Enggan pakai behel, coba KLAR Aligner untuk rapikan gigi

Enggan pakai behel, coba KLAR Aligner untuk rapikan gigi

KLAR Aligner, perangkat untuk merapikan gigi tanpa harus menggunakan behel. ANTARA//KLAR

Jakarta (ANTARA) - Bagi sebagian orang kawat gigi atau behel menjadi "momok" karena mengganggu kenyamanan, penampilan, atau bahkan terasa sakit, sementara posisi atau susunan gigi dan rahang yang tidak normal (maloklusi) harus dirapikan.

Maloklusi sering dianggap hanya merupakan masalah estetika yang tidak perlu diperbaiki, padahal dalam jangka panjang bisa menimbulkan dampak negatif, seperti karies hingga penyakit sistemik lainnya pada gigi dan mulut.

Namun, berkat kemajuan teknologi, Anda sekarang bisa merapikan gigi tanpa harus mengenakan behel. KLAR telah menggabungkan software dan aplikasi dengan keahlian kedokteran gigi spesialis dalam bentuk aligner berteknologi modern yang nyaman dipakai serta bisa merapikan gigi.

Baca juga: Kawat gigi tradisional atau "clear aligner", mana yang lebih baik?

Baca juga: Dokter gigi: tidak semua orang memerlukan veneer dan kawat gigi


Inovasi aligner KLAR dikembangkan oleh ortodontis berpengalaman dan setiap setnya dibuat secara khusus dengan teknologi terkini untuk menyesuaikan dengan kebutuhan setiap pasien.

"Kelebihan KLAR terletak pada kombinasi pengalaman nyata selama bertahun-tahun di dunia kedokteran gigi, serta perkembangan teknologi yang dirancang khusus untuk memperbaiki tampilan gigi bagi kesehatan jangka panjang maupun untuk tampilan estetika," ujar Ellen Pranata, CEO dan Co-founder KLAR, sekaligus mantan Direktur Cobra Dental yang merupakan salah satu distributor alat gigi terbesar di Indonesia.

Untuk mempermudah masyarakat Indonesia dalam memperbaiki penampilan gigi dan senyum mereka, KLAR bermitra dengan lebih dari 300 ortodontis dari seluruh Indonesia melalui aplikasi KLAR Smile. Melalui aplikasi ini, pengguna dapat melakukan tes senyum dengan melakukan selfie tersenyum dan memperlihatkan gigi mereka, kemudian akan mendapatkan penilaian dan saran perawatan gigi mereka dari ortodontis.

"Bagi pengguna yang sedang melakukan perawatan gigi dengan KLAR Aligner, aplikasi ini berfungsi juga sebagai pengingat dan memonitor proses perawatan gigi tersebut. Dan yang paling memudahkan, apalagi di masa pandemi seperti sekarang, pengguna KLAR dapat melakukan konsultasi secara online dengan dokter mereka langsung di dalam aplikasi, sehingga meminimalkan jumlah visit ke klinik," jelas Ellen dalam pernyataan pers, Rabu.
Ilustrasi: Aplikasi KLAR Smile yang bisa diunduh di Google Play Store maupun Apple Store. (ANTARA//KLAR)


Banyak dari tim KLAR Smile telah merasakan pengalaman mengenakan behel. "Kami harus berhadapan dengan rasa sakit, rasa kurang nyaman, kurang percaya diri, sampai kerepotan karena harus melakukan kontrol ke dokter gigi setiap bulan," katanya.

Oleh karena itu, KLAR membuat ekosistem perawatan gigi yang terintegrasi, dan mengundang para dokter gigi dan ortodontis untuk memberikan konsultasi secara online, merancang aligner yang tepat untuk pasien, dan setiap pasien bisa melakukan check up secara berkala menggunakan aplikasi.

Fitur teknologi konsultasi online Virtual Care di aplikasi KLAR Smile bermanfaat bagi pasien dengan mobilitas tinggi atau pun untuk mengurangi risiko bepergian selama masa pandemi. Ketika terjadi hambatan perkembangan atau keluhan dari pasien, mereka dapat sewaktu-waktu menanyakan langsung kepada dokter gigi mereka di klinik.

Selain meluncurkan aplikasi, saat ini KLAR juga berfokus untuk meningkatkan layanan perawatan (KLAR Treatment) untuk membantu semakin banyak pasien yang membutuhkan perawatan perataan gigi, baik untuk alasan kesehatan maupun penampilan.

Di tahun 2021, KLAR akan menggandeng lebih banyak klinik untuk menjadi mitra penyedia, serta menggandeng para ortodontis dan dokter gigi untuk melebarkan jangkauan dan melayani pasien secara efektif. Saat ini, KLAR Aligner telah tersebar di lebih dari 110 klinik gigi yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.

Sebagai informasi, kasus maloklusi di Indonesia terbilang cukup tinggi, yakni mencapai 80 persen dari populasi.

Baca juga: Bahayakah menggunakan behel terlalu lama?

Baca juga: Kesalahan yang sering dilakukan pengguna behel

Baca juga: Penyebab bau mulut, penumpukan sisa makanan hingga kawat gigi

Pewarta: Suryanto
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Menjaga kesehatan gigi dan mulut, gerbang masuk penyakit

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar