Olimpiade

100 hari menuju Olimpiade, Tokyo janji serius tangani COVID-19

100 hari menuju Olimpiade, Tokyo janji serius tangani COVID-19

Pembawa obor Olimpiade Tokyo 2020 terlihat melalui pagar kawat saat ia berlari di Expo '70 Commemorative Park tanpa penonton bukan di jalan umum akibat wabah penyakit virus corona (COVID-19) di Osaka, bagian barat Jepang, Selasa (13/4/2021). Kyodo/via REUTERS/FOC/djo (REUTERS/KYODO)

Saya tidak ragu untuk mengatakan bahwa Olimpiade akan berlangsung dan akan menjadi pertandingan yang paling aman
Jakarta (ANTARA) - Gubernur Tokyo Yuriko Koike berjanji akan melakukan upaya maksimal untuk memberikan pengalaman Olimpiade "yang luar biasa," 100 hari menjelang pembukaan perhelatan olahraga tersebut di tengah kekhawatiran yang berkelanjutan atas pandemi virus corona.

"Saya dengan tulus menantikan untuk melihat semua atlet dari Jepang dan luar negeri, yang telah berlatih sangat keras, melakukan permainan yang luar biasa dengan mengadakan acara yang luar biasa dalam 100 hari dari sekarang," kata Koike dalam acara menandai 100 hari menuju Olimpiade, yang digelar pemerintah ibu kota negara Jepang itu, dikutip dari Kyodo, Rabu.

Olimpiade, yang akan dimulai pada 23 Juli setelah penundaan satu tahun yang belum pernah terjadi sebelumnya itu, akan menampilkan lebih dari 10.000 atlet dari seluruh dunia. Namun, untuk mencegah penyebaran virus corona, acara tersebut diatur agar terlihat sangat berbeda dari Olimpiade Musim Panas pada umumnya.

Baca juga: Selandia baru mulai vaksinasi atlet Olimpiade Tokyo

Meskipun penyelenggara Olimpiade Jepang dan Komite Olimpiade Internasional (IOC) telah berjanji untuk memprioritaskan keselamatan, publik tetap skeptis untuk melanjutkan acara yang berlangsung sekitar dua pekan itu dengan pandemi yang tampaknya masih jauh dari kata selesai, dan kebanyakan orang di Jepang belum divaksinasi.

Kasus COVID-19 di Tokyo yang kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir -- kurang dari sebulan setelah keadaan darurat terkait virus corona dicabut -- memaksa pemerintah untuk meminta ibu kota Jepang itu melakukan tindakan protokol COVID-19 yang lebih ketat.

Ketua komisi koordinasi IOC yang memantau persiapan Olimpiade, John Coates, menekankan bahwa Olimpiade akan tetap diadakan pada musim panas ini.

"Saya tidak ragu untuk mengatakan bahwa Olimpiade akan berlangsung dan akan menjadi pertandingan yang paling aman," kata Coates.

"Semua tindakan pencegahan telah dilakukan untuk menangani COVID-19 untuk memastikan bahwa masyarakat, atlet dan semua peserta lainnya aman."

Namun, tidak ada perayaan besar untuk menandai hitung mundur 100 hari menjelang Olimpiade.

Baca juga: Penasihat Olimpiade Jepang desak sedia vaksin untuk atlet

Patung dari dua maskot Olimpiade Tokyo diresmikan pada acara kecil di gedung pemerintah metropolitan, sementara monumen cincin Olimpiade didirikan di puncak Gunung Takao, tujuan hiking populer di pinggiran Tokyo.

"Karena keadaan saat ini, saya mengerti ada banyak pendapat tentang Olimpiade," kata Toshiaki Endo, wakil presiden panitia penyelenggara.

"Oleh karena itu, saya bertekad bahwa kami harus mengadakan pertandingan yang aman dan terjamin."

Penyelenggara telah berjuang untuk mengubah opini publik di Jepang untuk meningkatkan minat pada Olimpiade. Survei Kyodo News yang dirilis, Senin (12/4), menunjukkan hanya 24,5 persen yang berpendapat bahwa Olimpiade harus dilanjutkan pada musim panas ini.

Kirab obor Olimpiade yang dimulai pada 25 Maret menunjukkan betapa sulitnya menyelenggarakan acara besar selama krisis kesehatan global tersebut.

Estafet di Prefektur Osaka dialihkan dari jalan umum, menyusul catatan jumlah kasus COVID-19 yang mencapai rekor. Sebagai gantinya, pembawa obor berlari di taman kosong tanpa penonton.

Baca juga: Kirab obor Olimpiade di Osaka berlangsung di taman tanpa penonton

Karena kekhawatiran bahwa Olimpiade bisa menjadi acara penyebar virus corona, penonton dari luar negeri tidak diizinkan hadir, dan pertandingan hanya dapat ditonton oleh sejumlah orang yang tinggal di Jepang.

Sementara itu, para atlet akan dites COVID-19 secara rutin selama berada di Jepang. Mereka hanya akan diperbolehkan melakukan perjalanan ke venue dan lokasi terbatas lainnya dengan menggunakan kendaraan yang telah ditentukan, kecuali diberikan izin khusus.

Olimpiade, yang digelar di ibu kota Jepang setelah 1964, ditunda pada Maret tahun lalu karena pandemi. Sebanyak 33 cabang olahraga yang terdiri atas 339 pertandingan akan digelar selama Olimpiade yang akan ditutup pada 8 Agustus itu.

Jepang telah mencatat lebih dari 513.000 kasus COVID-19 dan 9.500 kematian karena virus corona. Angka tersebut lebih kecil dari kebanyakan negara ekonomi besar. Namun, total kasus yang dikonfirmasi di Tokyo dengan jumlah dari 126.000 kasus merupakan yang tertinggi di Jepang.

Panitia penyelenggara telah memasuki tahap akhir persiapan Olimpiade. Bulan ini, acara uji coba pertama akan digelar. Panitia juga akan merilis versi kedua dari pedoman COVID-19 untuk atlet, ofisial dan pemangku kepentingan yang terlibat dengan Olimpiade.

Lima badan penyelenggara pertandingan, termasuk IOC dan pemerintah metropolitan Tokyo, berencana untuk mengadakan pertemuan pada akhir April untuk menetapkan arahan tentang jumlah orang yang akan diizinkan memasuki tempat pertandingan.

Penyelenggaraan Olimpiade akan diikuti oleh Paralimpiade yang akan berlangsung mulai 24 Agustus hingga 5 September.

Baca juga: Panpel Tokyo 2020 berencana siapkan 300 kamar hotel untuk isolasi
Baca juga: Olimpiade kian dekat, Tokyo perketat aturan pencegahan COVID-19

Pewarta: Arindra Meodia
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Keppres pencalonan Olimpiade 2032 buat NOC dapat bergerak gesit

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar