Warga Tompe bangun huntap sendiri pakai konsep rumah tahan gempa

Warga Tompe bangun huntap sendiri pakai konsep rumah tahan gempa

Kelompok Mosinggani terdiri dari lima belas Kepala Keluarga di Desa Tompe, Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Mereka memilih relokasi mandiri. ANTARA/Rangga Musabar.

huntap dari pemerintah jauh dari laut
Donggala (ANTARA) - Sebanyak lima belas kepala keluarga korban terdampak bencana gempa bumi di Desa Tompe, Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah memilih untuk relokasi mandiri. Mereka, membeli lahan dan membangun sendiri hunian tetap.

Pembangunan huntap lima belas KK yang tergabung dalam satu kelompok, yang diberi nama Kelompok Mosinggani ini dibantu oleh Yayasan Arsitek Komunitas (Arkom) Indonesia.

Menurut Yuli Kusworo, Koordinator arkom Indonesia, Pembangunan huntap tersebut menggunakan skema stimulan, dengan dana sebesar Rp50 Juta yang diberikan Arkom.

Dana itu kemudian digunakan untuk pembelian lahan lokasi huntap, material huntap, serta upah tukang.

"Kan ada Rp50 juta, dari 50 juta itu, 40 juta untuk material dan 10 juta untuk ongkos tukang, sementara beli lahannya diambil dari warga masing masing lima juta," jelasnya

Menurut Yuli, warga sempat terkendala dengan pencarian lahan untuk pembangunan hunian tetap mereka.

Baca juga: MPR bantu perjuangkan hunian tetap penyintas likuefaksi Petobo Palu
Baca juga: Pemkot Palu minta penyintas calon penerima huntap segera validasi data


Hunian tetap relokasi mandiri ini dibangun dengan teknologi Rumah Instan Sederhana Sehat (Risha), dengan struktur Rumah Tahan Gempa (RTG) dengan model bongkar pasang.

"Ini tipenya tipe 36 dengan konsep Rumah Tahan Gempa (RTG), strukturnya Risha. panel rishanya dibuat masyarakat sendiri setelah kami kasi pelatihan pada 2019 lalu," terangnya

Sementara itu, Bupati Donggala, Kasman Lassa memberikan apresiasi kepada warga Tompe dan Arkom yang sudah berinisiatif membangun huntap sendiri, meskipun pemerintah sebenarmya telah menyediakan dana untuk warga yang terdampak bencana pada 2018 lalu.

Hal itu diungkapkannya usai meletakkan batu pertama pembangunan hunian tetap relokasi mandiri, Sabtu (10/4) di Desa Balentuma, Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala.

"Apalagi mereka ikut berpartisipasi membayar secara mandiri, walaupun pemerintah sudah menyiapkan anggaran. Kecamatan Sirenja khususnya Desa Tompe ini saya apresiasi karena komitmen mereka, ini juga sangat membantu pemerintah," tuturnya

Baca juga: Penerima huntap korban gempa diajak sukseskan program relokasi mandiri

Sementara itu, menurut salah satu warga Tompe, Ferdi, alasan warga untuk relokasi mandiri tersebut agar lokasi hunian mereka masih berada dekat dari mata pencarian mereka sebagai nelayan di laut Tompe.

"Kami sempat didata cuman, lalu dibilang juga huntap dari pemerintah jauh dari laut, makanya kami relokasi mandiri, Laut kan tempat pencarian kami sebagai nelayan," jelasnya

Rencananya, proses pembangunan hunian tetap ini ditargetkan oleh warga, akan selesai dalam waktu dua bulan ke depan.

Desa Tompe, Kecamatan Sirenja Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah merupakan salah satu daerah yang terdampak parah dari bencana gempa bumi pada 2018 lalu.

Hampir ratusan rumah warga di Desa ini tersapu oleh gelombang tsunami. Bahkan hingga saat ini daerah tersebut sering terjadinya banjir rob.

Baca juga: 108 korban gempa Palu mulai tempati huntap dibangun PUPR
Baca juga: NasDem Sulteng: Pemda wajib sediakan rumah untuk korban gempa

Pewarta: Rangga Musabar
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Pembangunan RTG di NTBĀ akan tuntas di akhir tahun

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar