Pakar: Anak autis bisa pulih dan hidup normal

Pakar: Anak autis bisa pulih dan hidup normal

Ilustrasi - Sejumlah siswa berkebutuhan khusus mengikuti kegiatan pelatihan kerajinan di Rumah Autis, Periuk, Kota Tangerang, Banten, Kamis (19/11/2020). ANTARA FOTO/Fauzan/wsj.

Kalau IQ-nya normal, ada juga yang sudah jadi dokter lho
Jakarta (ANTARA) - Psikiater dan Ketua Yayasan Autisma Indonesia dr. Melly Budhiman mengatakan bahwa dengan terapi yang optimal, anak autis dapat pulih dan hidup normal.

"Kalau ditangani sejak dini, betul-betul ditangani dengan baik, dia berkembang dan gejala-gejalanya makin berkurang. Nah kalau sudah besar, dia sudah mulai bisa komunikasi, mulai bisa main dengan temannya, perilakunya tidak aneh-aneh lagi, ya dapat kita katakan anak itu sudah pulih," kata dia saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Kamis (8/4).

Melly menuturkan ada banyak anak autis yang tumbuh dewasa dan menjadi sosok yang berprestasi dan berhasil dalam kehidupan mereka.

"Kalau IQ-nya normal, ada juga yang sudah jadi dokter lho, jadi insinyur, jadi sarjana pendidikan, arkeolog, (ilmuwan) matematika murni," katanya.

Baca juga: Pandemi bisa jadi momen orang tua dan anak autisme jalin kedekatan

Pihaknya menegaskan anak autis bisa berasal dari berbagai kalangan dan hal ini tidak berkaitan dengan tingkat ekonomi keluarga.

Oleh karena itu, ia meminta para orang tua untuk memperhatikan perkembangan anaknya sejak dini dan memeriksakannya ke dokter atau ke klinik tumbuh kembang jika merasa anaknya mengalami keterlambatan perkembangan.

Ia mengatakan perkembangan anak yang terlambat merupakan salah satu ciri anak mengalami autisme.

Melly menjelaskan beberapa ciri anak autis di antaranya terlambat dalam perkembangan komunikasi, sosialisasi, dan perilaku.

"Terlambat dalam perkembangan komunikasi, terlambat dalam perkembangan sosialisasi dan terlambat dalam perkembangan perilaku, itu (autisme) sudah bisa didiagnosa pada umur dua tahun," kata pakar autisme ini.

Baca juga: Layanan pendidikan bagi anak autisme melalui tiga jalur
Baca juga: Autisme "rigid" perlu metode khusus bentuk kebiasaan baru saat pandemi

Pewarta: Anita Permata Dewi
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2021

101 paket sembako untuk siswa autis di Bali

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar