Sambut Ramadhan, warga Madiun gelar tradisi "Megengan"

Sambut Ramadhan, warga Madiun gelar tradisi "Megengan"

Sejumah warga melakukan selamatan dan santap bersama dalam tradisi "Megengan" di Mushalla Al-Amin Kelurahan Nambangan Kidul, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Jatim, Sabtu (4/5/2019). (ANTARA/Louis Rika)

Madiun (ANTARA) - Warga Kota Madiun, Jawa Timur, menggelar tradisi "Megengan" berupa kenduri dan menukar berkat makanan sebagai tradisi dalam menyambut Bulan Suci Ramadhan yang rencananya dimulai pada 13 April 2021.

Kenduri atau selamatan "Megengan" dilakukan selepas isya di masing-masing masjid ataupun mushalla yang ada di setiap rukun tetangga (RT) yang tersebar di seluruh Kota Madiun.

"'Megengan' ini merupakan tradisi jelang bulan Ramadhan. Dalam 'Megengan' itu, selain melantunkan bacaan ayat-ayat suci Al Quran, juga menukarkan berkat makanan yang dibawa oleh masing-masing kepala keluarga," ujar Takmir Mushalla Al-Amin di RT 09/RW 03 Kelurahan Nambangan Kidul, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Sasomo, di Madiun, Minggu.

Dia mengatakan umumnya "Megengan" dilakukan beberapa hari sebelum Ramadhan. Berkat makanan yang dibawa masing-masing keluarga bervariasi sesuai dengan kemampuan. Namun, jika menurut tradisi, "Megengan" identik dengan jajanan atau kue apem.

Baca juga: Tradisi baik jelang Ramadhan perlu dilestarikan

Sayangnya, seiring kemajuan zaman, kue apem sudah jarang yang membuatnya sehingga makanan jenis apa saja bisa untuk "Megengan".

"Yang terpenting adalah niatnya," katanya.

Tujuan "Megengan", katanya, bersyukur atas berkah bulan Ramadhan yang suci dan mohon lindungan Allah SWT untuk lancar dalam menjalankan ibadah puasa dan semua urusan keluarga. Hal itu wujud dari hubungan manusia dengan Tuhan atau "hablum minallaah".

Selain itu, katanya, wujud mempererat hubungan silaturahim antara sesama umat manusia atau "hablum minannas".

Di samping "Megengan", tradisi lain menjelang Ramadhan yang masih lestari di Kota Madiun adalah ziarah kubur ke makam leluhur. Saat berziarah, warga membawa bunga mawar untuk ditabur di pusara. Makam-makam leluhur juga dibersihkan dari rerumputan dan dedaunan.

Tujuan ziarah makam tersebut mendoakan keluarga yang sudah meninggal agar diberi ketenangan dan diampuni segala dosanya oleh Allah SWT. Permohonan maaf tersebut intensif dilakukan di Bulan Suci Ramadhan yang diyakini sebagai bulan penuh dengan ampunan.

Baca juga: Boyolali tiadakan upacara padusan menjelang Ramadhan
Baca juga: Kudus tiadakan tradisi dandangan sambut Ramadhan
​​​​​​​


 

Pewarta: Louis Rika Stevani
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Megengan daring suguhkan 1.441 apem sambut Ramadhan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar