Tatkala gotong-royong jadi kekuatan utama menghadapi bencana

Oleh Aloysius Lewokeda

Tatkala gotong-royong jadi kekuatan utama menghadapi bencana

Warga menggunakan mesin gergaji mesin listrik senso untuk memotong pohon batang tumbang akibat badai siklon tropis Seroja dan menutup akses jalan di Kota Kupang, NTT, Kamis (8/4/2021). (FOTO ANTARA/Aloysius Lewokeda)

Semua dampak kerusakan karena badai Seroja ini tidak bisa diatasi sendiri pemerintah atau instansi lain, sehingga kami berinsiatif untuk turun membantu memulihkan kondisi ini
Kupang (ANTARA) - Suara mesin pemotong kayu terdengar keras memecahkan kesunyian sisi jalanan Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Siang itu, tepat hari keempat setelah badai siklon tropis Seroja memorak-porandakan seisi Ibu Kota provinsi selama beberapa jam pada Sabtu (3/4) malam hingga Minggu (4/4) pagi WITA 2021.

Meski puncak badai berlalu beberapa hari, jalanan masih tampak sepi. Tak ada lalu lalang kendaraan yang ramai, seperti suasana khas di kota karena putusnya akses jalan di sana sini akibat pohon tumbang yang tidak terhitung jumlahnya.

Sementara sebagian atap rumah penduduk kota lenyap, bangunan kantor, pusat perbelanjaan, dan berbagai fasilitas umum hingga kapa-kapal nelayan tidak luput dari amukan badai Seroja.

Namun wajah kota dengan berbagai kerusakannya tidak menyurutkan semangat sejumlah lelaki itu, seolah menyampaikan pesan ajakan kota untuk bangkit dari keterpurukan.

Di bawah terik matahari yang menyengat kulit, mereka yang mengatasnamakan Karang Taruna Kota Kupang tidak kenal lelah menyalakan mesin senso -- gergaji listrik -- untuk memotong batang pohon-pohon besar yang tumbang menutup akses jalan, menindih rumah penduduk, hingga memutus kabel jaringan listrik.

"Semua dampak kerusakan karena badai Seroja ini tidak bisa diatasi sendiri pemerintah atau instansi lain, sehingga kami berinsiatif untuk turun membantu memulihkan kondisi ini," kata Koordinator Lapangan Brigade 5 Karang Taruna Kota Kupang Jefry Tapobali.

Jasa gratis

Di tengah kondisi kerusakan berbagai fasilitas akibat pohon-pohon yang tumbang, Karang Taruna Kota Kupang menghadirkan layanan jasa senso tanpa biaya sepeser pun bagi yang yang terdampak bencana.

Sedikitnya 10 unit senso disediakan melalui kerja sama dengan Bank NTT -- dahulu bernama Bank Pembangunan Daerah NTT/BPD NTT)yang dikerahkan secara menyebar ke berbagai kecamatan di Kota Kupang.

Masing-masing unit senso dioperasikan dua anggota Karang Taruna yang dibagi dua tim untuk menangani enam kecamatan yaitu Maulafa, Kelapa Lima, Kota Lama, Oebobo, Kota Raja, dan Alak.

Layanan jasa senso gratis ini disambut antusias warga kota yang sangat membutuhkan bala bantuan karena tak bisa sendiri menangani pohon-pohon besar yang tumbang menimpah rumah dam fasilitas di sekitar.

Baru tiga hari berjalan, Karang Taruna Kota Kupang menerima 367 permintaan jasa senso.

"Namun karena jumlah tenaga yang terbatas maka baru 82 titik yang ditangani," kata Jefri Tapobali, yang juga Ketua Karang Taruna Adisucipto, Kelurahan Penfui, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang.

Satu per satu pohon-pohon yang tumbang menimpa rumah warga tertangani. Selain itu, jaringan listrik yang terdampak secara masif juga menjadi prioritas bantuan ini.

"Kita juga tangani pohon tumbang di jalan agar akses bisa dilalui termasuk untuk mobilisasi pihak PLN agar percepatan pemulihan listrik bisa lebih diwujudkan," katanya.

Chris, warga Kecamatan Maulafa yang mengalami kerusakan rumah akibat tertimpa pohon mengaku layanan jasa senso gratis ini ibarat berkat di tengah musibah.

Ia tidak menyangka dalam kondisi dampak badai Seroja yang menerjang semua warga kota, masih ada pihak yang hadir membantu secara cuma-cuma.

"Ini suatu yang baik. Puji Tuhan di tengah kondisi bencana yang melanda kita semua, tapi masih ada teman-teman dari Karang Taruna Kota Kupang yang hadir membantu kami," katanya.

Selain bantuan itu, warga juga bergotong-royong mengatasi dampak bencana terutama pohon-pohon yang tumbang menimpah bangunan maupun infrastruktur seperti kabel jaringan listrik.

Dalam keadaan sulit seperti ini, semangat kepedulian dan saling membantu merupakan jalan keluar menuju pemulihan dampak bencana ini, katanya.

Apresiasi

Dukungan berbagai kalangan masyarakat dalam menangani dampak bencana badai Seroja di Kota Kupang ibarat angin segar bagi Perusahaan Listrik Negara (PLN).

PLN sendiri menyatakan akan memerlukan waktu lama untuk pemulihan kelistrikan jika harus menangani semua pohon yang tumbang hingga menutup akses jalan.

"Sementara dampak kerusakan listrik akibat bada Seroja khususnya di Pulau Timor adalah di Kota Kupang," kata General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah NTT Agustinus Jatmiko

Tercatat sebanyak 1.600 gardu di Kota Kupang padam saat badai Seroja menumbangkan banyak pepohonan yang berakibat kabel listrik terputus, selain banyak pula tiang listrik yang tumbang.

"Karena itu kami tentu sangat mengapresiasi dukungan berbagi pihak yang secara bergotong-royong menangani pohon yang tumbang hingga membuka akses untuk mobilisasi PLN," katanya.
General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah NTT Agustinus Jatmiko (kedua kiri) saat melakukan koordinasi di lapangan untuk penanganan dampak badai siklon tropis Seroja yang merusak infrastruktur kelistrikan di Kota Kupang, Minggu (11/4/2021).  (FOTO ANTARA/HO-Humas PLN UIW NTT)

Agustinus melihat adanya solidaritas yang kuat dibangun berbagai elemen masyarakat dalam menangani dampak bencana. Semua elemen menyadari bahwa bencana adalah nasib bersama.

Kondisi ini memberikan andil besar bagi PLN dalam memulihkan kelistrikan dengan prioritas awal pada pembenahan 22 jalur utama listrik di Kota Kupang, dilanjutkan sambungan ke rumah warga.

"Kita melihat elemen masyarakat begitu menyatu menghadapi bencana ini. Semuanya peduli untuk bersama saling membantu," katanya.

Apresiasi serupa datang dari Pemerintah Provinsi NTT terhadap reaksi masif berbagai elemen masyarakat untuk melakukan berbagai pembenahan pasca bencana.

Kepala Biro Humas Setda Provinsi NTT Marius Ardu Jelamu mengatakan di saat bencana seperti ini sudah sepatutnya semua elemen masyarakat bersatu, membangun solidaritas untuk saling membantu.

"Pemerintah tentu sangat terbantu ketika semua elemen terus bergandeng tangan dan saling peduli sehingga kita bisa menghadapi dampak bencana ini dan mulai membenahi kembali kerusakan yang terjadi," katanya.

Selain penanganan awal dampak bencana, pemerintah provinsi didukung pemerintah pusat tetap menyalurkan berbagai bantuan bagi warga terdampak bencana.

Baca juga: PLN pulihkan pasokan listrik tiga rumah sakit di Kota Kupang

Baca juga: Enam warga Kota Kupang meninggal akibat badai Seroja

Baca juga: PLN perkirakan pemulihan listrik di Kupang berlangsung sebulan

Baca juga: Kebutuhan dana bansos penanganan bencana Kota Kupang capai Rp37 miliar


 

Oleh Aloysius Lewokeda
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Update banjir bandang NTT : korban hilang menjadi 48 orang

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar