Rupiah awal pekan diperkirakan tertekan kenaikan yield obligasi AS

Rupiah awal pekan diperkirakan tertekan kenaikan yield obligasi AS

Ilustrasi - Pekerja menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di sebuah tempat penukaran uang di Jakarta. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/wsj/pri.

Kenaikan yied US treasury dan indeks dolar kemungkinan akan membebani pergerakan rupiah
Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada awal pekan diperkirakan tertekan kenaikan imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat.

Pada pukul 10.13 WIB, rupiah melemah 49 poin atau 0,34 persen ke posisi Rp14.614 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.565 per dolar AS.

"Kenaikan yied US treasury dan indeks dolar kemungkinan akan membebani pergerakan rupiah," kata analis Samuel Sekuritas Ahmad Mikail dalam kajiannya di Jakarta, Senin.

Ahmad mengatakan, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun kemungkinan naik ke level 1,68 persen. Para pelaku pasar berekspektasi data Producer Price Index (PPI) AS yang meningkat kemungkinan akan mendorong data Consumer Price Index (CPI) AS dalam beberapa bulan ke depan.

"Minggu ini para pelaku pasar akan menanti data-data inflasi di AS bulan Maret untuk melihat arah pergerakan yield US treasury," ujar Ahmad.

Sementara indeks dolar kemungkinan menguat ke level 92,4 seiring dengan semakin membaiknya data-data ekonomi AS yang kemungkinan mengalahkan laju ekonomi negara-negara Eropa yang kemungkinan akan menekan euro terhadap dolar AS.

Data PPI Maret di AS yang naik 1 persen (yoy) lebih tinggi dari konsensus sebesar 0,4 persen (yoy) menunjukkan semakin membaiknya aktivitas produksi di AS dengan serangkaian stimulus fiskal dari pemerintah federal. Sementara itu Uni Eropa masih berkutat dengan kenaikan kasus COVID-19.

"Kenaikan yield US treasury dan indeks dolar diperkirakan berlanjut dan menekan nilai tukar rupiah," kata Ahmad.

Dari dalam negeri, lanjut Ahmad, minimnya sentimen positif terhadap rupiah kemungkinan mendorong pelemahan rupiah hari ini.

Para pelaku pasar juga akan menanti data neraca perdagangan Indonesia minggu ini. Surplus neraca perdagangan kemungkinan menurun pada Maret menjadi 1,5 miliar dolar AS dibandingkan Februari sebesar 2,01 miliar dolar AS disebabkan kenaikan impor pada Maret.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar dengan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) diperkirakan melemah ke level Rp14.600 per dolar AS.

Pada Jumat (9/4), rupiah ditutup melemah 30 poin atau 0,21 persen ke posisi Rp14.565 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.535 per dolar AS.
 

Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Polda Sumut sita aset bernilai miliaran rupiah dari bandar narkoba

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar