Geografis dan Konflik Hambatan Ekpor ke Ethiopia

Jakarta (ANTARA News) - Kondisi geografis Ethiopia yang tidak memiliki wilayah laut dan berada di antara negara-negara yang sedang berkonflik menjadi hambatan ekpor bagi produk-produk Indonesia ke negara itu.

Sementara dari sisi potensinya, menurut mantan Duta Besar RI untuk Republik Federal Ethiopia merangkap Somalia dan Djibouti, Deddy Sudarman, negara itu sangat meminati produk-produk Indonesia, juga memiliki pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dibanding negara-negara tetangganya.

Dalam Forum Debriefing yang diadakan oleh Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri di Jakarta, Senin, Deddy menjelaskan bahwa selama ini Ethiopia selalu diasosiasikan dengan kemiskinan, kelaparan, dan konflik.

"Padahal, mereka merupakan salah satu negara dengan perkembangan ekonomi yang tinggi dibanding dengan kebanyakan negara lainnya di Afrika," ujar Deddy.

Meski diakui Deddy negara tersebut terhitung miskin dengan pendapatan per kapita sekitar 340 dolar AS, namun pertumbuhan ekonomi dalam lima tahun terakhir rata-rata mencapai 11 persen, dengan peningkatan pendapatan per kapita 7 persen dalam tiga tahun terakhir ini.

Produk ekspor Indonesia ke Ethiopia yang diminati adalah sabun atau deterjen, insulator listrik dan kabel, perlengkapan listrik dan mesin, produk kertas cetak, buku tulis, tekstil, komponen otomotif, mebel, makanan dan peralatan medis, jelas Deddy.

"Bisnis sabun batangan Indonesia telah menguasai 35 persen pasar di Ethiopia," kata Deddy Sudarman.

Ia juga menambahkan Ethiopia telah menjadi pasar yang baik untuk produk tekstil Indonesia, dengan besarnya penjualan tekstil yang sebenarnya tidak laku di dalam negeri.

Namun, hubungan bilateral tersebut memiliki beberapa rintangan, antara lain Ethiopia yang dikelilingi negara-negara konflik, seperti Eritrea, Kenya, Djibouti, Somalia dan Sudan, tanpa memiliki wilayah laut.

Jalur perdagangan dilakukan dengan membina hubungan baik dengan negara pelabuhan, Djibouti dan Somalia, tanpa bantuan Eritrea karena sedang berkonflik, tegas Deddy.

"Ini menyebabkan mahalnya ongkos untuk mengekspor barang Indonesia, disamping jaraknya yang jauh sekali," jelas Deddy.

Deddy juga menjelaskan pencapaian pemerintah RI dengan Ethiopia dalam kerja sama bidang sosial budaya, seperti Kerjasama Selatan-Selatan, Kerjasama Teknik Negara Berkembang, New Asian African Strategic Partnership (NAASP), dan sejumlah program bilateral.

Indonesia bekerjasama dengan beberapa organisasi internasional seperti Japan Internasional Cooperation Agency (JICA) dan Non-Alignment Movement Center for South-South Technical Cooperation (NAM CSSTC) yang telah menyelenggarakan berbagai kegiatan pelatihan dan peningkatan kapasitas di berbagai bidang di negara berkembang, termasuk Ethiopia.

Tercatat, selama masa tugas Deddy Sudarman yaitu 2006-2009, sekitar 29 pejabat Ethiopia mengikuti program pelatihan di Indonesia, yang meliputi progam-program pertanian, pendidikan, keluarga berencana, manajeman keuangan mikro, pengelolaan lingkungan hidup, pengurangan kemiskinan, perbaikan kesehatan dan program pendidikan pasca-sarjana.

"Kebijakan keamanan makanan (food security) mereka tidak terfokus pada kemandirian, karena mereka masih terlalu bergantung pada bantuan asing," imbuh Deddy.

Kerjasama bidang sosial budaya lainnya, melakukan adanya kesepakatan MOU antara kantor berita nasional Indonesia, LKBN Antara, dengan kantor berita nasional Ethiopia, Ethiopian News Agency (ENA) pada 23 Februari 2005.

Deddy Sudarman adalah seorang diplomat karier yang sebelum menjabat sebagai Duta Besar, diawali dengan penempatan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Bangkok (1982-1986), KBRI Roma (1989-1993), KBRI London (1995-1999), dan KBRI Tokyo (2002-2005).

(T.KR-IFB/S026)

Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2010

Komentar