Analis: Beda dengan bank digital lain, ARTO didukung ekosistem Gojek

Analis: Beda dengan bank digital lain, ARTO didukung ekosistem Gojek

Tangkapan layar - Direktur Utama Bank Jago Kharim Siregar saat memberikan keterangan dalam paparan publik di Jakarta. ANTARA/Citro Atmoko.

Jadi kita kesampingkan hitung-hitungan valuasi PER, PBV, apapun itu. Karena kita bicara potensi ke depan
Jakarta (ANTARA) - Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai, PT Bank Jago Tbk (ARTO) yang didukung oleh ekosistem Gojek, menjadi pembeda bank tersebut dengan bank digital lain di Tanah Air.

Menurut Maximilianus, kenaikan saham ARTO belakangan ini karena ekspetasi pasar ke depan. Investor punya keyakinan kinerja ARTO akan cerah di masa yang akan datang karena didukung Gojek.

"Jadi kita kesampingkan hitung-hitungan valuasi PER, PBV, apapun itu. Karena kita bicara potensi ke depan," kata Maximilianus melalui keterangan di Jakarta, Senin.

Ia mengatakan, ARTO saat ini sudah dimiliki Gojek yang punya ekosistem luar biasa besar. Saat ini, ada sebanyak 40 juta pengguna aktif di Gojek. Potensi pengguna aktif itu sangat besar menjadi nasabah bank JAGO sehingga tidak heran saham ARTO terus melonjak.

Belum lagi ditambah kabar merger dengan Tokopedia. Hal tersebut menjadi landasan kuat buat investor terus berburu saham ARTO.

"Kita tahu Tokopedia punya 70-80 juta user aktif setiap hari. Bayangkan jika keduanya bergabung, kita berbicara bank yang notabene melakukan funding dan lending. Katakanlah ada 100 juta user keduanya yang masuk menjadi nasabah bank Jago, akan sangat luar biasa besar pengaruhnya. Inilah yang membedakan bank Jago dengan bank-bank lain," ujar Maximilianus.

Saham bank yang dulunya bernama Bank Artos itu sempat mencapai harga tertinggi Rp11.375 per saham pada tahun ini dan secara year to date (YTD) sudah naik sebesar 158,52 persen. Dalam tiga tahun bahkan sudah naik 1.461,55 persen.

ARTO mencatatkan saham perdana di BEI pada 12 Januari 2016 lalu dengan harga IPO Rp132 per saham. Direktur Bursa Efek Jakarta periode 1991-1996 Hasan Zein Mahmud bahkan menyebut “ARTO boleh jadi ditakdirkan menjadi distributor harta karun zaman modern".

Secara hitung -hitungan rasio nilai harga terhadap nilai buku alias PBV (price to book value) ARTO tentu sangat tidak wajar, karena sudah mencapai angka 88,32 kali alias sangat mahal sekali.

Nilai PBV digunakan untuk menilai apakah harga dari saham yang ditawarkan perusahaan adalah harga saham yang mahal atau murah. Apabila nilai PBV berada di atas nilai 1, maka sudah dipastikan harga saham mahal, begitupun sebaliknya.

Namun hal tersebut nampaknya tidak berlaku buat Bank digital seperti ARTO. Sampai dengan penutupan perdagangan Jumat (9/4) lalu, harga saham ARTO masih saja naik ke Rp10.025 per saham atau naik Rp125 (1,26 persen).

Pengamat Institute for Development of Economics (Indef) Bhima Yudhistira bahkan menyebutkan bisnis bank tradisional saat ini sudah mulai terancam. Pasalnya potensi bank digital di Indonesia diperkirakan bisa merebut 20 persen-30 persen pangsa pasar bank tradisional dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

Bhima menyebut, segmen yang pertama kali bergeser adalah retail banking dimana sasarannya adalah pinjaman konsumsi, dan modal usaha skala kecil.

"Skenarionya akan garap dua pasar secara paralel, merebut bisnis bank tradisional sekaligus masuk ke segmen unbakable yang selama ini memang belum disentuh bank tradisional. Apalagi di Indonesia masih terdapat 91,3 juta masyarakat yang belum tersentuh layanan perbankan," ujar Bhima.

Faktor kuncinya, kata Bhima, adalah keamanan sistem, bunga yang kompetitif, dan efisiensi biaya operasional. Karena bank digital tidak perlu buka banyak kantor cabang, dan menggunakan teknologi big data hingga kecerdasan buatan (AI). Pemanfaatan big data dan AI bakal efektif untuk melakukan credit scoring atau analisa kredit, penagihan, hingga layanan customer service.

Melihat potensi bisnis bank berbasis teknologi di masa depan, Bhima menganjurkan sebaiknya OJK mendorong akuisisi dan merger bank bank kecil plus startup agar menjadi bank digital. Karena tujuan kehadiran bank digital untuk mendorong persaingan bank yang lebih sehat, sekaligus mengakselerasi inklusi dan literasi finansial.

Baca juga: Akulaku Finance tingkatkan kolaborasi dengan Bank Jago

Baca juga: Pengamat nilai kolaborasi Gojek dan Bank Jago hasilkan bank digital

Baca juga: Gojek investasi di Bank Jago untuk percepat inklusi keuangan

Baca juga: Bank Jago siap mulai ekspansi di semester II-2020

 

Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Transaksi elektronik tembus Rp21,4 triliun per Maret

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar