GeNose tetap bisa digunakan bagi yang berpuasa, kata peneliti UGM

GeNose tetap bisa digunakan bagi yang berpuasa, kata peneliti UGM

Calon penumpang meniupkan nafas ke dalam kantong untuk dites menggunakan alat GeNose C19 di Terminal Type A Alang Alang Lebar, Palembang, Sumatera Selatan, Senin (12/4/2021). Simulasi tersebut dilakukan sebagai tahap persiapan pelayanan GeNose C-19 di Terminal Type A Alang Alang Lebar yang rencananya akan resmi beroperasi mulai Senin (19/4). (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/wsj)

Khusus bagi masyarakat yang berpuasa uji napas menggunakan alat itu disarankan dilakukan pada pagi hari
Yogyakarta (ANTARA) - Tim Peneliti dan Pengembangan GeNose C19 dari Universitas Gadjah Mada (UGM) memastikan alat skrining dan diagnostik COVID-19 berbasis embusan napas "GeNose C19" tetap bisa digunakan oleh masyarakat yang sedang menjalankan ibadah puasa.

"Selama bulan Ramadhan GeNose tetap bisa digunakan bagi masyarakat yang memang harus beraktivitas di luar rumah," kata Juru Bicara Tim Peneliti dan Pengembang GeNose C19 Mohamad Saifudin Hakim saat konferensi pers secara virtual di Yogyakarta, Senin.

Menurut dia puasa tidak akan menghambat kemampuan deteksi alat ciptaan para peneliti UGM itu karena di luar bulan Ramadhan pun masyarakat yang hendak menggunakan GeNose diminta berpuasa selama setengah sampai satu jam untuk menjaga kondisi rongga mulut.

"Harus menjaga kondisi rongga mulut dengan menghindari makanan dan minuman terutama yang mempunyai aroma yang kuat supaya hasil tes GeNose membuahkan hasil yang maksimal," katanya.

Meski demikian, khusus bagi masyarakat yang berpuasa, kata dia, uji napas menggunakan alat itu disarankan dilakukan pada pagi hari.

"Lebih baik lagi didahului dengan berkumur atau bisa dilakukan satu jam setelah berbuka puasa," kata Mohamad Saifudin Hakim.

Sementara itu, perwakilan dari tim pengembang GeNose, Dian Kesumapramudya Nurputra mengatakan deteksi COVID-19 dengan GeNose untuk masyarakat yang berpuasa dianjurkan memilih waktu tidak lebih dari enam jam setelah makan sahur.

Apabila lebih dari waktu yang dianjurkan tersebut, katanya, ada kemungkinan gas asam lambung memengaruhi pembacaan GeNose.

Berdasarkan hasil penelitian, kata dia, gas asam lambung bisa memunculkan positif palsu atau positif lemah dari hasil pemeriksaan napas menggunakan GeNose.

Kendati demikian, jika pengambilan sampel napas terpaksa melebihi waktu enam jam setelah sahur dapat diantsipasi dengan berkumur, menggunakan siwak, atau menyikat gigi terlebih dahulu.

"Sehingga gas dari asam lambung itu bisa ternetralisir," demikian Dian Kesumapramudya Nurputra .

Baca juga: Alat deteksi COVID-19 "GeNose" UGM mandapat izin edar

Baca juga: Wapres terima laporan izin edar GeNose dari Menristek

Baca juga: Ponpes Darul Quran Gunung Kidul beli GeNose buatan UGM

Baca juga: UGM minta masyarakat tidak terjebak membeli "GeNose" di toko daring


 

Pewarta: Luqman Hakim
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Cegah COVID-19 dengan sosialisasi GeNose

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar