesis mengenai korelasi pemanasan global dengan kejadian siklon, termasuk Siklon Tropis Seroja yang menimbulkan bencana di sebagian wilayah Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat.

"Karena penyebabnya adalah semakin panasnya suhu muka air laut, yang tentunya laut itu tempat mengabsorbsi karbon dioksida, dan itu adalah dampak dari gas rumah kaca, bisa dirunut ke sana. Ini baru hipotesis ya, tapi ada korelasi dengan peningkatan suhu muka air laut yang dipengaruhi juga oleh global warming (pemanasan global)," kata dia.

Dwikorita mengatakan bahwa sejak tahun 2008 tercatat ada 10 kejadian siklon tropis di Indonesia. Siklon tropis terjadi sekali pada 2008 dan kemudian terjadi lagi pada 2010 dan 2014.

"Jadi sekitar dua sampai empat tahun sekali, tetapi sejak 2017 itu setiap tahun selalu terjadi, setiap tahun, dan bahkan dalam setahun bisa dua kali, dan Seroja ini baru yang pertama kali benar-benar cukup dahsyat, karena masuk sampai ke daratan," kata Dwikorita.

Siklon Tropis Seroja pada Minggu (4/4) menghampiri wilayah Nusa Tenggara Timur serta menyebabkan banjir dan tanah longsor di Kota Kupang, Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Malaka Tengah, Kabupaten Lembata, Kabupaten Ngada, Kabupaten Alor, Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Rote Ndao, Kabupaten Sabu Raijua, Kabupaten Timor Tengah Selatan, dan Kabupaten Ende.

Di Provinsi Nusa Tenggara Barat, siklon menimbulkan bencana di wilayah Kabupaten Bima.

Baca juga: MUI ajak masyarakat bersolidaritas bantu korban bencana NTT

Baca juga: Masyarakat NTT diimbau BMKG tetap waspadai bencana hidrometeorologi

Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

MUI Jateng imbau shalat Idul Fitri di masjid dengan prokes ketat

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar